
"Ya sudah, aku harus ganti baju, nanti sore aku ada pemotretan, kamu antar aku ke mall, ya!" ucap Diva.
Diva tidak ingin berdebat. Milen sama sekali tidak dapat menolak, karena jika ia menolak akan membuat urusan semakin runyam. Bahkan Diva memang sibuk banyak pekerjaan selain menjadi intel, bahkan merangkap intel seleb.
"Ya sudah, ayo pergi, aku akan belikan apapun yang kamu mau," kata Milen lagi. Div pun langsung menggandeng tangan Milen.
Saat mereka tiba di parkiran, Brian langsung melihat kedatangan Milen dan Diva. Brian sudah bisa menebak Milen dan Diva akan pergi, sehingga Diva langsung pindah duduk ke belakang.
Diva selalu memperlakukan Milen dengan baik, ia membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Milen masuk. Seharusnya. Jabatan Milen adalah milik Diva, tapi karena sesuatu, maka ibu mertuanya mewakili Milen, sehingga Diva hanya yang ringan ringan saja bekerja sesuai keinginannya.
Saat Milen memasuki mobil, ia pun melirik Brian dari kaca spion depan, Milen ingin menyapa Brian, namun keadaan membuatnya harus memendam keinginannya itu.
Milen pun mulai melajukan mobilnya, Brian hanya bisa duduk tenang, tanpa tau apa-apa.
Milen bisa mengerti perasaan Brian, namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Hubungannya dengan Diva memang selalu seperti ini, Diva sama sekali tidak peduli tempat, ia selalu nempel dan bersikap manja kepada Milen.
"Mil, nanti aku tidur di apartemen kamu, ya," kata Diva, membuat Milen kaget.
Milen pun langsung melirik Brian, dari kaca spion, ia ingin melihat ekspresi Brian, namun dia sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
__ADS_1
"Kenapa tidur di apartemen aku Diva, kan punya rumah?" tanya Milen pura-pura bodoh, padahal sebelumnya dulu Diva juga sudah sering menginap di sana, ketika bosan di rumah.
"Aku mau sama kamu, Mil. Biasanya aku juga sering nginap, kamu kok masih bertanya kenapa, sih?" jawab Diva.
Mendengar jawaban Diva semakin membuat jantung Milen berdebar, ia justru menanyakan pertanyaan salah, tidak seharusnya ia menanyakan hal itu, sehingga membuat Brian mengetahui bahwa mereka sudah sering tidur bersama.
Milen pun kembali melirik Brian, entah kenapa Milen ingin menjaga perasaan Brian. Milen juga tidak tau kenapa, tapi ia tidak ingin Brian mengetahui sisi buruk darinya sebelum ia di selamatkan keluarga Diva, setidaknya sampai ingatan arwah Brian ingat dirinya.
Setelah mendengar itu, Brian hanya bisa sadar, ia juga tidak mengerti, kenapa ia merasakan sesuatu yang membuat perasaanya tidak tenang, menatap Milen yang notabane adalah manusia yang belum mati.
Mereka pun akhirnya tiba, saat Brian ingin berjalan di samping Milen, Brian langsung tersadar saat melihat Diva yang sudah menggandeng tangan Milen, tak sabar masuk mall. Hal ini benar-benar membuat Brian semakin merasa sedih, entah ia merasa cemburu karena jati dirinya hanya seorang arwah.
Milen juga merasa hal sama, melihat Brian jalan di belakangnya membuat ia sedih. Namun bagaimanapun, kebahagiaan Milen masih prioritas utamanya saat ini.
"Kamu lihat siapa, sih, Mil?" tanya Diva. Sedari tadi Milen selalu curi waktu untuk melihat arah belakang.
"Tidak ada Mas Diva." jawab Milen, sambil mencubit pipi Diva agak manja
Mereka pun tiba di toko baju branded, saat Milen sibuk memilih baju, Milen pun menggunakan waktu untuk bicara dengan Brian.
__ADS_1
"Kakak, tidak kenapa-napa, kan?" tanya Milen. Entah kenapa pertanyaan Milen semakin membuat Brian sedih.
Pertanyaannya seolah ia tahu bagaimana perasaan Brian saat itu juga.
"Kenapa-napa? Emang aku kenapa?" jawab Brian santai.
Milen mengira jawaban Brian sesuai perasaan Brian saat ini. Milen mengira Brian juga merasakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan seperti apa yang ia rasakan sekarang.
"Baguslah," sambung Milen kecewa.
Milen ingin mendengar sesuatu dari Brian, perkataan yang menggambarkan isi hatinya atau sejenisnya. Bahwa perasaan dulu dan saat ini masih sama, tapi entah kenapa Brian belum ingat kematiannya dahulu bersama Milen, padahal Milen juga banyak melewati kesulitan, apalagi anaknya belum ia temui dimana keberadaannya hingga kini.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Brian yang tampak tak asing dengan tempat ramai sejuk ini, ia seolah menatap arah bingkai sebuah rumah kuno dengan manik manik kipas bulat. Brian saat itu menatap gucci dan pusing ketika samaran temannya, ia bicara berbelasungkawa padanya kala itu.
Argh! Arwah Brian memekik telinga dan dua kepalanya terasa sakit.
Tbc.
__ADS_1