Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
71. Mencari Belalang


__ADS_3

Langkahku bergegas masuk ke dalam kelas, seperti biasa dan berbincang -bincang bersama Yuri yang sudah datang terlebih dahulu.


Tidak lama kemudian David juga ikut menyusul masuk ke dalam kelas. Dengan wajah yang dingin dan tatapannya menatapku dengan tajam. Aku memalingkan wajah berpura-pura untuk melakukan sesuatu dengan buku dan pulpen yang ada di tangan.


"Ada apa dengannya, mengapa menatap seperti itu padaku" aku kesal dengan tatapan David. dan aku tidak mengerti ada apa dalam hidupnya sehingga menjadi orang asing seperti ini.


Dia duduk di bangkunya lalu diam sambil menundukkan kepala. Aku tau sekarang dia menjadi salah satu siswa yang terpopuler karena mendapatkan penghargaan sebagai pencetak gol terbanyak. Wajah dan karirnya sangat mendukung sehingga banyak siswi yang tertarik padanya. Begitu juga denganku tapi diam adalah jawaban yang tepat.


*Tettttt* bel sekolah berbunyi. Pelajaran jam pertama dimulai. Saat ini ibu guru menyuruh kami untuk membentuk kelompok dan memilihnya sendiri lalu menuliskan di papan. Masing-masing kelompok berjumlah 4 orang.


"Key dengan siapa" Tanya Yuri padaku. Karena masing-masing dari mereka sudah memiliki teman satu gengnya.


"Sudahlah, kita tunggu yang paling akhir saja" Sahutku dengan santai. Lagipula aku merasa santai dan pasti akan ada kelompok karena jumlah di kelas ini ada 28 siswa yang akan membentuk sebanyak 7 kelompok.


"Ayo keyla, Yuri, David dan Ari kalian tidak menulis kelompok kalian? " Tanya bu guru pada kami. karena hanya nama kami berempat


"Biar saya saja yang nulis" Ucap David dan langsung menulis nama kami ber slmat. Entah kenapa sangat pas sekali kami dipertemukan dalam satu kelompok. Tapi biarlah, yang penting sudha menemukan kelompok.


"Key kita sama David dan Ari. Kenapa bisa begitu ya? "


"Takdir" Sahutku


"Hehehehe" Yuri tertawa kecil mendengar jawabanku.


"Sudahlah, ayo kita bergabung" Kami bergabung dalam satu kelompok yang berisi aku, Yuri, David dan Ari.


Tugas saat ini adalah melakukan pengamatan di luar kelas yaitu tentang jaringan pada hewan. Setiap kelompok diberikan kebebasan untuk berfikir di luar kelas dan akan dilakukan presentasi di minggu depan. Pengamatan ini bertujuan untuk melakukan refresing otak pada siswa agar tidak bosan.


Menurutku pembelajaran ini sangat menarik karena bisa meningkatkan daya pikir siswa agar tidak selalu berfikir dengan tekanan di dalam ruangan setiap harinya. Dengan melihat keindahan dunia luar maka kita akan menjadi senang.


Semua siswa pergi ke luar kelas. Aku, Yuri, David dan Ari berada di taman samping lorong kelas dan duduk untuk mencari informasi. Saat ini tidak ada pembicaraan dari bibir kami. Semuanya diam dan membisu, entah kenapa rasanya sangat canggung untuk berbicara.


"Kalian gak ada yang mau bicara? " Buka Yuri yang menghilangkan kesunyian dalam kelompok kami.


"Kalau tidak bicara, bagaimana kita berdiskusi" Benar juga kata Yuri, kita tidak akan bisa berdiskusi jika semuanya masih terus saja diam. Bahkan tidak ada sepatah katapun dari mulut kami kecuali Yuri.


"Baiklah, aku akan cari hewan yang akan kita amati di taman ini" Sahutku untuk mengambil salah satu tugas agar dapat mempercepat pengerjaan dari tugas yang diberikan.


"Aku kamu key" Jawab David


"Oke"


"Aku disini saja, mengerjakan tentang jaringannya terlebih dahulu" Ucap Ari sambil memegang kertas dan pulpen yang sudah dipersiapkan.


"Aku ikut kamu gimana? " Wajah yuri antusias ingin mengerjakan bersamaku. Karena dia dan Ari saat ini tidak begitu akrab apalagi dengan David.


"Tidak usah, kamu temani Ari saja. Disana banyak kodok" David mencoba menakuti Yuri. Karena dia tau jika Yuri takut dengan kodok.


"Benarkah, gak jadi aku sama Ari saja disini" Dasar David, apa tujuan dia menakuti Yuri sampai dia tidak ingin ikut mencari hewan bersamaku.


"Baiklah kami pergi dulu ya"


"Oke" Jawab Yuri dan Ari secara bersamaan.

__ADS_1


Hari ini aku mengesampingkan ego agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik sebenarnya aku tidak dendam dengan Ari walaupun dia sudah menyakitiku berkali-kali. Aku tau hatinya baik, karena kami sudah bersahabat dari SMP. Aku ingin semuanya kembali, Ari yang dulu, senyum Ari yang dulu dan segalanya tentang Ari.


Aku dan David mencari-cari kumbang atau belalang yang ada di bunga atau di rumput. Melihat-lihat sekeliling dan akhirnya aku melihat belakang hijau yang sedang berayun-ayun di daun pohon kecil.


*blakkkk*


"Aduhhhh" Teriakku dan David secara bersamaan.


Kami terbentur karena sama-sama melihat belalang dan ingin menangkapnya. Akhirnya tabrakan tidak bisa dihindarkan. Kepala kami terbentur hingga terpental, untung saja tidak jauh. Sedangkan tanganku dia genggam dengan erat, masalahnya luka belum sembuh dan David malah tersenyum.


"Aduhhh, sakit vid" Sadarku saat kami saling tatap-tatapan.


"Maaf, maaf key" David segera melepaskan genggamannya padaku. Benar tubuh kami terpental tapi tangan David masih saja menggenggam lenganku agar aku tidak terjatuh.


"Tanganmu belum sembuh ya"


"Belum" Sahutku dengan kesal.


"Sepertinya itu butuh gandengan" Aku menatapnya saat dia berkata seperti itu. Bagaimana bisa kulkas 2 pintu mencair seperti ini. Aku pikir sifatnya yang dingin tidak bisa bercanda seperti itu.


"Ngomong apa sih, lebih baik kita cari lagi belalangnya" Ketusku padanya


"Iya, iya, galak amat sih. Kan aku pingin bercanda" Sambil memanyunkan bibirnya.


"Nah key itu ada belalang, ayo kita ambil" Aku mengarahkan pandangnku pada belalang yang ditunjuk oleh David. Secara diam-diam kami mengendap-ngendap untuk mendapatkannya. David berjalan di depan dan aku mengekorinya,


"Yes kena key" David berhasil menangkap belalang tersebut


"Benarkah" David mengangguk dan menutup tangannya dengan erat.


Bibirku tersenyum saat kami meloncat kegirangan. Karena aku ingat saat terakhir kalinya David meloncat bersamaku dibawah rintik hujan. Dan kali ini dia loncat bersamaku lagi tapi sudah beda suasana.


"David" Aku dan David langsung menatap ke arah suara tersebut. Ternyata dia wanita yang datang dan mengaku sebagai tunangan David saat itu. Dia juga memakai seragam sekolah kami. Hatiku bertanya-tanya tentangnya, apakah dia sekolah disini atau tidak.


"Adel" Ternyata nama dia Adel. David terkejut saat melihatnya begitu juga denganku. Dia berlari ke arah kami dan langsung menggandeng tangan David. Dasar wanita gila, seperti ingin menyebrang saja.


"Kamu sekolah disini? " Tanya David yang heran saat dia sudah memakai seragam sekolah itu.


"Iya, aku sudah memberimu kabar lewat pesan bahwa aku akan masuk hari ini. Tapi tidak kamu jawab" Dia merengek seperti anak kecil saja. Dan aku masih saja melihatnya dengan tubuh yang lemah gemulai. Rasanya ingin mual melihat dia seperti cacing kepanasan.


"Apaan sih, jangan gini malu tau" Bentak David terhadap sifat manjanya yang membuat beberapa teman sekelas kami menatap mereka.


"Ini siapa? " Tanya Adel pada David saat dia melihatku yang berdiri di depannya


"Dia pacarku" Mataku langsung melotot saat David berkata bahwa aku adalah pacaranya. Bibirku membeku dan tidak bisa menyangkal ataupun menerima.


"Apa? Pacar kamu" Teriak adel karena dia terkejut saat David bilang seperti itu. David menjawabnya dengan anggukan sambil memegang tanganku dan lebih tepatnya lenganku karena tangan ini masih terluka.


"Tidak, tidak, tidak. Apa dia yang membuat kamu melawan papamu saat itu? " Aku tidak tau pembicaraan apa yang sedang mereka debat kan dan aku hanya diam sambil mendengarkan. Sedangkan tangan David masih saja memegang lenganku seakan tidak membiarkan aku pergi.


"Jangan bawa nama ayahku disini, lebih baik kamu masuk ke dalam kelas saja" Usir David padanya.


"Kok kamu jahat banget sih, kalau kamu seperti ini aku akan melaporkan pada papamu" Dia mengancam David hingga tidak bisa berkutik. Secara sepontan David melepaskan genggamannya padaku.

__ADS_1


"Bisa nggak sih kamu dewasa" Ucap David dengan tatapan dingin seperti biasa.


"Ini semua gara-gara wanita ini kan" Dia balik menatap padaku. Dirinya angkuh dan merasa paling benar.


"Aduhh, kurang ajar banget kamu" Teriakku saat tangannya secara ringan memukul tanganku yang terluka. Untung saja di taman, kalau saja di ruang tertutup sudah aku pukul habis dirinya.


"Mendingan kamu masuk deh, daripada bikin ribut disini" Dengan keras David melemparkan tangan Adel yang sudah menyentuhku.


Aku tidak tau harus senang atau apa. David peduli padaku, apakah ini karena perannya yang pura-pura saat ada wanita tersebut atau dia benar-benar peduli padaku.


"Hey kalian, kenapa ribut" Salah satu ibu guru datang menghampiri kami karena ulah Adel yang bikin keributan.


Kami bertiga ditegur oleh guru tersebut. Dan yang paling kena teguran adalah Adel, guru itu tidak tau jika Adel murid baru. Dia membentaknya seakan-akan Adel bolos pelajaran. Dan akhirnya Adel masuk juga ke dalam kelas hingga kami berdua menjadi aman disini.


Tapi gara-gara Adel belalangnya lepas lagi. Dasar anak manja, karena dia aku dan David harus mencarinya lagi. Sebelum melakukan apapun, sejenak aku terdiam karena masih kepikiran dengan perkataan David yang berkata pada Adel bahwa aku pacarnya.


"Kenapa kamu bilang kalau aku pacarmu? " Aku membuka pertanyaan tentang apa yang David bilang tadi.


"Karena aku menyukaimu" Dengan santainya dia menjawab seperti itu. Sedangkan dirinya kembali sibuk mencari belakang di bawah-bawah pohon.


Aku terdiam dan tidak tau harus berkata apa. Aku harap David mengatakan hal yang benar. Tapi berharap pada manusia adalah hal yang buruk. Sebenarnya lebih baik tidak saling menyapa bila akhirnya saling meninggalkan, heheheh.


"Apakah kamu tidak bisa berbicara serius? "


"Aku sudah serius menyukaimu, tapi sudahlah sekarang serius mencari belalang" Sahutnya dengan wajah yang sama. Tidak ada senyum atau tertawa sedikitpun. Semuanya terasa datar.


Sekian lama kami berdua mencari belalang, pada akhirnya menemukannya juga. Aku dan David membawanya ke Ari dan Yuri. Ternyata mereka sudah dari tadi menyelesaikan tugas tersebut.


Bahkan mereka berdua juga melihat kejadian tadi saat Adel membuat ulah. Tapi mereka berdua tidak tau jika Adel adalah siswa baru. Yuri langsung bertanya dan aku memberitahu dirinya bahwa Adel murid baru yang pindah ke sekolah ini.


Sedangkan tatapan Ari sepertinya ingin berbicara. Tapi otaknya dengan mudah mencegah Ari untuk berbicara pada ku dan memilih untuk diam seraya membenciku.


"Anak-anak, semua masuk ke dalam kelas karena waktu telah habis" Waktu jam pelajaran sudah selesai, sedangkan kami belum menyelesaikan tentang belakang. Untung saja tugas ini dipresentasikan di minggu depan jadi kami bisa bersantai.


Saat masuk ke dalam kelas, ibu guru menjelaskan bahwa tugas ini harus di ketik dan di persentasikan sebagus mungkin di depan kelas pada pelajaran minggu depan. Berarti kami akan melakukan kerja kelompom lagi untuk menyelesaikannya.


Setelah itu bel istirahat berbunyi. Seperti biasa aku dan Yuri ke kantin. Tapi kali ini aku ingin menemui coach Alam untuk melakukan perijinan bahwa aku tidak sepenuhnya berlatih di sekolah karena sebentar lagi akan berlatih di dalam klub tarkam.


Saat diriku bimbang, aku akan datang pada pelatih terbaik di sekolah ini. Aku lebih baik memilih untuk konsultasi saja pada coach Alam agar mendapatkan jalan keluar terbaik untukku serta tim.


"Yuri aku mau ke coach alamat sebentar ya, nanti aku susul kamu ke kantin. Dan jangan lupa pesankan seperti biasa"


"Oke siap key. Jangan lama-lama" Kami berpisah arah, aku ke kantor dan Yuri ke knatin.


Saat bertemu dengan coach Alam, aku berbicara banyak hal tentang klub tarkam yang akan merekrut ku menjadi pemain inti dengan gaji yang sudah disepakati. Serta meminta saran agar tetap berlatih di sekolah dan membantu untuk memenangkan turnamen yang akan datang selanjutnya.


Coach Alam memberiku saran agar nanti setelah masuk ke dalam klub tarkam, aku harus mengikuti perintah dari pelatih. Jangan pernah membantah apapun itu agar mendapatkan ilmu dan pelajaran yang lebih.


Coach Alam juga mengatakan bahwa pemain terbaik adalah dia yang memiliki jam terbang yang tinggi. Atau lebih baiknya kita bermain daripada harau duduk di bangku cadangan.


"Siap coach, key janji akan memegang semua nasehat dari coach Alam" Ucapku dengan semangat. Dan coach Alam hanya mengangguk saja.


Katanya aku juga harus tetap semangat, dan coach alam juga memberikan keringanan padaku. Boleh berlatih di sekolah atau berlatih di tempat klub yang sedang aku pijak. Coach Alam memberiku keringanan agar perkembangan ku menjadi mudah saat di sana.

__ADS_1


Banyak hal yang harus aku pelajari di luar sana mungkin masih banyak pelatih yang baik tapi menurutku cocah Alam yang paling baik saat menuntunku untuk berlatih fisik, mental dan apapun itu. Dan yang paling aku ingat saat itu adalah menjadi pengambil bola untuk awal mencetak mentalku menjadi kuat seperti saat ini.



__ADS_2