Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
108. Penghianat Tim


__ADS_3

Sejenak aku mengingat-ingat kembali pesan kakek di dalam mimpi. Ada yang jelas dan masih ada yang tersembunyi.


"Lalu tentang kebenaran yang kakek bilang itu apa artinya. Sudahlah,mungkin suatu saat aku akan mengerti" gumamku sambil berjalan ke ruang ganti.


Kali ini aku tidak akan menunduk lesu, tapi harus bangkit untuk menampilkan permainan yang lebih baik. Waktu di babak 2 masih panjang dan harus dimanfaatkan dengan baik.


"Bagaimana bisa permainan kalian sangat buruk seperti itu. Fokus kalian jangan kabur, apa yang ada di pikiran kalian sih" coach Jaka benar-benar marah dengan permainan kami di babak pertama.


Bagaimana tidak, sedangkan permainan yang buruk dan selalu banyak kehilangan bola. Bahkan umpan-umpan yang diberikan pada lini depan tidak di selesaikan dengan tembakan yang baik. Aku juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh coach Jaka.


"Kalian disini itu untuk bermain, bukan berfikiran macam-macam" semua tertunduk lesu mendengarkan pernyataan dari coach Jaka. Wajah mereka juga merasa bersalah atas apa yang telah dilakukan.


Begitu juga aku yang masih berfikir kurang menampilkan permainan sebaik mungkin. Banyak kekurangan yang harus di jadikan renungan serta diperbaiki agar bisa melanjutkan permainan-permainan selanjutnya.


"Ada masalah apa kalian sih, fasilitas? Hah, atau apa?" Bentak coach Jaka pada kami semua. Raut wajah mulai memerah dan membentak kami dengan teriakan kencang.


"Maaf coach, kami salah" jawab Rani selaku sang kapten tim. Dia juga merasa bersalah atas semua yang terjadi di dalam lapangan.


"Sekarang saya tidak mau tau, kalian harus secepatnya kembali ke penampilan semula" Mungkin coach Jaka melihat penampilan yang sangat buruk dari kami sehingga tidak bisa berkata apapun tentang pertandingan babak pertama.


"Baik coach" jawab kami serentak lalu bersiap diri untuk bermain di babak kedua selanjutnya.


Aku menghela nafas diantara tenang dan bingung. Aku juga harus cari cara agar bisa mendapatkan celah mengoper bola dekat dengan gawang agar bisa dilakukan tembakan finishing dengan baik.


"Key, bantu aku untuk menyerang" sang kapten merangkulku untuk meminta bantuan menyerang.


Aku setuju dengan ucapannya walaupun harus bekerja keras dengan gelandang yang ada di sebelah kiri.


Kami semua sudah siap dan masuk ke dalam lapangan. Mengatur serangan yang baik untuk mendapatkan kemenangan. Tidak ada kata patah semangat di otakku, yang ada adalah menyerang dan menang.


*Pritttt* peluit babak pertama dibunyikan.


Kali ini aku tidak hanya bertahan melainkan mencari celah untuk keluar dari pertahanan dan maju untuk menang. Memang sangat sulit, tapi apa salahnya di coba membangun kerja sama yang apik.


"Fokus Key, pasti ada jalan menembus pertahanan mereka" Gumamku sambil mengamati lini pertahanan mereka.


Kali ini bola ada di kaki lawan. Dengan sekuat tenaga aku mengejar saat mereka mendekati ruang pertahanan. Aku tidak peduli beralih arah dan menempati posisi yang lain asalkan aku tetap waspada dan bertanggung jawab dengan posisi asliku.


Aku sudah membangun strategi dengan kapten tim. Dan melakukan formasi yang diajarkan oleh coach Jaka. Maka tidak boleh takut untuk menerapkannya, walaupun saat latihan banyak yang gagal karena pertahanan yang kurang.


*Bluk* bola yang mereka tendang berhasil aku rebut dengan cara mengontrolnya dan berani membawa bola untuk diberikan.


"Yahhh, disana kosong"


Umpan lambung terus aku berikan pada mereka. Tapi masih belum akurat untuk masuk ke dalam pertahanan lawan karena postur tinggi mereka masih mampu menahannya.


"Rani, satu dua" aku memberikan isyarat pada Rani, untuk melakukan umpanan dari kaki ke kaki. Karena umpan lambung tidak begitu akurat menurutku. Aku juga menginformasikan Ani dan Rika untuk konsentrasi dengan melakukan tiki-taka yang kedua.


"Satu dua" teriak Rani untuk memberikan isyarat pada semua pemain.


Bekerja sama dengan gelandang, lalu ke bagian sayap dan tendangan melepaskan ke depan. Aku membawanya lari dan mengoper sana sini bersama penyerang lawan. Memang sempat sangat tertekan karena tidak bisa menembus pertahanan lawan hingga pada akhirnya kami berhasil.


*Bluk* operan yang cantik dari ku membuahkan assist yang mampu diterima oleh Rika dan berhasil mendapatkan gol pertama hingga merubah skor sementara 1-1.


Tidak ada yang tidak bisa, semuanya akan berjalan dengan baik apapun resikonya harus berani keluar dari zona nyaman tapi tidak boleh lengah atas tanggung jawab yang paling utama.


"Gollll"

__ADS_1


"Key, bagus" sang kapten memberikan isyarat yang bagus dengan mengacungkan jempol. Tim kami melakukan selebrasi dalam mencetak gol.


"Bagus, ayo fokus lagi. Jangan sampai lengah" teriak coach Jaka dari samping lapangan.


Pertandingan yang cantik, aku selalu berusaha tampil yang terbaik untuk mendapatkan kemenangan tim. Gagal coba lagi, jatuh bangkit lagi.


"Key tiga" Teriaknya, aku hanya mengangguk dan mengerti.


Kapten tim memberikan isyarat padaku untuk melakukan formasi yang ke 3. Kali ini kami akan bermain dengan terobosan. Kami akan melakukan serangan baru agar tim lawan tidak bisa membaca mode serangan kami.


Dan benar saja kami berhasil menguasai bola dan tidak mudah terlepas. Berani berlari membawa bola ke depan, sekali lagi tidak ada rasa takut walaupun kami kalah tinggi.


Di menit ke 70 kami berhasil menambah gol ke gawang lawan. Lewat umpan terobosan dariku dan berhasil di eksekusi dengan baik hingga menghasilkan gol yang cantik.


"Gollllll"


"Gollll" Teriakan gemuruh ber selingan dengan selebrasi kami. Semua itu menambah semangat kami untuk bermain dengan ngeyel lagi hingga menit akhir.


Pertandingan pertama berhasil kami menangkan dengan skor 1-2 kemenangan bagi tim kami. aku tersenyum lega dan senang dengan semua ini. Apapun yang dilakukan dengan baik dan ikhlas pasti akan membuahkan hasil.


"Permainan yang cantik di babak kedua. Kalian harus mempertahankan permainan ini agar menjadi lebih baik lagi" nasehat coach Jaka saat kami sudah memasuki ruang ganti. Sambil berganti baju, kami duduk dan mendengarkan evaluasi dari pertandingan tadi.


Menyimak kekurangan apapun itu agar bisa lebih waspada untuk menghadapi lawan selanjutnya. Permainan yang cantik dan bagus di masing individu tidak bisa di bilang jantung permainan melainkan jantung permainan adalah semua tim yang terlibat baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.


"Sekarang kalian membereskan semuanya dalam waktu 10 menit dan saya tunggu di bus. Kita semua istirahat untuk menjaga stamina" perintah coach Jaka pada seluruh pemain.


"Siap coach" jawaban yang serentak.


Kami membereskan sisa sampah yang ada serta membersihkan ruangan. Kami datang dalam ruangan dengan keadaan bersih dan pulang juga dalam keadaan bersih. Selanjutnya para pemain bergegas menuju ke bus dan hanya aku yang masih ada di dalam ruang ganti.


"Maksudmu apa key" bentak Bela yang berposisi di gelandang bagian kanan. Dia datang menghampiriku sambil mendorong tubuh ini sedikit hingga aku hampir jatuh.


"Kenapa kamu jarang memberiku bola tadi" pertanyaan yang menarik untuk di bahas.


"Apakah kamu sudah berkaca Bel? Hingga berani menanyakan hal tersebut" sahutku masih dengan santai sambil merapikan tas.


Memang aku sengaja tidak memberinya bola lebih banyak, karena aku memiliki hal lain untuk melakukan hal tersebut. Aku bisa menceritakan ke semua orang tapi aku hanya memilih diam.


"Kalau kamu tidak suka denganku bilang Key" dia mendorongku lagi dengan amarah dalam kepalanya.


"Aku tau jika ayahmu salah satu panitia penyelenggara. Bahkan kamu juga kenal dengan manajer tim itu kan?" Bela terdiam membisu mendengar apa yang sudah aku ucapkan.


Matanya terpaku menatap sembarang arah, bibirnya seketika diam tidak bisa berbicara apapun.


"Jangan kamu pikir aku tidak tau, di hari kedua kamu dan ayahmu bertemu dengan manajer tim tersebut" aku mengetahui semuanya, Bela dan ayahnya mau bekerja sama dengan manajer tim untuk melakukan hal yang buruk agar bisa memberikan kekalahan bagi tim kami.


Pantas saja di awal pertandingan dia sangat tidak bersemangat, bahkan sering salah umpan dan juga sering memberikan umpan pada lawan. Katanya tidak sengaja tapi terus saja berulang.


Coach Jaka juga tidak bisa menggantinya karena ayahnya sangat berpengaruh dalam tim. Karena ayahnya yang memiliki potensi tinggi membawa tim ini bertanding ke luar kota. Serta membantu kami untuk menyediakan fasilitas yang ada.


"Apa kamu mau protes lagi?" Tanyaku padanya yang diam.


"Tapi apakah kamu punya bukti? enak saja menuduh orang sembarangan" bentaknya lagi padaku.


Seakan dia masih paling benar. Dia terus berbicara bahwa akulah yang salah karena telah menuduhnya. Mungkin dia tidak pernah berkaca dalam hidupnya.


"Aku memang tidak memiliki bukti, tapi aku memiliki hal lain yang bisa ditunjukkan ke semua orang" aku tersenyum padanya. Dia diam seketika saat melihatku menunjukkan Vidio dari ponsel.

__ADS_1


"Aku bisa menyebarkannya, tapi aku tidak ada niatan. Aku hanya ingin kamu bermain dengan hati bukan dengan yang lain Bel" ucapku lembut padanya agar dia mau mendengarkan isi hati bukan paksaan dari ayahnya.


"Kamu masih muda, jangan mau di peralat dengan uang. Permainan kamu sangat bagus, jangan diperjelek hanya karena uang" Ketusku.


"Oh iya satu lagi, jangan pernah jadi penghianat tim karena mereka semua akan membencimu" Aku kembali mengingatkannya agar dia tidak mengulangi hal tersebut.


Biarlah ucapanku menusuk dala hatinya. Asal dia mau membuka hati menuju ke satu tempat baru tanpa berbau uang licin.


Aku tidak tau apakah dia mengerti dengan ucapanku atau tetap masih melanjutkan aksinya. Yang penting aku akan terus melawan hal buruk yang akan menghancurkan tim, dimanapun dan siapapun itu.


" Hey kalian, ayo pergi. Coach Jaka sudah memanggil" Ucap Rani sang kapten yang menegur kami berdua untuk segera masuk. Aku bergegas menyelesaikan barang-barangju dan membersihkan sampah serta melihat sekeliling. Setelah ibu berjalan menuju ke bus.


Sambil melewati Bela aku menatpanya. Dia menunduk, entah menyesal atau tidak tapi yang terpenting aku sidah mengingatkan dan mengatakan sejujurnya bahwa uang bukan segalanya.


"Bermaknlah jadi dirimu sendiri, bukan orang lain" Nasehatku sambil menepui bahunya dengan lembut.


Ternyata benar kata coach Alam bahwa aku harus berhati-hati. Karena dalam setiap permainan bola pasti ada saja yang namanya uang licin. Dan salah satunya yang aku temukan saat ini adalah Bela, semoga tidak ada lagi uang licin yang seperti ini kedepannya.


Di Penginapan


Dikamar aku langsung membersihkan diri lalu merebahkan tubuh di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Bagaimana bisa seorang Bela melakukan hal itu karena uang. Padahal ayahnya adalah orang penting yang memiliki banyak harta.


"Apa yang dikejar olehnya ya? " Pikirku bertanya-tanya tentangnya namun tidak ada jawaban.


Aku tidak habis pikir dengan hal tersebut. Awalnya aku pikir telinga ini salah mendengarkan percakapan itu. Tapi saat aku dengarkan lebih lanjut ternyata benar apa yang sudah aku pikirkan.


Andai saja kemarin aku tidak mendengar percakapan itu. Mungkin tim akan kalah karena Bela akan melakukan hal konyol yang merugikan tim. Dan perjuangan teman-teman yang lain akan sia-sia.


"Wah, wah sudah istirahat saja nih anak. Ini aku bawakan makanan dari ibuku" Ani datang membawa buah tangan yang banyak.


Bagaimana tidak, sedangkan orang tua mereka datang dan melakukan pertemuan sambil membawakan makanan.


Sedangkan aku lebih baik memilih istirahat karena tidak mungkin ibu datang karena kesehatan ibu dan juga bapak serta waktu yang dimiliki oleh kedua kakakku sedikit.


"Wuihhh, enak sekali Ani. Bisa kenyang nih aku" sahutku sambil membuka makanan yang Ani berikan.


Nasi Padang kesukaannya serta beberapa camilan. Aku memakan nasi tersebut, begitu juga dengan Ani. Tidak lama kemudian Ira juga datang membawa nasi dan camilan.


Gila sekali kedua teman kamarku, mereka membawa banyak makanan dan kami makan bersama di kamar. Bahkan makanan ringan juga sangat banyak. Dengan senang dan gembira kami makan bersama-sama.


"Aku sengaja bilang ke ibu kalau keluargamu tidak datang untuk menjenguk" ucap Ani saat kami semua sudah selesai makan.


"Terima kasih banyak suhu" ucapku sambil tersenyum pada Ani dan juga Ira.


Kamar kami banyak makanan, hanya aku saja yang tidak membawanya. Makanan itu dari keluarga Ira dan Ani. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang baik. Allah selalu memberikan orang-orang baik di sekitarku. Dimanapun aku berada.


"Ini lagi tambah Key, jangan sungkan"


"Ah tidak, aku tidak sungkan. Kalau perlu aku habiskan semua" Sahut ku.


"hahahaha"


Keakraban di dalam kamar selalu terjalin seperti saudara sendiri. Kadang kami juga berbagi tempat tidur. Secara bergantian kami tidur di ranjang dan tidur di bawah, katanya biar adil. Padahal aku sudah mengalah agar mereka tidur di atas berdua tapi mereka memarahiku.


Katanya kalau hidup sederhana harus di tanggung bersama dan tidak boleh sendirian. Kami juga sering becanda saat menjelang tidur, baru mendapatkan 3 hari sudah terasa dekat seperti keluarga sendiri.


Malam ini aku tidak bisa menutup mata. Memikirkan bagaimana bisa Bela melakukan itu dengan bantuan coach Jaka. Apa yang coach Jaka takutkan hingga tidak bisa mengganti Bela di babak pertama maupun babak kedua. Bahkan terlihat coach Jaka tidak memperdulikan kesalahan yang disengaja oleh Bela.

__ADS_1



__ADS_2