
Di Satu Sisi Lain, Shi terlihat geram. Dimana ia mendapat kabar dari asisten rumah tangganya, jika sang papa pergi ke Swiss, dimana bertemu Azam.
Shi mengeratkan genggaman tangannya tidak terima. Hubungannya dengan Azam masih belum berakhir, Shi merasa tetap ingin memiliki Azam, dengan cara baru, yaitu ia berobat ke negri tetangga, untuk bisa sehat dan mempertahankan Azam utuh harus menjadi miliknya lagi. Shi harus mempertahankannya, karena Azam adalah pria yang ia cintai.
Shi juga menyesal dengan kecerobohannya dimasa lalu yang membuat Shi dan Azam bersatu karena tidak saling cinta, Shi berharap seperginya dan kembalinya menumbuhkan rasa cinta Azam untuknya.
Jika bukan karena penukaran minuman itu, dan skandal dia merubah posisi Reina dengannya, mungkin Azam tidak akan membencinya seperti saat ini.
Shi pun masuk ke kamar Azam. Entah, Shi tidak tahu kesialan macam apa ini yang membuat terpuruk, setelah di tinggal Azam, bahkan papanya kini acuh seolah tak anggap dirinya putrinya sendiri. Tapi sejak ingat perkataan dirinya hanya anak pengganti, Shi tidak ingin dirinya benar benar tergeser, ia harus mencari bukti dan mungkin siapapun anak asli Alva, tidak bisa menyaingi dirinya yang sudah ada lebih dulu.
"Bi, papa bilang ga pulang kapan?"
"Enggak non, setahu bibi dari asisten Heru, dia mau ketemu tuan Alva dan non Reina, katanya disana ada salah satunya anak yang hilang bersama mereka."
"Apa..? jika bukan Azam, apa jangan jangan .."
Shi pergi, meraih tasnya. Bagusnya seorang asisten itu bisa diandalkan untuk menjadi telinganya, sehingga Shi kembali memberikan beberapa uang lembar, dan meminta sang Irt itu, mencari sesuatu yang menguntungkan bagi Shi, meski hanya sekedar informasi.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bersama. Jika aku tidak bisa mendapatkan Azam, maka Reina juga tidak boleh!" kata Shi dengan seluruh tekadnya. Ia membenci Reina yang hadir ditengah-tengah hubungannya.
"Papa, kau harus sadar sekarang. Azam memilih Reina, papa harus menerima kenyataan ini jika salah satu kenyataan Reina akan lenyap sebentar lagi, lalu nikahkan Azam denganku. Karena aku putri papa juga bukan? Hahaha. Biarkan kami hidup bahagia bersama!" kata Shi dengan wajah seringai saat menyetir mobil.
"Kenyataan?" tanya Shi, yang masih belum menyerah akan cinta sepihak nya.
"Hubungan kalian adalah hubungan palsu yang akan berakhir suatu hari nanti. Reina harusnya tidak ada, tidak ada dalam dunia keluargaku adalah hal bagus, atau mungkin aku merubah wajahku seperti Reina, sementara dia akan aku buang ke jurang, dan aku sayat semua wajahnya." benak Shi yang muncul ide jahat.
__ADS_1
Shi memakai earphone, meminta seseorang memesankan tiket ke swiss, dan memesan hotel dimana itu dekat dengan villa kediaman Azam, karena Shi tahu dimana Azam beristirahat selepas tugas. Jika Azam bahagia adanya wajah Reina, maka kenapa tidak Shi membuat rencana kejam, setidaknya perhatian papa Alva dan Azam akan berakhir baik padaku, meski aku berada dalam wajah Reina yang aku benci.
***
BERBEDA DENGAN REINA
Kedua anak anak Reina terlihat di ajak bermain bersama Heru, dan Alva. Dimana mereka akan mengadakan resepsi, beberapa minggu lagi. Akan tetapi, dimana saat ini Reina dan Azam sepi di tinggalkan anak anak, dimana ayah yang Reina cari, kini sering mengajak kedua cucunya melihatkan saham, dan bisnis pada dua bocah itu.
"Apa tidak keterlaluan, jika ayah Alva mengenalkan pada relasi, dan bisnis di usia Kanya dan Bima masih balita?" Reina kebingungan.
"Jangan risau sayang, mungkin itu bukti cinta ayahmu. Aku sampai terkejut, ketika perlakuan ayahmu kembali baik padaku. Lagi pula, kita akan bersiap menemui ibumu, untuk resepsi kita berlangsung bukan?"
"Ah, benar. Kalau gitu aku siap siap dulu ya Ken."
"Apa ..?"
Azam menarik tangan Reina, dimana sepasang bola mata dekat dan menatap.
Cup. Kecupan pada jenjang lehernya membuat Reina geli.
Reina pun berdiri dan meninggalkan Azam sendiri. Ia berlalu dengan menggerutu. Sejak kapan suaminya semakin kriminal, bahkan menjadi agresif sekali. Bisa bisanya dia terang terangan begitu padanya saat ini.
Namun bajunya tersangkut, dimana mereka saling menatap. Reina mendekat dan merangkul ranum Azam kala itu, dimana Reina yang bingung. Azam tanpa aba aba mengecup ranum bibir Reina, membuat jantung Reina berdegub dan tak karuan.
Mereka berada dikamar, dengan tirai begitu saja menggulung mereka berdua yang asik meluapkan syahdu dan saling menatap, bahkan nafas mereka tersenggal di dalam tirai yang menggulung mereka.
__ADS_1
"Ah! apa kamu ingin lebih?" bisik Azam menelisik rambut Reina.
Tanpa ragu, Azam mengeratkan pelukan, dimana dalam hordeng yang tertarik ke kiri dan kanan, membuat Reina sulit bernafas, apalagi Reina sudah terhipnotis kala Azam mahir dalam membuatnya berdetak.
Cup!
"Sebelum pergi, kita harus buatkan adik sayang! apalagi, rencana kemarin sore kita sempat tertunda bukan?"
"Dasar suami nakal." desis Reina, tanpa aba aba Azam sudah membuat Reina nampak lemas dan mereka sudah tak bisa dipungkiri, layaknya pasangan halal, sebelum berpergian Azam meminta vitamin dari sang istri.
Selang beberapa jam, Azam dan Reina bersiap untuk pergi. Dimana mereka akan bertemu kedua anak anak dan ayahnya di satu tempat, degub Azam pun semakin berdetak. Jika kenyataannya bu Milen akan marah, jika kelak kedatangannya bersama Reina, ada Alva. Dimana satu keluarga akan bertemu dan konflik yang sudah lama tertimbun akan diketahui sang istri.
"Kamu pasti kebingungan kan sayang?"
"Azam, aku hanya khawatir. Aku tidak tahu, apa nanti ibu jelaskan secara jujur atau tidak, sebab soal ayah meninggal saja. Itu sudah cukup melukaiku, dimana kenyataannya ia masih hidup dan mencariku, tapi ibu bilang aku sudah .."
"Ssst! kita akan sama sama melewatinya, aku hanya ingin kamu kuat, tegar sayang!"
Azam menyemangati, dimana kali ini ia menatap sebuah pesan masuk. Dan Azam mengerenyitkan salah satu alisnya, setelah membaca pesan itu.
"Azam, ada apa?" tatap Reina, yang saat itu Azam senyum, dan memencet nomor seseorang, masih mode memeluk Reina yang berdiri dari belakang, tapi kegusaran hatinya masih saja terlihat oleh Reina.
"Suamiku, ada apa?" tanya kembali Reina membuat Azam memegang erat sang istri.
TBC
__ADS_1