Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Kembali Ke Dunia Berbeda


__ADS_3

Roh dan Jiwa Milen benar benar tidak ada di dunia, ia kembali ke dasar ingatan pertama kalinya bertemu Brian, dimana ia ingin melupakan sosok Diva yang sudah ada wanita lain, jadi mungkin dengan kembali membuka mata batinnya, hidupnya akan terbiasa.


Dan kini, Milen terbangun, entah kenapa ia sadar sudah berada di ruang uks. Tatapan Ika yang khawatir pada Milen, memberikan minuman hangat dan sebuah minyak angin.


"Lo kenapa Mil?"


"Gue, gue dimana?" ujar Milen.


"Ya elah! nih cewe gila lagi, itu yang bikin gue ga suka satu group ama nih cewe dari kelas bawah." ujar Brian angkuh.


"Cukup Brian!" pinta Ika.


"Sorry ya, gue ngerepotin kalian ya. Gue ga kenapa kenapa kok, mungkin gue aja yang capek." umpat Milen, yang baru sadar apa yang ia lihat dan tidak logis jika dipikirkan.


"Anjay bulu ketek. Astaga, bau bat dah. Apa gue ngompol lagi," ucap Jat, sambil memastikan apakah celananya basah lagi. Sebab jika tegang atau insecure, bau pesing di area sela Jat pasti tercium. Pertanda dia ngompol. Pandangannya dialihkan ke bawah.


"Ah kagak lah. Mana ada gue ngompol." Pandangan Ton dialihkan lagi ke depan, sembari dia mengendus ngendus. Ada sesuatu yang tidak beres dengan penciumannya seperti pesing tapi berbau amis, sehingga Ika dan Milen menoleh pada pria berisik dibelakangnya.


Milen mulai merasakan hal aneh, di jendela uks. Terlihat wanita itu lagi dan Milen berkeringat dingin menutup mata, ia berusaha bicara dengan batinnya. Tidak ingin berurusan dengan mahluk tak kasat mata.


Saat Milen mengangkat kepalanya, air yang jatuh di kepalanya itu mengalir ke batang hidungnya. Milen merasakan amis yang benar benar amis. Sontak dia menjulingkan mata, benar saja, air yang mengalir di hidungnya itu berwarna merah kehitaman hitaman. Milen mulai berteriak tidak berbunyi dan melupakan temannya yang melihat Milen terlihat aneh saat itu.


"Mil, lo kenapa?" teriak Ika seolah Milen tak mendengar, dan ia seolah berada di alam lain dan ruangan gelap tanpa teman temannya hadir seperti tadi.


"Astaga!" kejut Milen. Dia mengusap cairan itu. "Darah?" Kepala Milen seketika terasa besar, bulu kuduknya mulai meninggi. Ia berteriak dan pergi tanpa memperdulikan temannya yang berteriak memanggil Milen.


Suasana mulai mencekam. Jalanan benar benar sepi, toko toko dan rumah rumah sudah tertutup. Sedang perjalanan Milen masih jauh. Lampu jalan itu berkedap kedip.

__ADS_1


"Hihihihi." Teriakan itu berasal tepat di atas Milen.


Sontak Mendongak mendongak, "Aihihihi ... eh aihihihi." Milen berucap latah.


"Haduh, Mbak Kunti 'ngapain di situ woy, huweee. Nanti jatuh loh. Mending antum terbang aja huweee," histeris Milen, tak bisa bergerak. Kakinya bergetar hebat kala akar pohon kembali melilit kakinya.


"Hm." Terdengar suara gumam serak basah dari arah samping. Tampak sosok berwajah hancur dengan belatung yang menggeliat. Rambutnya panjang dan perutnya rusak, lidahnya menjulur melilit wajahnya.


"Eeheheh. Ada tetangganya lagi. Jangan gangguin gue terus napa sih. Kenapa bawa bawa wanita punggung tutup botol besar sih." Raut wajah Milen tampak memprihatinkan.


Saat itu Milen tak tahu harus berbuat apa. Di atas kepalanya ada Mbak Kunti sedang di samping kanannya ada Mbak tutup botol besar. Sementara keringat mengucur sudah hampir banyak menguasai dan menguras tenaganya. Setiap kali Milen melihat dan mereka ingin berkomunikasi meminta pertolongan, Milen menolak dan itu butuh tenaga yang sangat besar bagi seorang indigo.


Milen pun memperkuat niatnya untuk lari saja dari tempat itu. Dia tak memedulikan Mbak Kunti yang asyik tertawa di atasnya. Sontak saat dia berpaling pandang dari mbak tutup botol besar, mencoba mengambil aba aba ke depan dan lari. Tiba tiba ada sosok yang muncul dekat sekali dengan wajah Milen.


Wajah sosok itu hancur dan berbau busuk. Tali kafan yang begitu panjang mengikat leher dan atasan kepalanya hingga membuat kepala sosok itu tampak terbentuk. Raut wajahnya tak bisa diterka Milen. Entah dia sedang tersenyum atau geram. Matanya hilang dan mulutnya juga sedikit hancur. Jadi Milen begitu bingung, harus menyapanya dengan bagaimana.


"Eh ketek bau. Haduh, tetangganya si Mbak Kunti yang satu muncul dah, sueee!" Milen hanya bisa berteriak dan nangis. Kakinya bergetar sangat dahsyat. Ingin pingsan, tapi tak bisa.


"Hmmmm...!" Sosok itu bergumam.


"Eheheh iya, Ngkong Polong eh kok Polong sih. Duh nih mulut." Milen memukul mulutnya yang gugup.


"Pocong!" Sosok itu bersuara serak dan samar.


"Eheh iya, Ngkong Bolong, eh kok Bolong sih!" Milen salah mengucap lagi. Tangannya mulai lemas dan kakinya tak berhenti bergetar, karena wajah sosok itu hanya itungan lima centi.


"Pocong!" Sosok itu mengulang ucapannya.

__ADS_1


"Eheheh iya, Ngkong Potong! Haduh kok Potong sih." Milen menepuk jidatnya.


"Dahlah, pensi aja jadi pocong!" ucap sosok itu dan langsung mengilang.


Ketegangan Milen perlahan reda. Pocong itu tiba tiba menghilang dari pandangannya. Namun, masih ada Mbak Kunti yang cengar cengir dan Mpok tutup botol yang tatapannya begitu sinis menyisir rambut gimbalnya. Sementara orang yang dilihatnya tadi duduk di bangku jalan, menghilang.


"Kabur aja dah!" Milen lari namun, kakinya langkahkan sangat cepat oleh tak kasat mata.


Milen kembali berlari, ia bingung kenapa hantu di gedung itu sangat sering mengganggunya. Hingga dimana ia terhenti disebuah taman, cuaca alam sudah kembali nyata tidak remang. Bagai rumah kosong tanpa lampu, kini kembali berada di kediaman Milen dan saat itu juga Milen melihat sang nenek sedang menyapu pekarangan rumah.


"Milen, kamu udah pulang nak? dari kemarin kamu ga pulang. Nginep di rumah Ika lagi?" ujar Nenek Kari.


"Nek, aku enggak pulang dari kemarin. Terus kok nenek bilang aku nginep di rumah Ika?"


"Nenek cuma mikir aja, tumben kamu ga kabarin nenek mau nginap di rumah Ika. Tapi untung aja Ika hubungi telepon rumah, emang kapan kemahnya Mil?"


Milen mengambil sapu ijuk dari tangan nenek. Hal itu juga membuat Milen bicara panjang lebar apa yang ia alami dan tidak logis bagi manusia normal yang tidak percaya padanya. Bagi Milen seorang indigo sejak lahir dari temurun nenek moyang, tidak perlu mengatakan ia seorang indigo. Dan tidak perlu berbicara mereka berbeda, hanya saja penglihatan tak kasat mata harus Milen jadikan iman yang kuat agar tidak terjerumus semakin jauh.


"Ini kalung pelindung nenek moyang, bagi sebagian orang ini akan terlihat sirik dan tidak bagus. Tapi bagi seorang keluarga berbeda seperti kita, bagai kutukan itu adalah kamu harus kuat dan membantunya Mil, agar lepas dari mata hal aneh." jelas nenek Kari.


"Jadi Milen harus bantu mereka yang datang, karena mereka tahu kalau Milen bisa melihat mereka?" ucap Milen lemas.


"Iya ndok. Shalat ndok! mohon perlindungan sama gusti Allah swt. Manusia lebih tinggi derajatnya, tapi sebagai makhluk kamu harus memilih mata batinmu terbuka, jika Hantu yang kamu tolong bukan hantu jahat. Tapi tersesat." ucap nenek.


Milen lagi lagi terdiam, ia kembali mendapat telepon dari seseorang. Dan meminta izin sang nenek untuk mengangkat telepon.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2