Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
8. Aku dan kesunyian


__ADS_3

Pagi bernyanyi bersama cuitan burung-burung kecil berterbangan. Mentari datang menghampiri aku yang masih nyaman tidur di atas ranjang. Seketika mataku terbuka, ternyata hari sudah terang.


Pandangan ini kabur menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Sepertinya aku sudah telat untuk masuk sekolah, jadi biarkan saja. Badanku terasa remuk dan susah untuk digerakkan. Mungkin ini Akibat dari pukulan semalam.


Sedikit demi sedikit aku gerakkan jemari, lalu lenganku kemudian kaki dan lututku secara bergantian. Kepalaku ikut menyusul untuk digerakkan.


"Hmmmmmhuuuu" Menarik pelan-pelan pernafasan lalu membuangnya ke sembarang arah adalah jalan yang terbaik untuk menggapai ketenangan. Setelah tangan dan kaki aku gerakkan, selanjutnya kepala dan badan.


Benturan tadi malam membuat tubuhku rasanya seperti di remas. Bahkan pipi ini rasanya bengkak dan susah untuk berbicara. Darah kering sudah mulai terlihat di wajahku.


Perlahan aku bangkit dan berdiri menuju ke jendela. Tanganku membuka jendela untuk menghirup udara segar meskipun sudah tidak pagi buta. Senyum kepasrahan diri pada sang Pencipta kembali terlukis di seri-seri wajah ini.


Ingin menyerah tapi aku masih di tengah perjalanan. Ingin mengadu pada Allah tapi malu karena terus meminta. Biarlah ini menjadi jalan untuk takdirku yang tidak begitu baik. Tapi setidaknya masih ada syukur yang aku ucap karena masih diberi udara untuk bernafas kembali dan melanjutkan kehidupan selanjutnya.


"Ayo key, kamu pasti bisa" gumamku mencoba menyemangati diri sendiri agar bisa bangkit lagi walaupun di rundung rasa sakit di sekujur tubuh ini.


"Kamu itu kuat, dan kamu hebat. Semangat" mengepalkan tangan dan mengangkat ke atas secara perlahan.


Aku mencoba berjalan-jalan di dalam kamar. Kesana dan kemari untuk melatih kekuatan. Setelah itu melangkah mencari sarapan pagi dengan uang yang aku ambil dari tabungan membeli bola. Mencari makan tanpa harus memasak karena masih lelah untuk aku lakukan.


Biasanya di ujung jalan tempat kendaran keluar masuk, disana terdapat warung Bu Yanti yang berjualan berbagai macam nasi. Seperti nasi pecel, nasi kuning, nasi lemak dan nasi jagung. Disana juga masih banyak beberapa jajanan lainnya tapi aku masih memilih membeli makan seperlunya saja agar uang ini tidak terlalu aku hambur-hamburkan.


"Bu, saya beli nasi pecelnya 1 saja ya" Sambil memberikan 1 lembar uang 10 ribuan. Makanan disini sangat murah-murah karena masih masuk kedalam perkampungan. Nasi pecel bisa aku nikmati hanya dengan 6000 rupiah saja. Dengan sayuran kangkung dan kecambah lalu ditambah dengan lauk telur dadar, tahu dan tempe. Cukup untuk membuat perutku kenyang.


Tapi tidak harus setiap hari aku membeli makan. Karena ibu tidak pernah memberiku uang jajan kecuali pergi ke sekolah. Bahkan hari ini tidak ada uang yang ditinggalkan, sedangkan isi kulkas sudah kosong hanya tinggal 1 butir telur dan 1 tahu saja. Cukup untuk makan malamku nanti. Atau bisa jadi makan malam dan siangku dipangksa menjadi satu.


"Ini nak, satu saja kan?" Sambil memberikan 1 bungkus nasi pecel dan tidak lupa uang kembalinya 4000 rupiah.


"Baik bu Terima kasih" Langkah ini bergegas untuk pergi setelah mendapatkan sebungkus nasi.


"Tunggu nak" Ucap bu Yanti yang terburu-buru mengejarku. Aku langsung memberhentikan langkah dan terdiam di dalam warung.


"Kenapa wajahmu nak?" Ucapnya lirih sambil meraba halus wajahku yang memar.


"Tidak bu, key hanya jatuh kemarin"


"Bohong kamu, pasti karena lelaki yang bersama ibumu kemarin kan" Sudah pasti bu yanti tau tapi dia memilih diam.


Bu Yanti adalah tetanggaku, rumahnya yang berjarak sekitar 40 meter dari rumahku yang menyendiri di ujung desa. Bu yanti juga mengerti kelakuan ibuku yang keluar malam dan pulang pagi.


Bu Yanti tidak pernah berbicara buruk tentang kehidupan keluargaku. Bahkan bu Yanti sering menyapaku walau di desa banyak yang bilang aku anak haram. Bu Yanti juga selalu menghindari bergosip tentang keluargaku yang tidak teratur.

__ADS_1


"Sini duduk dulu" Bu Yanti menarik lengan ini dan menyuruh aku untuk duduk. Ia memberikan segelas teh hangat sebagai penghangat perutku walaupun hanya sedikit. Aku meminumnya secara perlahan, seteguk demi seteguk seakan menghangatkan tubuh dan juga luka ini baik luar maupun dalam.


"Terima kasih bu" Ucapku dengan tatapan sendu padanya.


"Kamu jika ingin cerita, bilang saja sama ibu. Oh iya kalau nanti kamu tidak punya uang untuk beli makan, kamu kesini saja ya" Aku mengangguk malu karena memiliki tetangga baik seperti bu Yanti. Sedangkan aku masih belum bisa membalas apa-apa.


"Sebentar ya" Bu yanti pergi ke dalam dapur, entah apa yang dia ambil tapi aku masih tetap menunggunya. Beberapa lama kemudian bu Yanti membawa sebaskom air hangat dan sapu tangan. Tangannya yang lembut membasuh wajahku yang lebam.


Sentuhan tangan itu seperti seorang ibu yang sedang merawat anaknya. Hal ini yang sangat aku rindukan, sentuhan kasih dari tangan seorang ibu hingga saat ini belum pernah aku rasakan lagi. Bukannya sentuhan kasih yang diberikan, tapi sentuhan petaka karena pukulan amarah dari ibu.


"Terima kasih banyak bu" Bibirku bergetar lirih, tak kuasa mataku mengeluarkan butiran-butiran air bening membasahi pipi. Seketika tanganku langsung memeluk bu Yanti dengan rasa rindu yang paling dalam. Menangis kecil tanpa suara yang mampu membasahi wajahku serta baju bu bu Yanti.


Tangan bu Yanti juga menyambut pelukan ini dengan hangat, ia memelukku bagaikan pelukan seorang ibu sesungguhnya. tangannya membelsi rambutku secara perlahan membuat rasa nyaman tidak di hindarkan. Setelah beberapa tahun aku tidak merasakan pelukan kasih, baru kali ini pelukan hangat kembali datang.


"Sudah nak, kamu tidak usah sedih disini ada ibu" Tangannya kembali mengelus kepalaku dengan lembut. Sentuhan itu membuatku senyummu kembali merekah. Lalu aku melepaskannya dan menyeka air mataku yang sangat banyak. Tidak ingin larut dalam kepedihan terlalu dalam. Aku berpamitan pada bu Yanti untuk pulang.


"Bu, key pulang dulu ya"


"Iya, Hati-hati key kalo nanti ada sesuatu yang kamu inginkan, datang saja kesini ya" Ku raih tangan bu Yanti untuk bersalaman dan berpamit pulang. Tangannya memang kasar, tapi kasih dalam tangannya lembut menciptakan kehangatan.


Kembali aku berjalan sendiri, sunyi baik dalam tatapan ataupun dalam hati. Menggenggam sebungkus nasi pecel yang akan aku nikmati. Sesekali menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menenangkan hati yang tersakiti.


Duduk tenang dan bersantai di dalam rumah. Sunyi tiada bisikan suara sedikitpun. Bahkan senyap karena jauh dari rumah tetangga lainnya. Aku melahap nasi pecel bu Yanti dengan tenang. Menghabiskan suap demi suapan untuk mengisi perutku yang lapar.


Tubuh lemas seketika kembali segar karena sebungkus pecel sudah aku habiskan. Selanjutnya aku bingung harus melakukan apa, karena tidak mungkin aku menjajakan koran atau bermain bola dengan keadaan seperti ini yang belum stabil. Luka dan lebam tidak ingin semua orang mengetahui tentang keadaanku saat ini. Biarlah aku yang merasakan sendiri dan menikmati rasa sakit ini.


Langkah kaki aku gerakkan untuk kembali ke kamar. Membuka laci yang sudah usang tapi berisi memori-memori kenangan. Selembar foto yang sudah usang terlihat menyenangkan. Senyuman ayah dan ibu terlukis indah dan beradu dalam selembaran foto sambil menggendong ku.


Anak kecil mungil berbaju gaun putih yang sangat indah. Si kecil yang lugu, tersenyum tanpa mengerti manis pahit kehidupan seperti sekarang. Si kecil yang tersenyum bahagia tanpa dosa. Kini sudah beranjak dewasa dengan kesendiriannya. Tidak ada lagi senyum ayah dan senyum ibu yang melindungi. Hanya berteman sepi dalam hidup terasa mati.


*duarrrr* petir menyambar saling bersautan.


Kilat mengelilingi semesta yang akan menurunkan hujan. Awan hitam menyelubungi di setiap celah sinar mentari. Sama seperti hatiku yang saat ini gelap gulita tiada lampu dan seakan ingin mati. Rintik hujan turun perlahan membasahi kaca jendela kamar.


Aku pandangi titik-titik hujan yang terjatuh, berharap itu adalah titik harapan untuk memiliki keluarga utuh. Embun meresap diantara sela-sela kaca hujan diluar semakin deras dan menjadi-jadi. Kedinginan meresap dalam pilu. Mataku menatap ke luar jendela yang penuh misteri. Berdoa pada Allah sang Pencipta alam agar melindungi ibu diamanapun keberadaannya.


"Ya Allah ya tuhanku, lindungilah ibu dimanapun ia berada. Jangan biarkan ibu terluka sedikitpun ya Allah" Ku tadahkan tangan untuk memanjatkan doa. Meski ibu memukulku, tidak pernah ada rasa dendam dalam hati untuk membenci ibu. Karena ibu adalah surga yang masih aku miliki walaupun tidak pernah aku merasakan pelukan surga itu hingga saat ini.


Untuk menghilangkan lelah, sejenak aku rebahkan tubuh di atas kasur. Mencoba terlelap bersama deraian air hujan yang turun. Kedinginan meresap kedalam tubuh, mengingat kembali pada saat dahulu ibu membuatkan aku semangkuk mie. Memberiku selimut agar terlindung dari dinginnya hujan.


Bila ada petir, maka tangan ibu yang akan menghalau suaranya untuk masuk ke dalam telingaku. Ibu mencoba bercerita tentang apa yang dia ketahui hanya untuk menenangkan jiwaku yang ketakutan. Setelah itu aku akan terlelap dalam pelukannya.

__ADS_1


Biarlah itu masa lalu, bila aku ingat kembali sangatlah senang rasanya. Namun bila aku ingat dan meresapi, ternyata sampai saat ini rasanya sangat menyakitkan. Karena ibu sudah berubah sikapnya semenjak mengenal banyak laki-laki.


Sambil menggenggam sebuah foto dan memeluk boneka bobo, aku mencoba memaksakan untuk terlelap. Meraih bunga tidur yang aku rasa karena tidak menyakitkan. Dunia tidruku lebih nyaman dibandingkan dunia nyataku saat ini.


"Hai nak, apakabar kamu?"


"Baik kek, kakek siapa?"


"Kamu tidak perlu tau, kamu nanti akan menjadi orang hebat dan banyak orang baik disekitarmu" Aku hanya mengangguk dan berdiam diri duduk di samping kakek itu.


"Tapi ingat, jangan pernah lupa untuk berdoa dan berusaha. Perjalananmu tidak selamanya lurus karena masih banyak tikungan yang begitu tajam serta lembah-lembah curam yang harus kamu lalui" Tangannya lembut mengelus kepalaku. memberikan beberapa nasehat agar mampu ku jalanin kehidupan yang berjalan.


"Maksudnya bagaimana kek? Apakah itu hukuman dari Tuhan untukku? " Tanyaku yang masih belum mengerti.


"Bukan, itu adalah cobaan yang Allah berikan untuk hambanya yang tersayang" Sedikit aku mengerti tapi selebihnya masih belum dapat dipahami oleh pikiranku.


"Sudahlah, tidur yang nyenyak untuk menenangkan pikiranmu karena kamu adalah anak baik" Tangan itu kembali membelai lembut rambutku hingga aku terlelap kembali dalam pangkuannya.


*jenduarrrrrrr*


Suara petir yang melenting di langit mengejutkan. Suaranya menembus dinding-dinding kamarku. Membuat jendela juga bergetar karena suaranya yang sangat keras.


*brakkkk*


Suara petir itu membuat aku melompat dari kasur. Tubuhku terlempar ke lantai yang dingin.


"Aduhhhh, sakit" Luka lebam yang belum sembuh kini ditambah dengan luka lain karena terjatuh dari kasur.


Perlahan aku membuka mata dan pandangan ini menatap ke seluruh sudut-sudut. Mencari sesuatu yang ada dalam benakku dan benar, mencari seorang kakek yang tadi berbicara denganku.


"Kakek, kakek, kakek dimana" Teriakku di dalam kamar tapi tidak ada jawaban dari siapapun. Lalu aku kembali naik ke atas kasur dan mencoba melihat apakah ada luka yang baru lagi. Ternyata tidak ada, hanya saja luka lebam itu semakin cenat-cenut karena benturan tadi.


"Untung aja tidak ada luka lagi, luka lama belum sembuh dan sekarang ingin menambah luka baru, aduhh mana sakit lagi" Gumamku sambil melihat beberapa luka sisa kemarin.


Saat aku sudah selesai melihat bahwa tidak ada luka baru, aku kembali berfikir tentang kakek itu. Bila didengar dari suaranya, kakek itulah yang memberiku nasehat saat di bus halte pada waktu itu. Dia juga datang lewat mimpiku saat mata ini tertidur diantara hujan yang begitu deras.


Tapi pada saat itu hanya suaranya saja sedangkan tadi dia menampakkan wajahnya. Aku tidak tau siapa dia, tapi yang aku rasakan sangat nyaman duduk di sampingnya bahkan hingga terlelap dalam belaiannya. Benar kataku, mimpi itu lebih indah daripada kenyataan yang saat ini aku jalani.


Berharap ibu datang dan memelukku lagi, biarkan ia meninggalkan rasa sakit saat ini. Setidaknya dia akan datang untuk membalut luka yang ia timbulkan. Bila ibu tidak datang, mungkin harap kita belum terkabul karena aku pendosa kecil yang menghiasi masa suram.


__ADS_1


__ADS_2