Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
149. Sambutan


__ADS_3

Seketika ruangan yang penuh kebahagiaan karena kemenangan kini menjadi hening. Sonya dan Sela juga ikut mendengarkan dan menatap Lili penuh heran.


Mereka berdua masuk dalam wajah keseriusan. Menatap secara bergantian antara aku dan Lili. Terlihat jelas raut wajah itu menatap heran dan penuh dengan tanda tanya.


"Benarkah itu li? " Tanya Sonya.


"Apa betul yang dikatakan Keyla? " Sambung Sela yang juga penasaran dengan jawaban lili.


Lili terdiam seribu bahasa lalu dirinya mengangguk secara perlahan dan menampakkan wajah dengan rasa bersalah yang sangat tinggi. Aku hanya melihat penyesalan dalam dirinya.


"Kamu... " Aku tau sonya ingin menghardiknya namun aku tahan langkahnya agar tidak menyentuh Lili.


"Kemarilah" Uacapku, dan perlahan Lili mendekat padaku.


Sedangkan Sela dan Sonya sudah terlihat sangat geram. Apalagi taktik di buku itu juga sangat penting di waktu yang singkat dan penentuan, karena semua pemain pasti ingin kemenangan.


"Menagapa kamu melakukan itu? " Tanyaku perlahan dan mendekat padanya.


Lili mundur dan sangat ketakutan, dia tau jika sifatku adalah pemarah apalagi saat dilapangan jika salah satu pemain dilanggar maka ku akan memprotes keras wasit untuk memberi hukuman kartu pada mereka yang berbuat curang.


"Aku..., aku.. . . " Suaranya terbata-bata. Dia berhenti sejenak karena tidak kuasa untuk mengucap nya. Lalu dia terdiam dalam tangisan.


"Aku tau semua itu, aku akan selalu menyayangimu sebagai sahabat dalam tim" Aku memeluknya dan menyeka air mata yang terjatuh membasahi pipi lili.


Aku tau dia sangat membutuhkan uang sehingga berani menjual buku milik David ke pemain lawan. Untung saja saat itu aku melihatnya dan membeli kembali buku tersebut.


Awalnya mereka menolak akhirnya aku mengancam untuk mengadukan pada panitia bahwa mereka bermain curang. Aku pikir mereka belum membacanya dan ternyata mereka telah memotrer dan menyimpan taktik itu.


"Lalu kemana bukunya sekarang? "


"Ada di aku" Sahutku sambil mengambil buku dalam laci.


"Tenang saja, untung sebelum waktu habis aku bisa membaca pergerakan lawan yang menggunakan taktik dalam buku. Ini semua berkat David yang mengingatkan ku"


"David? "


"Iya, pemilik buku ini"


"Pemain timnas? "


"Benar sekali, dia yang merancang buku ini untuk kita pelajari" Sahutku sedikit menjelaskan.


"Lili, jika kamu butuh uang maka bilang padaku. Aku pasti akan membantumu" Aku kembali memepuknya.


Begitu juga dengan Sela dan Sonya juga memeluk Lili tanpa menanyakan untuk apa uang yang dibutuhkan olehnya. Kegeraman dalam diri serta sakit hati yang betcampur kemarahan kini telah luluh, saat wajah Lili terus menangis dengan mengenggam rasa bersalah.


"Makasih key, uang itu untuk pengobatan bapakku yang sakit" Lili menjelaskan semuanya.


Mendadak semuanya kembali senyap. Dia membutuhkan uang untuk pengobatan bapaknya sehingga dia menjual buku itu pada tim lawan.


"Ini aku ada beberapa uang untuk membantu bapakmu, dan sekarang lupakan semuanya karena kita sudah menang" Aku memberikan sedikit rejeki padanya. Beberapa uang yang telah aku ambil dari ATM tadi.


"Ini li dariku"


"Dan ini dariku juga, walaupun sedikit setidaknya bisa mengobati bapakmu" Kami berempat kembali berpelukan dengan harus.


"Terima kasih banyak, kalian memang sahabat terbaik yang pernah aku temui" Ucapnya sambil kembali menangis.


"Besok bawa bapakmu ke dokter dengan uang bonus dan juga uang ini sebagai tambahan biaya" Lili mengangguk dan kami kembali berpelukan.


Akhirnya malam ini bisa menyelesaikan masalah dengan damai. Karena setiap orang memiliki masalahnya masing-masing jadi tidak ada alasan kita memaafkan dan mencari tau penyebab masalah tersebut agar semua berjalan dengan keadaan yang baik.


"Sudah, sudah, ayo kita tidur. Karena besok pagi kita semua akan pulang"


"Betul sekali, ayo tidur". Kami kembali ke tempat tidur masing-masing.


Malam ini aku ingin tertidur dengan pulas. Membangun sedikit bunga mimpi yang ada di dunia nyata. Agar aku bisa memanen sendiri secara bertahap.


Berharap mimpi itu akan ditata rapi dan dapat dikabulkan dengan mudah saat aku membuka mata. Tidak ada yang ingin mimpi itu terpendam, semua orang akan memiliki keinginan yang sama tentang mimpinya masing-masing.


"Mimpimu akan berjalan dengan begini adanya, maka kamu harus bisa menaiki tangga satu persatu agar mencapai puncak yang diinginkan"


"Kakek, benar sekali kata kakek aku akan melakukan itu semua dengan semangat" Sahutku sambil tersenyum sambil menyandarkan kepala ini di pangkuannya seperti biasa.


"Kamu harus tetap menjadi anak baik dan rendah hati ya nak" Nasehat yang lembut bersaaman dengan belaian lembut tangan yang telah keriput.


"Kek, jangan pernah pergi. Karena selama ini aku hanya memiliki kakek disini. Dari dulu aku merindukan kasih sayang seorang kakek dan nenek" Gumamku.


Namun beberapa saat wajah kakek kembali menjadi samar-samar dibawa oleh cahaya yang sangat terang benderang. Lalu perlahan menghilang dan meninggalkanku lagi.


"Kakek, kakek, kakek tunggu. Aku ingin terus bersama kakek"


"Kakekkkkkk"


Aku kembali bangun dari bunga mimpi yang mempertemukan dengan kenyataan lagi. Melihat waktu menunjukkan pukul 03.30 pagi. Aku segera bangun dan pergi mandi untuk menyiapkan diri melaksanakan ibadah.


Di Bus Klub


"Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama"


"Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang membawa piala" Suasana gembira dalam Bus.


Kami sangat senang karena pagi ini pulang dengan membawa kemenangan pertama kali bagi kota kelahiran kami. Sebelumnya tidak pernah ada piala kemenangan masuk dalam kota. Dan sekarang kami yang membawanya pulang.


Piala itu di pegang pelatih dengan bangga, aku juga melebarkan senyum saat melihatnya. Masih tidak menyangka dapat membawa piala ini pulang kembali ke kota kelahiran.


"Lihatlah, banyak sambutan dari beberapa warga kota" Teriak salah satu pemain dengan keras.

__ADS_1


Aku segera mengarahkan pandangan di balik jendela. Sambutan yang sangat meriah dari kanan kiri jalan. Mereka mendengar kemenangan dan meneriakkan tim kebanggaan.


"SELAMAT DATANG DI TANAH LAHIR KALIAN. TERIMA KASIH TELAH MEMBAWA PULANG KEMENANGAN"


Banner sambutan yang sangat besar. Aku tersenyum dengan haru. Lentingan senyum bercampur air mata yang tertahan. Pertama kali dalam hidup, disambut sebagai raja.


"Lihatlah key, sambutan itu sangat meriah" Ucap Sonya yang duduk disampingku.


"Benar, sambutan yang indah dan merasakan rasa cinta dari mereka semua" Aku melambaikan tangan untuk menyapa mereka yang rela panas-panasan menyambut kedatangan kami.


Kali ini kami tidak langsung pulang karena mendapatkan undangan dari bapak walikota. Sesampainya di ruang pertemuan, kami datang dan berbincang-bincang mengenai kemenangan.


"Saya ingin mengetahui keinginan dari kalian semua" Ucapnya di dalam pertemuan ini.


Satu per satu pemain menjawab keinginannya. Banyak sekali keinginan mereka salah satunya ingin bermain di Eropa, di timnas dan di klub kota yang paling mereka impikan.


"Dan bagaimana dengan impianmu nak? " Tanya pak wali kota saat tiba giliranku. Dengan sigap aku berdiri untuk mengungkapkan semua keinginanku.


"Saya ingin menjadi pemain timnas Indonesia, agar nanti saat saya bertanding keluarga lengkap saya menonton dengan bangga walau mereka sudah memiliki keluarga masing-masing" Sahutku.


Suasana yang senang dan penuh tawa kini tertunduk haru mendengar ceritaku. Beberapa dari mereka hanya mengetahui bahwa aku tinggal dengan ibu dan bapak angkat ku saat ini.


Namun mereka tidak pernah mengetahui keberadaan kedua orang tuaku sesungguhnya. Karena mereka sudah senang dengan pasangan masing-masing tanpa menghiraukan anaknya lagi.


"Mohon ijin pak, tapi tujuan yang paling utama bukanlah itu, melainkan membawa nama baik negara untuk bersaing di kancah dunia"


*prok, prok, prok* Suasana sedih mendadak ramai dengan tepuk tangan karena senang mendengar ucapanku.


Memang ada dua tujuanku menajadi pemain timnas serta pemain bola hebat. Yang dapat menyatukan keluarga yang telah pecah serta membawa nama Indonesia di kancah dunia dan bisa bersaing dengan negara lainnya dalam bentuk sepak bola.


"Keinginanmu sangat besar, semoga kamu dapat menjadi punggawa timnas dan berhasil menggapai semua mimpimu. Begitu juga dengan kalian semua" Aku tersenyum mendengarnya.


"Aamiin, terima kasih banyak pak"


Harapanku juga sama agar bisa tercapai semua mimpiku menjadi punggawa timnas Garuda. Melebarkan sayap-sayap yang telah tertidur lama dan kembali terbang tinggi.



Klub Kota



"Terutama saya mengucapkan banyak Terima kasih karena membawa piala dengan kemenangan. Hari ini kita akan memberikan kalian libur selama 1 minggu serta melanjutkan sekolah"


"Siap coach"



Libur yang sangat membanggakan, kami berpisah dan bersalaman pada semua pemain serta pelatih yang mendampingi hingga saat ini.




"Ingat, selama libur tetap asah kemampuan kalian agar nanti setelah masuk asrama lagi permainan kalin tidak kendor"


"Siap coach"



Semua sangat senang dan di jemput oleh kedua orang tua mereka. Aku tersenyum melihat kebahagiaan yang ada didepan mata ini. Sambutan meriah dari keluarga untuk membawa anaknya pulang.



Aku juga sedang menunggu ibu, tidak lama dari kejauhan aku melihatnya. Seorang ibu dengan senyuman bahagia menyambut kedatangan anaknya. Dan senyuman konyol dibalut rindu atas nama sahabat.



"Keyla anak ibu" Teriakan itu melebarkan senyumku yang awalnya lesu.



"Keyyy" Benar saja, keluarga kecilku dan kedua sahabatku datang untuk menjemput. Karena hari ini adalah hari libur jadi mereka bisa menjemputku untuk pulang.



"Ayo pulang" Ajak ibu sambil memelukiu. Begitu juga dengan bapak yang tersenyum bahagia melihat anaknya kembali pulang ke rumah.



Kami menaiki mobil Ari, aku pikir hanya mobil Ari saja ternyata masih ada mobil lain yang berisikan tante Maya dan om Roky. Mereka datang mengikuti mobil ini untuk datang ke rumahku.



"Keyla, keyla, keyla" Aku terkejut saat melihat sambutan yang meriah.



Para warga kampung sudah berbaris menyambut ku. Bahkan tidak lupa tulisan yang terpampang di tugu perkampungan. Kebahagiaan terus datang diberikan oleh sang Pencipta.



"SELAMAT DATANG PUNGGAWA KEBANGGAN DESA YANG MEMBAWA NAMA BAIK KOTA TERCINTA.



(FOTOKU)

__ADS_1


KEYLA ADARA"



"Bu lihatlah, mengapa meriah sekali? "


"Karena kamu satu-satunya anak dari kampung ini yang berhasil membawa kemenangan tim sepak bola putri untuk kota ini"



"Benar key, kamu juga satu-satunya siswi yang lolos dalam bermain di tim kota putri tanpa seleksi melainkan melalui undangan. Serta satu-satunya yang membawa nama baik sekolah" Sambung Yuri bercerita padaku.



Keajaiban benar-benar nyata, secara perlahan semuanya terwujudkan. Tidak ada yang mustahil selama kerja keras itu dilakukan untuk menggapai bintang yang paling tinggi sekalipun.



"Aku akan menyapa mereka bu" Aku membuka jendela dan menyapa para warga.



Setelah itu turun tepat di rumah ibu. Dan betapa sangat terkejut ternyata rumah ibu sudah penuh dengan warga yang ingin melihatku membawa medali kemenangan dan Piala penghargaan pemain terbaik.



Mereka mengerubungi rumah kecil ini dan memaksa untuk masuk serta meminta foto. Hampir saja ricuh, tapi untunglah pak RT datang di waktu yang tepat untung mencegah kericuhan.



"Keylah, boleh aku meminta foto? "


"Boleh" Sahut ku ramah.



Mereka banyak yang datang untuk meminta foto dan meminta tanda tangan. Padahal aku hanya pemain biasa bukan pemain hebat dan mereka meminta foto seakan-akan aku pemain terkenal.



"Aku mau tanda tangannya kak"


"Aku juga"



Bocil-bocil juga tidak ketinggalan dan sangat rusuh. Mereka saling berdesakan dan saling mendorong untuk mendapatkan foto serta tanda tanganku.



"Tenang yah, kalian pasti dapat semuanya" Sahut ku sambil menenangkan bocil yang adu mulut. Untung saja tidak jotos-jotosan.



Tidak ketinggalan pak RT, pak RW serta pak lurah datang untuk memberikan penghargaan dan foto bersama denganku. Katanya mereka sangat bangga karena aku telah membawa nama baik desa.



Mereka juga membawakan hadiah untukku. Sebagai tanda terima kasih karena telah berjuang untuk kemenangan ini.



"Terutama saya mengucapkan terima kasih pada ibu dan bapak saya yang telah merawat saya dengan kasih sayang. Terima kasih juga untuk kalian yang menyambut ku dengan meriah"



Ucapan Terima kasih yang sangat besar pada kedua orang tua angkat ku dan kedua saudaraku serta kedua sahabat konyol yang selalu ada. Dan Terima kasih juga pada seluruh warga kampung atas penyambutan ini.



"Aku mau salaman"


"Kak aku mau tanda tangannya"



Hingga malam tamu tidak pernah sepi, mereka terus berdatangan hanya untuk melihatku dan juga meminta tanda tangan serta foto. Aku sangat tidak menyangaka dengan antusias warga. Padahal aku hanya menang untuk tim kota saja bukan timnas.



Di Ruang Tamu



Semua orang-orang sudah sepi, begitu juga tante Maya, om Roky, Ari dan Yuri. Mereka semua sudah pulang. Kali ini aku tidur di rumah ibu untuk melepas rindu yang lama.



"Bu lihatlah, dia sudah menjadi terkenal" Ucap mbak Yeni saat kami sedang bersantai di dalam rumah.



"Benar, mbak sangat bangga denganmu key. Suatu saat kamu akan menajdi pemain timnas Indonesia" Aku tersenyum dengan percakapan mereka berdua.



"Apakah kalian tau ini semua karena siapa? " Tanyaku dan mereka menggeleng serat saling menatap satu sama lain.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2