
Kutarik nafas dalam, kemudian kupejamkan mataku dan berusaha untuk merilekskan pikiranku. Tapi tiba-tiba, entah apa yang terjadi tapi lampu di kamar mandi mendadak padam. Seketika aku pun mulai panik karena jujur saja aku tidak takut apapun kecuali gelap.
Aku mungkin akan terlihat sangat payah ketika berada di tempat yang gelap. Bukan karena takut akan muncul hantu atau sejenisnya. Tapi nafasku terasa sangat sesak ketika aku berada di tempat yang gelap. Seolah semua dinding, menjadi bergerak dan berusaha menghimpitku.
Dengan panik akhirnya aku berusaha mencari handuk dalam kegelapan. Untungnya aku menemukannya dengan mudah dan segera kulilitkan di pinggangku. Aku tahu seharusnya dalam keadaan seperti itu, aku harus mencari senter atau setidaknya lilin sebagai penerangan.
Entah kenapa, Melin yang menginap di hotel milik paman Brian. Terlihat sepi, padahal bangunan sangat keren. Tanpa sadar, satu pohon bergerak tanpa adanya angin, kursi dan meja bergerak ke kanan dan ke kiri. Melin menyudahi aksi berendamnya, ia lilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya.
Melin segera mengambil sandal, setelah itu dengan cepat ia menutup pintu kaca, dan menutup hordeng. Tanpa sadar sebuah cahaya kilat dan petir, menampakan sebuah wajah dan muka seseorang dengan suara yang tidak biasa.
Sssssh! jauhi kamar paviliun ini milikku!
Suara gamblang, memekik telinga Melin. Melin merasakan ketakutan, ia merasakan ada yang berbeda. Tidak tahu kenapa, sosok itu sepertinya buatan atau sengaja di taruh di hotel ini.
Cepat cepat Melin berlari ke kamar, ia mengambil pakaian dengan cepat memakainya. Setelah ia meraih tas, ponselnya terjatuh. Satu benda membuat Melin terpental ke kening, dan terjatuh.
__ADS_1
"Braaagh."
Aarggh, sakit sekali. Melin bangkit, dan terdengar suara gedoran pintu dengan kencang.
Dor .. Door .. Dor.
Suara ketukan itu hingga delapan kali dengan keras, Melin kembali fokus. Menutup mata agar raganya tahu, siapa sosok di depannya ini.
Aku pun mengangguk dan memanggil Brian!
"Kamar ini keramat! Brian, penunggunya disini sengaja di taruh. Setiap yang menempati kamar ini, dia akan kembali dengan kecelakaan. Lo tau paman lo lakuin semuanya?" tanya Melin.
"Kening lo berdarah! cerita paviliun paman gue, kota selidiki nanti, gue obatin kening lo dulu Mel."
Untungnya Brian adalah orang baik dan dia bisa memahami apa yang Melin alami. Dan setelah Brian membawakan sebotol air mineral, obat p3k. Melin pun mulai menenggaknya sembari bersantai di atas tempat tidur. Hingga akhirnya tanpa terasa mata Melin pun mulai terpejam seolah seseorang menariknya ke alam lain.
__ADS_1
"Mel, lo kenapa?"
"Dia datang, orang itu bawa ayam hitam, kain hitam dan pisau. Lalu setiap ktp yang memesan atau mendapatkan kamar ini secara gratis, dia akan dijadikan tumbal dengan darah ayam di atas kain hitam dan identitasnya." lirih Melin, yang menengkuk lehernya dan Brian berusaha menarik nafas, membawa Melin ketempat terang.
Buugh!
Saat Bryan mengangkat Melin, tiba saja kepala Brian di pukul oleh seseorang dari belakang, hingga Melin pun ikut terjatuh.
Melin hanya mendengar suara seseorang dengan berbisik, karena raganya saat itu berada di alam lain, layaknya berkomunikasi apa yang terjadi.
"Angkat cepat dia! bawa dia pergi ke tempat biasa." ucap orang asing.
Tapi baru beberapa saat tertidur, entah kenapa aku merasa udara terasa begitu dingin. Bahkan aku bisa mendengar suara desiran angin dengan sangat jelas. Kubuka mataku yang sebenarnya masih terasa sangat berat.
Dan astaga! Apa ini?! Kenapa tiba-tiba Aku dan Brian berada di depan bangunan Paviliun Black An?! dengan kaki, tangan terikat dan lilin mengelilingi.
__ADS_1
TBC.