Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Sosok Hitam Mengikuti


__ADS_3

Esok pagi. Milen terbangun dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Hari itu memang ia merasa nyaman dalam pelukan Diva. Tapi mengingat sakitnya jika ia harus berbagi, mungkin lebih baik ketimbang Alva mengharapkannya.


"Sesak di sini. Apa ada obatnya untuk menghapus kenangan pahit suamiku. Juga menghapus sahabatku bernama Sea." pikir Melin memegang hatinya terasa benar sesak.


Ia memejamkan mata. Mengucek mata dengan jari lentiknya. Menaruh tangan kokoh itu untuk tidak menempel, ia lalu mengambil jam walker.


Tapi mata Milen tertuju pada ponsel Diva.


"Mas. Ayo bangun, ini sudah pukul sembilan. Apa tidak terlambat untuk ke pengadilan mas?"


"Biarkan pengacara kita mengurusnya. Kita membatalkan semuanya. Aku berterimakasih padamu sayang."


Milen terdiam pias. Ia mengigit bawah bibirnya. Sehingga Diva yang masih muka bantal itu membuat gemas dan menindihnya dengan lembut.


"Mas. Apa yang kamu ingin lakukan?"


"Kisah kita di mulai. Mas harap kamu sabar untuk mengarungi kehidupan bersama Mas. Percayalah mas hanya menyayangi kamu."


Lagi lagi bualan Diva membuat ia terperdaya. Sehingga ponsel Diva yang berdering dan terpampang nama Sea, harus ia matikan dengan membalikan ponsel.


"Mas. Ayo kita harus segera berangkat, jika tidak aku akan kesiangan. Acara kelanjutan S film akan berlangsung. Aku ada di acara nomor urut tiga Mas."


"Baiklah. Tunggu Mas sayang, mas ambil kunci mobil Mas dulu. Bersiaplah, kita sarapan drive true ya."


Milen hanya mengangguk kepala. Ia menatap Diva yang berpenampilan fresh saat ini. Tentu saja sudah tersalurkan dan membuat hari lebih cerah tidak kusut seperti biasanya. Yang Milen pikirkan adalah berusaha tegar untuk berbagi suami. Menjauhi Alva, dan kebaikan kedua anaknya untuk tidak drop jika mereka tahu, kedua orangtuanya berpisah.


"Apa kita bisa bertahan lama mas. Aku tidak yakin dengan emosiku yang labil dan mudah meneteskan air mata. Apa aku sanggup menjadi wanita perfect tersabar mu." benak Milen.


Diva melaju mobil dengan tersenyum. Ia mengijinkan Milen untuk menggapai hobi dan bakatnya. Ia tidak memaksa Milen untuk diam di rumah atau bekerja. Hal itu Diva sadari karena ia ingin Milen tak merasa jenuh dan sepi sendiri saat ia tak ada.


"Mas. Setengah jam lagi. Bagaimana ini, macet lagi?"


"Sabar sayang. Maafkan Mas membuatmu terlambat!"


Milen hanya senyum. Ia memang sangat mencintai suaminya yang berprilaku masih jauh dari pria idaman. Tapi prinsipnya adalah memaafkan dan berusaha menjadi yang terbaik dari wanita yang di jelajahi Diva saat dahulu hingga kini badai menerpa.


"Pahamilah Mas. Aku kembali padamu karena menghindar dari status janda. Aku menerimamu dan memaafkan, adalah salah satu cara untuk kedua anak kita bahagia tak menjadi korban. Dan prinsipku adalah satu kali menikah seumur hidup."

__ADS_1


"Sayang. Kok bengong? Benarkan Mas bilang. Jalan tikus berguna. Kita sudah sampai."


"Aah. Terimakasih Mas, aku pamit. Jangan lupa kabari aku. Tetaplah bersikap baik pada Sea. Aku takut kandungannya memburuk jika kamu abaikan!"


Meski batin Milen mengatakan tak sebanding. Ia berharap Diva sadar jika mempunyai dua wanita di sisinya. Tidak akan cukup membuatnya bersantai. Nafas dan lelahnya jauh lebih berat dari perusahaan koleps.


"Terimakasih sayang. Much." kecup kening Milen kala itu.


Milen berjalan melewati celah pintu kaca tak terlihat bagai udara. Ia melewati anak tangga jalan dan masih memikirkan Sea, dan melihat bayangan hitam mengikutinya seolah berbisik.


'Apa aku perlu membalas dendam untuk mereka Milen?' suara tak kasat itu membuat Milen segera acuh, berusaha agar mereka yang sadar jika Milen benar benar tidak melihat keberadaan mereka lagi.


"Sea. Aku lebih tau siapa kamu, aku akan mencoba untuk tegar melawan akan sikap egoismu. Sehingga kita bisa melihat siapa yang mengalah dan bertahan. Aku harap kamu tidak melibatkan anak anak, semua bisa saja aku dendam dengan bantuan mereka yang tak terlihat, tapi aku takut kehilangan orang yang aku sayangi.' batin Milen.


Tlith! Dering ponsel, Diva pun mengangkatnya.


"Mas. Apa maksudmu, kamu tidak jadi menalak Milen?" tanya Sea, dalam panggilan telepon.


***


Sementara Diva memutar mobil, ia ke kediaman Sea tak jauh dari kantor Milen bekerja. Hingga ia memutuskan berbicara pada Sea agar ia paham dan mengerti.


"Aku sudah putuskan. Aku akan bertanggung jawab padamu dan anak kita. Milen tetaplah istri sah ku. Aku ingin kamu tetap baik padanya Sea!"


"Tapi Mas. Kamu sudah sepakat untuk kita.."


"Sea. Kamu dan Milen berbeda, kamu harus tau posisimu. Aku berhak memutuskan, tidak ada lagi penekanan permintaanmu. Lagi pula kau dan Milen tidak satu atap."


Diva seolah egois meninggalkan jas. Dan membersihkan diri. Sea begitu kesal karena Diva lagi lagi mengingkari janjinya. Tapi saat ini ia akan mencari siasat agar Milen tak tahan untuk berbagi suami.


Di luar prediksi Sea memutar cara agar Diva tak mempunyai banyak waktu pada Milen.


"Baiklah. Milen kita lihat siapa yang akan bertahan lama. Aku pastikan waktumu bersama Diva selalu terganggu." lirih Sea menatap cermin.


Sementara di berbeda tempat. Acara di mulai. Milen segera menjabat tangan setelah memberi wejangan. Lalu pak Ale memanggil seseorang untuk mengenalkan Milen pada seseorang yang berpengaruh selama project berlangsung.


"Milen. Silahkan rileks. Duduklah dengan tenang. Saya akan memperkenalkan seseorang yang tak asing."

__ADS_1


"Ya pak. Terimakasih saya merasa terhormat." balas Milen.


"Nah ini dia. Kebetulan produser yang bekerjasama berada di Seol. Sehingga ia meminta sahabat rekan bisnisnya untuk menghandle selama dua pekan."


Milen menoleh ketika seseorang mengetuk pintu. Pak Ale memanggilnya Tuan Hari.


"Apa tuan Hari. Tapi pak dia itu namanya adalah.." Milen berusaha mengelak.


"Ya. Saya tau, tapi saat ini saya ada di belakang layar untuk tidak boleh ada yang memanggil nama asli. Kalau begitu panggil saja Hari. Atau Tuan Ha .. !"


"Tuan Ha. Ba- baiklah itu tidak masalah. Hanya saja nama itu bagai nama pengacara saya."


Selama beberapa jam. Tak lama pak Ale meninggalkan mereka berdua di ruangan private. Milen ketika menegaskan jelas alur dan sisi cerita tokoh yang harus di dalami.


Tiba saja terdiam ketika Alva profesional saat bicara padanya. Hal itu membuat Milen tidak gugup dan tidak membuat masalah.


"Oh tidak. Bukan Alva. Tapi Tuan Ha." pekik


Milen memejamkan mata karena lucu. Sementara Tuan Ha sedang memberi wejang pada semua kru untuk meminta artis holly bekerjasama dengan baik. Agar segalanya cepat selesai dan berakhir sukses. Bisa begitu, bagi Milen Hari adalah pengacaranya, tapi tak sangka terlibat dalam project milik Alva, atau mereka saudara sepupu, benaknya.


Acara berakhir. Milen segera menatap sebuah naskah yang harus ia pelajari. Karena ia lagi lagi harus berhadapan dengan seorang artis holly yang angkuh. Sehingga memang terlihat cocok untuk peran tokoh utama.


"Milen. Tunggu saya sebentar!"


"Ya. Tuan Ha, ada hal lain yang harus saya siap kan lagi?" tanya Milen berusaha profesional pada Alva yang menyamar nama menjadi Hari.


Hal itu ia sadari untuk tetap asing pada kisah nama Alva. Sesuai janjinya pada Ummi dan Abie Abi. Tak lama, benar mereka datang, duduk dekat Milen seolah mengawasi.


"Bisakah kita untuk.... kita."


"Soal apa. Jangan bahas masalah kita lagi Alva..." tertahan kala Milen berbicara menatap Alva.


Milen terdiam ketika seseorang wanita menatapnya dengan senyum licik. Memegang ponsel seolah sedang merekamnya dan ia takut di edit tak sesuai. Sehingga pembicaraannya beberapa menit lalu, Milen takut di potong dan di rekayasa.


"Hahahaha. Kamu yang memulai denganku lebih dulu Milen." tawa seorang wanita tak jauh kala itu, dibalik pintu.


Milen yakin saat Alva mendekat berbisik, Sea juga membuat ulah.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2