Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
21. Wisuda yang sepi


__ADS_3

Selanjutnya aku menatap sebuah baju sexy seperti baju wanita yang menggoda lelaki. Sejenak pikir ku melayang, apakah benar jika ibu seorang pelacur? Pikir ku bertanya-tanya tapi hanya sunyi yang menjawab. Lalu aku melihat sebuah foto ibu dengan lelaki tapi itu bukan ayah.


Setelah aku membalik nya, tidak ada tulisan tapi hanya ada alamat yang tidak pernah aku kenal tempatnya. Dan mungkin sangat asing karena aku tidak pernah keluar dari desa. Segera aku menyimpannya di tempat yang aman. Aku berharap bisa menemui ibu di tempat ini. Atau mungkin ibu sengaja memberiku alamat agar dapat menemukannya.


Setelah semua benda aku lihat, ada sepucuk surat yang tertimbun di tempat paling bawah. Aku membukanya dan mencoba untuk membacanya.


***


untuk masa laluku


Aku sudah lelah menjadi pelacur, aku sudah lelah menjadi wanita malam, aku juga sudah lelah menjadi simpanan, bahkan aku benci menjadi wanita penggoda untuk mencari uang. Tubuhku hanya bisa dijajakan demi rupiah untuk aku dan anakku makan. Sekarang aku ingin meninggalkannya. Aku tidak ingin anakku tau bila ibunya seorang pelacur. Aku hanya ingin anakku senang dan menjadi anak baik dimasa depan. Sekarang aku tinggalkan baju ini sebagai tanda bahwa aku tidak menjejaki dunia malam lagi. Aku harap, hilangnya harga diri dimasa lalu maka akan hilang pula masa laluku yang hitam


***


Sejenak aku terdiam setelah membacanya. Ternyata benar kata tetangga bahwa ibuku wanita malam, ibuku seorang pelacur bahkan ibuku adalah kupu-kupu malam yang menggoda lelaki orang. Bibirku senyap tidak bisa berkata apa-apa. Air mata berlinang membasahi pipi.


Sakit rasanya relung hatiku saat mengetahui semua ini. Semua kebenaran tidak selalu indah tapi kebenaran mengajarkan apa yang baik dan buruk untuk ditinggalkan atau dipertahankan. Kakiku terasa lumpuh mengetahui semua. Aku yakin ini surat yang ditulis oleh ibu.


"Tapi mengapa ibu pergi, jika benar ingin meninggalkan masa lalunya makan tinggalkan. Sedangkan aku adalah masa depan bu, bukan masalalumu. Mengapa engkau tinggalkan aku juga disini sendiri" Teriakku dalam rumah.


Aku bukanlah masa lalu ibu, tapi ibu tega meninggalkan aku sendiri. Setelah 2 tahun lebih akhirnya aku tau bahwa ibu mantan pelacur. Tapi aku tidak paham mengapa ibu pergi. Jika memang untuk meninggalkan masa lalunya yang hitam, kenapa harus meninggalkan aku sendirian. Aku selalu di peluk sepi dalam malam atau petang. Mengadu pun sudah hilang arah tanpamu bu.


Aku simpan foto ibu dengan laki-laki yang tidak aku kenal. Karena aku butuh alamat yang ada di belakangnya. Siapa tau aku bisa ketemu ibu suatu saat nanti. Aku ingin bertemu hanya untuk menanyakan kenapa ibu ninggalin aku.




Seminggu berlalu, hari senin besok aku melakukan wisuda kelulusan. Sedangkan aku hanya datang sendiri. Aku tidak mau merepotkan bu Yanti karena dia sendiri lagi membuka warung. Jika bu Yanti datang makan warungnya akan tutup.



Suasana kelulusan yang meriah. Menggunakan baju toga dan dikalungkan medali kelulusan dengan diiringi musik yang melantun damai. Suara gemuruh antara senang dan sedih. Sedih karena perpisahan dan senang karena akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.



Setelah proses upacara kelulusan selesai, semua orang tua sibuk dengan ponselmya masing-masing untuk memotret momen anaknya yang sedang melakukan wisuda. Ada yang foto keluarga dengan senyum yang merekah. Pelukan hangat dari tangan ayah ibunya disambut dengan tawa. Ada juga Ari yang melakukan proses foto bersama dengan ayah ibunya. Sedangkan aku hanya bisa menatap semua ini di ujung sana. Duduk menyendiri sambil meminum segelas air mineral dan sebungkus roti.



"Kamu gak mau foto sama tante" Suara itu memecahkan ketenangan ku yang sedang makan roti.



"Eh tante" Ternyata itu mamanya ari. Dia menghampiriku dan mengajak untuk foto bersama.



Tawaku kembali terlukis dan seakan masuk dalam keluarga Ari. Kami berfoto seperti keluarga yang harmonis. Foto berempat dengan senyuman yang indah. Sekali lagi aku merasakan keluarga lengkao yang diselimuti tawa dan cinta secara bersamaan. Mereka sudah menganggapku sebagai anak sendiri. Bahkan mereka tidak ingin melihat kesedihan dalam raut wajah ini.



"Wah bagus banget fotonya" Foto yang ada dalam kamera selalu dipuji-puji oleh mama Ari.



Padahal foto itu ada salah satu seseorang yang menyusup dalam keluarganya. Tapi senyum yang dia keluarkan seakan tidak ada masalah bila aku masuk ke sana.



"Iya ma bagus banget, apalagi ini nih gaya kamu lucu key" Ucap ari sambil menunjukkan fotoku yang berpose lucu ddengan mereka. Aku hanya terdiam dan tersenyum melihat kelucuan keluarga ini.



"Ini ma, ayah juga fotonya malah menganga"


"Hahahhaha" Mereka semua tertawa dan aku juga ikut tertawa bersama mereka. Indahnya kebahagiaan yang sederhana tapi tidak sempat aku miliki.


__ADS_1


"Hmmm, ari, tante dan om, key mau pamit pulang dulu ya"


"Eh bentar-bentar, jangan pulang dulu karena om mau traktiran" Ucap ayah ari yang mencegahku untuk pulang



"Wah traktiran apa, memangnya ada acara apa nih" Sahut mamanya ari


"Traktiran karena ari mendapatkan nilai terbaik"


"Horeee" Kami semua tepuk tangan dan bersorak gembira.



Akhirnya aku ikut mereka makan di sebuah restoran yang sangat mewah menurutku. Belum pernah aku menginjakkan kaki disini, bahkan suasananya seperti ruangan VVIP. Suasana yang asing bagiku yang hanya seorang anak kampung dan masuk ke restoran mewah.



"Maaf om, tante e... Key gak pantas makan disini karena ini terlalu mewah" tutur ku. lembut menolak mereka karena aku tau diri siapa aku saat ini.



"Aduh key sayang, semua orang itu pantas makan dimana, karena semua manusia sama di mata Tuhan" Aku hanya tersenyum mendengar pernyataan dari mamanya Ari



"Oh iya key, ini aku mesenin kamu makanan yang paling enak disini" Ari menunjukkan gambar menu padaku yang masih bingung cara pelayanan restoran ini seperti apa.



"Mahal banget ri" Suaraku terlalu keras sehingga menarik banyak perhatian dari beberapa orang.



Aku terkejut dan canggung karena harganya yang di luar nalar. Ini juga pertama kalinya aku makan di restoran besar yang terletak di perbatasan kota dan kabupaten. Wajar saja bila aku terkejut melihat semuanya.



"Tidak key, ini memang segini harganya"


"Oh segini ya, soalnya aku sering makan bakso"


"Sudah nak, makan saja dan lain kali tante sama om bakalan ajak kamu lagi untuk bersenang-senang"



"Iya om, tante makasih banyak" Ucapku malu pada mereka yang sangat baik padaku.



Kami berempat langsung menyantap hidangan yang sudah siap dan tertata rapi di atas meja. Berbagai makanan mewah disajikan disini. Aku terharu merasakan ini semua, bukan karena harga makanannya yang mahal tapi karena rasa kekeluargaannya yang mahal dan tidak bisa ditukar oleh apapun.



Setelah selesai makan kami pulang, aku diantarkan oleh mereka menaiki mobil yang biasa menjemput Ari. Awalnya aku menolak karena rasa sungkan yang sangat banyak. Tapi mereka memaksaku untuk ikut kalau tidak maka mereka akan marah. Akhirnya aku ikut mereka naik mobil.



Sesampainya di desa, aku memilih untuk berhenti di tempat persimpangan jalan di perkampungan. Aku beralasan bahwa jalan kerumahku sangat sempit dan kumuh jadi tidak bisa dilewati. Akhirnya mereka hanya mengantarkan ku di persimpangan saja walaupun tadi masih ada perdebatan untuk terus mengantarku hingga rumah.



Pikiran Ari sangat besar untuk mengetahui keberadaan rumahku, tapi aku lebih memilih merahasiakan semuanya. Karena aku takut bila warga kampung akan berkata "jangan berteman dengan anak pelacur" Bahkan itu akan terasa menyakitkan.



"Dadah Ari, om, tante, Hati-hati di jalan" Lambaian tanganku pada mereka yang berlalu pergi.


__ADS_1


Langkahku kini beralih pergi dan menuju ke rumah. Malang sekali nasibku, saat kelulusan SD hanya ibu yang datang, dan ayah sudah pergi entah kemana. Sekarang saat kelulusan SMP ibu dan ayah yang tidak datang. Hanya aku seorang diri, merayakan sendiri, dan bersenang sendiri. Biarlah keterbiasaan menjadikan aku tegar walau hanya berteman sepi yang tidak pernah pergi.



\*klek\*



Aku rebahkan tubuh ini di atas lantai ruang tamu bersama seluruh baju wisuda. Menatap langit-langit yang masih sama tidak pernah berubah. Rasanya aku pingin kerja, tapi tidak mungkin kembali ke jalanan. Sedangkan sebentar lagi aku akan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi harus benar-benar fokus ke pelajaran, apalagi waktu yang dimiliki akan habis di sekolah.



\*tok, tok, tok\* ketukan pintu terdengar dari luar. Sepertinya ada seseorang yang datang. Aku bergegas untuk membuka pintu.


\*klekkkk\*



"Selamat wisuda nak" Aku tersenyum hari saat melihat bu Yanti serta keluarganya menghampiriku. Membawa beberapa bungkus kado yang diserahkan padaku. Katanya ini hadiah wisuda ku saat ini.



"Ibu, bapak, mbak Yeni, mbak Nike" Aku memeluknya seperti keluargaku sendiri.



Kebahagian sederhana inilah yang aku tunggu. Tidak perlu kado mewah, hanya di berikan ucapan selamat saja hatiku sudah bahagia. Kami berpelukan selayaknya keluarga sedarah. Padahal aku hanyalah orang asing bagi mereka tapi mereka menganggapku saudara satu darah seperti keluarga biasanya.



Kami merayakan pesta kecil-kecilan di dalam rumahku. Bu yanti sudah menyiapkan semuanya untuk melakukan penyambutan. Katanya dia merasa bersalah karena tidak datang ke wisuda ku. Tapi dia bertanggung jawab dengan memberikan suguhan sederhana dalam kehangatan keluarga untuk menebus rasa bersalahnya dan berharap hal ini dapat membahagiakanku.



Kami beramai-ramai berpesta, meskipun hanya dengan es campur dan tumpeng sederhana yang bu Yanti buat dengan mbak Yeni dan mbak Nike. Bahkan mereka semua menyayangiku seperti adiknya sendiri. Dan pak Mamat juga menyayangiku seperti anaknya sendiri. Aku sangat berterima kasih pada mereka, yang selalu menganggapku saudara dan menyayangiku walau tanpa ikatan darah. Suatu saat aku akan membalas semua jasa mereka padaku.



"Bismillahirrahmanirrahim, semoga ilmu yang key Terima disekolah bisa dimanfaatkan di masyarakat"


"Aminnn" Pak mamat selalu kepala keluarga, memompin doa untuk dimulainya syukuran.



Doa demi doa dipanjatkan untukku. Setelah itu kami langsung menyantap makanan dengan canda ria. Meskipun tadi sudah makan di restoran dengan keluarga Ari, tapi perutku ternyata masih lapar. Akhirnya aku makan dengan keluarga bu Yanti diselingi canda dan tawa.



Saat semua sudah selesai, mereka pergi untuk pulang. Memberikan selamat dan menyayangiku seperti keluarga sendiri. Lalu aku bergegas membersihkan diri untuk bersantai. Mencoba menghibur diri bercanda dengan langit malam. Tapi kali ini gelap yang datang, bulan bintang tertutup awan hitam. Tapi aku masih setia ada di teras rumah. Hanya sekedar merasakan desiran angin yang sangat tenang.



Lalu aku mengeluarkan sepucuk surat yang diberikan oleh tim klub bola yang akan bertanding antar kota. Dua hari yang lalu, mereka memberiku surat ajakan untuk bergabung ke dalam timnya. Membuka surat itu berisi kontrak untuk bermain bola di tim itu dengan bayaran yang sudah ditentukan.



Akan tetapi apabila ada panggilan dari pihak manapun termasuk timnas, maka tidak boleh datang. Apapun alasannya aku harus ada di tim itu karena sudah terikat kontrak. Aku hanya perlu menandatanganinya, gajinya cukup besar tapi aku tidak akan bisa berkembang jika masuk dalam ikatan tim yang memiliki manajer egois dengan peraturan yang sangat membuat kontroversi bagiku, aku tidak menyetujuinya.



\*krekk\*


Aku menyobek nya menjadi beberapa bagian. Bagiku uang tudaklah lebih penting dibandingkan pengalaman. Tidak penting tawaran itu, yang penting aku bisa bermain dimanapun untuk mengasah skil tanpa ada tekanan yang mengikat bahkan adanya egois yang menghantui.



Aku juga ingin menjadi pemain terbaik, bisa bermain di Timnas agar ayah dan ibu bisa melihatku walau mereka tidak akan mengakuinya. Aku juga ingin menyusul David yang menimba ilmu di luar negeri. Tapi sayang biaya yang tidak cukup untuk pergi kesana. Mungkin bukan hari ini, bisa jadi esok hari dan dilain waktu.


__ADS_1


~~~ BERSAMBUNG ~~~


__ADS_2