
Berbicara dan bercerita tentang banyak hal pada coach Alam. Rasanya lega sekali bisa berbagi cerita dengan sang pelatih yang selalu kami banggakan. Di lapangan ataupun di luar lapangan.
"Oh iya satu lagi pesan saya, nanti jika kamu sudah berkembang dan menjadi pemain hebat tetaplah rendah hati. Jangan sombong karena di atas langit masih ada langit"
"Baik coach" Nasehat seorang guru adalah nomor satu yang harus di pegang hingga murid tersebut sukses suatu saat nanti.
"Key ijin untuk keluar dulu coach. Terima kasih atas nasehat dan arahannya" Pamit ku untuk keluar ruangan dan menyusul Yuri.
"Sebentar, tanganmu kenapa bisa begini. Saya tidak memperhatikan dari tadi" Ucap coach Alam saat melihat tanganku yang masih di balut perban.
Aku terdiam dan bingung ingin berbicara apa karena tidak mungkin bila aku terus terang berbicara tentang pemukulan ku pada tembok di dalam toilet karena itu menambah masalah.
"Tidak apa-apa coach, cuman latihan boxing saja heheheh" Sahutku bercanda
"Kamu ada-ada saja, cepat obati ya biar lekas sembuh" Ujarnya sambil memegang bahuku.
"Baik terima kasih coach" Aku bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menyusul Yuri di kantin.
Benar juga kata coach Alam, aku bisa berlatih dimanapun asalkan menggunakan hati pasti akan menjadi pemain hebat. Semua tergantung dari diri masing-masing. Walaupun menjadi pemain hebat itu bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian.
Aku berharap tanda tangan kontrak ku nanti bisa berjalan dengan lancar. Agar aku bisa bermain dengan baik di klub tersebut. Semoga saja bisa menjadi pemain tarkam terbaik.
"Hey wanita miskin, jelek dan juga tidak berguna" ejeknya, aku terdiam karena malas mengikuti perkataan kumbang sepertinya.
Saat aku asik berjalan menuju kantin tiba-tiba ada Adel yang menghampiriku dengan kata-kata kotornya. Seakan melihatku adalah iblis yang merebut kekasihnya. Terus saja untaian kata hinaan dia alihkan padaku. Aku hanya diam dan mendengarkan saja. Biarlah dia mengonggong dan aku berjalan meninggalkannya tanpa hiariakn perkataan Adel.
Dia terus saja mengejarku dengan memukul keras punggungku. Padahal sudah dari tadi aku menahan emosi. Tapi dia menyulut api dalam otakku. Aku memejamkan mata agar tidak marah padanya hanya karena seorang David yang direbutkan.
"Kalau kamu mau David, ambillah bawa dia jauh-jauh dariku" Aku berbalik menatapnya, tanganku sudah memgepal untung saja masih bisa di tahan tapi sebenarnya hati ini sudah membakar.
"Sombong banget sih kamu, ingat ya David itu milikku dan gak bakalan menjadi milikmu" Ketusnya semakin menjadi-jadi.
Aku akui Adel lebih cantik dari siapapun termasuk dariku. Karena dia memiliki darah campuran. Wajahnya menjadi idola di sekolah ini tapi sayang hati dan otaknya bertolak belakang dengan kecantikannya.
"Ingat ya, bersikaplah baik dengan orang disini. Karena kamu tidak tau sifat pribumi asli" Ucapku secara halus memberikan peringatan padanya sambil memegang pundak Adel. Dengan kesal Adel menghempaakan tanganku.
Aku tau Adel memiliki darah pribumi, tapi dia tidak tau jika seorang pribumi sepertiku bila disulut emosi bisa bertindak lebih darinya daripada harus banyak bicara.
"Kamu pikir aku takut denganmu, tidak aku tidak akan pernah takut apapun dan siapaun. Termasuk orang miskin sepertimu" Dia terus meracau tidak jelas. Aku pergi meninggalkannya sendirian disana. Biarlah dia teriak-teriak seperti orang gila. Karena kata orang yang lebih waras harus mengalah.
Sesampainya di kantin aku sudah melihat kak Dika yang duduk berdua bersama Yuri. Mereka asik berbincang-bincang dengan ceria. Aku ingin pergi dan tidak mau menganggu nya. Tapi Yuri melihatku dan akhirnya aku menghampiri mereka berdua.
Ceritanya aku adalah obat nyamuk saat mereka berdua pacaran. Tapi apalah dayaku hanya bisa menghabiskan makanan yang telah dipesan oleh Yuri. Fokus pada makanan tersebut seakan hanya ada aku sendiri.
"Bolehkan aku duduk disini" Tiba-tiba David datang menghampiri dan ikut duduk bersama kami. Tangannya memegang semangkuk bakso dan es.
"Boleh kok boleh, sini duduk. Lagian Key tidak ada teman ngobrol tuh" Sahut Yuri sambil menatapku dengan tatapan genit. Aku hanya diam dan melanjutkan makananku.
"Iya key daripada kamu sendiri lebih baik aku temeni kan" Ucap David sambil mencolek ku.
"Terserah" Sahutan singkat seakan tidak memperduliaknnya. Tapi sebenarnya hatiku senang bercampur aduk. Ada kesal, ada senang dan ada apapun itu.
"Tidak, tidak, berdiri. Ayo makan bersama aku di meja sana" Adel yang tidak tau datang dari mana arahnya merengek pada David. Dia menyeret paksa tangan David agar duduk bersamanya di bangku sebelah.
"Apaan sih, aku mau makan Del" Wajah David mulai geram melihat kelakuan Adel yang berbuat semaunya sendiri.
"Tidak boleh, kalau kamu tidak menuruti aku akan menelpon papamu agar nanti kamu dimarahi lagi" Bibir David langsung diam dan ikut bersama Adel. Tapi matanya memberi syarat berpamitan padaku.
Sebegitu takutnya David pada ancaman Adel tentang papanya. Entah apa yang dilakukan papanya pada David sehingga dia tidak ingin menolak permintaan Adel. Baru kali ini aku melihat David sangat nurut dengan seseorang. Dia yang dingin kini menjadi ciut dengan ancaman.
"Aku balik ke kelas dulu ya" Ucapku pada Yuri dan kak Dika karena sudah bosan disini. Lagipula makann aku juga sudah habis.
"Bareng sama aku aja key" Sahut Yuri
"Tidak usah, aku ada kesibukan"
"Sok sibuk, sok sibuk" Ucap Yuri sambil tertawa kecil menaatapku.
Aku pergi dan meninggalkan kantin, kali ini aku ingin sendiri di kelas. Menikmati pikiranku sambil mendengarkan lagu yang aku suka. Atau menggambar taktik bola dengan melihat di internet.
"Woy gila" Dia lagi dan dia lagi. Memang tidak ada kapoknya mereka bertiga. Setiap hari aku harus menahan emosi.
"Mau kemana kamu"
"Bukan urusanmu" Sahutku.
__ADS_1
"Benar perkataanku bahwa Ari tidak akan percaya dengan pembicaraannmu" Omong kosong apa lagi yang akan menjadi bahan pembicaraan Rena. Sepertinya aku sudah sangat malas dengan deretan skenario yang dibuatnya.
"Lalu? "
"Ari akan luluh padaku dan dia akan mendengarkan perkataanku" Dengan bangga dan senang karena dia berhasil menipu Ari untuk menuruti semua perkatannya.
"Oh" Aku sangat malas meladeni omongan dia yang seperti tong kosong. Cantik luarnya, kosong otaknya.
"Kasihan deh, sudah ditinggal Ari dan sekarang ditinggal yu.. . . "
"Aaaaa" Rena belum menyelesaikan pembicaraannya, tanganku sudah ingin menghantam wajahnya.
Untung saja aku hanya menggertaknya saja dan jarak tanganku dengan wajahnya hanya 2 cm saja. Dia dan kedua temannya teriak ketakutan. Wajahnya terlihat pucat karena tanganku hampir sampai ke wajah Rena.
"Untung saja tanganku lesu untuk memukul, kalau tidak sudah habis wajahmu" Ucapku sambil menurunkan tangan dan bergegas pergi.
"Dasar preman, kamu tuh pantasnya jadi preman pasar atau orang gila bukannya disini" Ocehannya membuat telingaku merasa sakit. Aku langsung berbalik arah dan menatapnya kembali dari kejauhan, seketika bibir Rena dan teman-temannya kembali terdiam.
Baguslah mereka diam, berisik sekali padahal omongan yang dikeluarkan dari mulutnya tidak ada yang bermanfaat. Kalau saja aku tidak menahan emosi mungkin wakahnya saat ini sudah babak belur.
Memang paling enak adalah di dalam kelas berdiam diri sendirian menggambar atau menulis tentang bola tanpa harus bertemu Rena dan Adel yang membuat pikiranku berkeliaran serta harus menahan api dalam otak ini.
Sepulang sekolah aku bergegas pergi ke tempat klub yang akan merekrut ku untuk menjadi pemain tarkam. Aku sudah membaca semua kontrak dan mereka memberiku kontrak satu tahun tapi pemutusan kontrak tergantung oleh klub. Apabila permainanku jelek maka klub akan memutuskan untuk berhenti atau meneruskan hingga kontrak habis.
"Semua kesepakatan sudah kamu daca dan setujui, jadi mulai sore hari dan minggu kamu bisa bergabung latihan dengan pemain lain"
"baik Pak, Terima kasih"
Syukur alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Aku bisa mulai berlatih pada sore hari sepulang sekolah dan minggu. Karena dalam waktu dekat ada permainan tarkam khusus perempuan.
Setiap waktu aku berlatih di rumah bahkan juga berlatih di sekolah. Aku teras berlatih secara bergantian, di klub dan di sekolah. Aku melakukan semua itu tanpa lelah untuk mendapatkan ilmu agar nanti bisa menjadi pemain bola hebat dan mempertemukanku dengan ibu.
Pada hari minggu selanjutnya aku libur latihan. Aku, mbak Nike dan mbak Yeni berjalan-jalan ke tempat toko baju yang besar. Sebenarnya bukan untuk membeli baju tapi melihat diskon saja. Sedangkan aku mencari jersey timnas yang bisa diberi nama dan digunakan untuk latihan.
"Wah, itu dia" aku shabat senang karena menemukan sebuah toko yang menjual semua jersey.
Aku memilih 2 jersey dengan nomor punggung 14 karena aku suka dengan Asnawi Mangkualam dan satunya dengan nomor punggung 08 karena itu tanggal lahir ibu.
Aku mendapatkan apa yang aku cari. Nomor punggung 08 aku beri nama Keyla. Kata tokonya bisa diambil 2 hari lagi untuk disablion. Setelah itu aku pergi dari toko dengan membawa satu jersey timnas atas nama Asnawi Mangkualam.
Tidak sengaja aku bertemu dengan Rena. Lebih tepatnya Rena mempertemukan diri denganku dan menghampiri aku yang sedang membeli minum di pinggir jalan.
"Duhhh, orang miskin memang sukanya dipinggir jalan ya besti" Mereka lagi dan mereka lagi yang selalu berbuat ulah. Rasanya dunia ini sempit karena harus bertemu dengan mereka. Aku malas meladeni jadi lebih memilih diam.
"Dia bawa apa ya besti, sepertinya kotak sampah" Dewi langsung merampas kantong belanjaan ku. Dia mengeluarkan jersey itu dari dalam tas belanja yang aku bawa. Mataku melotot kesal pada mereka.
"Ahh benar besti, cuman sampah" Mereka membuang jersey tersebut ke tanah. Aku mengambilnya dengan kesal lalu membersihkan jersey tersebut.
"Kalian mau apa, apa ingin aku hajar" Bentak ku padanya sambil menggenggam jersey ditanganku.
__ADS_1
"Hajar, kamu pikir aku takut? Tidak" Sahutnya sambil memperagakan gaya tinju yang aneh. Sekali hantam mungkin dia akn pingsan.
\*plak\* Rena kembali melemparkan jersey lalu menginjaknya. Amarahku sudah memuncak karena sikapnya.
\*bruk\* aku memukulnya hingga dia tersungkur ke tanah. Dewi dan Puja juga ikut meringkuk sambil menolong Rena.
"Aaa, sakit key" Teriaknya merasa kesakitan. Aku duduk dan mendekatinya dengan tatapan tajam.
"Mau aku hajar lagi? " Tanganku kembali menjambak rambut Rena dengan keras. Dewi dan Puja hanya terdiam dan sedikit mundur
"Ampun key ampun, maafakan aku key jangan pukuli aku" Tidak biasanya Rena meminta ampun seperti ini. Rasanya sangat aneh perilaku dia dan terlihat sangat berlebihan
"Kali ini aku maafkan, lain kali akan aku pukul kalian" Aku melepaskan tanganku dari rambut Rena.
\*plak, plak, plak\*
"Ingat jangan main-main. Dan jangan selalu mencari masalah" Aku memukul pelan pipi mereka bertiga secara gantian. Sambil mengucapkan sebuah kata agar mereka tidak mengulanginya lagi.
Kini aku pergi meninggalkan mereka. Saat menerima pesan dari mbak Nike katanya mereka sibuk mencariku. Lalu langkahku bergegas menuju mereka yang sudah menunggu di luar.
"Darimana saja kamu? " Tanya mbak Yeni sambil memukul kecil kepalaku.
"Ini cari jersey" Aku menunjukkan jersey yang ada di tangan kepada mereka.
"Ku pikir kelayapan gak jelas" Sambung mbak Yeni dengan tatapan menyindir
"Mana ada, ih su'udzon aja" Aku meninggikan suara. Lagipula mbak Yeni gak bakalan marah palingan memukul ku, heheh.
"Sudah, sudha, kalian kerjaannya ribut aja" Tegur mbak Nike pada kami berdua.
"Kan biasanya mbak ikut juga" Sahut mbak Yeni yang membuat mata mbak Nike melotot. Lalu kami bergegas pergi dari tempat tersebut dan pulang bersama menggunakan taksi online.
Sesampainya di rumah, kami memamerkan barang belanjaan pada ibu dan bapak. Mereka berdua tidak tau, padahal kami sudah membelikan baju bagus buat ibu dan bapak. Aku juga membelanjalan ibu dan bapak menggunakan tabunganku saat memenangkan juara 3 dan mendapatkan pemain terbaik di turnamen sebelumnya.
"Dan belanjaan kami yang paling istimewa adalah...... "
"Jeng, jeng, jeng" Kami bertiga menggoda ibu dan bapak karena ingin memberikan kejutan.
"Baju buat ibu dan bapak" Mbak Nike dengan senang hati memberikan bingkisan untuk ibu dan bapak. Wajahnya mereka berdua sangat bahagia saat menerima hadiah tersebut.
Tapi kata ibu tida perlu memberikan hadiah yang mahal seperti ini. Katanya cukup memberikan kasih sayang serta perhatian pada kedua orang tua sudah cukup. Dan yang paling baik adalah berjanji merawat mereka saat hari tua nanti telah tiba.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1