
Brian melirik pada Melin, yang sedang berselancar di lantai. Ia duduk di kursi tepat di sebelahnya. Milen mengecap ice cream coklat yang ia beli di cafe.
Alamiahnya manusia dapat merasakan jika ada seseorang yang menatapnya cukup lama. Sebab itu, setelah lama Brian menatapnya diam-diam. Milen pun mendongak kearah Brian. Netra mereka bertemu cukup lama, sampai Brian mengalihkan pandangannya dari Hanna.
"Sosok itu, kenapa dia lihat-lihat, dia menargetkan aku?" lirih Melin was was.
Brian merasakan atmosfer tidak enak di sekitarnya. Ia pun menatap Milen yang berada di belakangnya. Ia berujar, “Ngapain di bawah? Kamu tidak dingin? Mending naik ke atas, duduk di kursi.”
Milen bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar kelas untuk mencari tong sampah. Tidak ada satu pun tong sampah yang berada di lantai 4. Milen pun terpaksa turun ke lantai satu. Di halaman depan terdapat beberapa tong sampah.
Di lorong lantai satu, di pintu masuk menuju lorong, netra Milen menangkap mahasiswi. Aura merahnya masih sangat pekat. Tidak jauh dari tempat Milen berdiri, ada sosok perempuan yang tersenyum ke arahnya.
Milen berlari mengejar Sira yang kini mulai melayang pergi menuju pohon belakang sekolah. Brian tersentak kala Melin mengejar Sira yang masih beraura yang cukup menakutkan. Brian takut Milen dicelakai oleh Sira. Temannya itu, sering kali terdengar kesurupan di kampus.
Maka dari itulah, Milen dan Brian kembali ke kampus. Karena ingin mengambil sidang skripsi, dan sebentar lagi mereka akan sidang kelulusan. Tapi mengejutkan kala temannya Sira bertingkah aneh saat Milen duduk menunggu di depan ruang dosen.
Tepat di pohon belakang sekolah. Sira berdiri di atas pemakaman. Ia menyorot mata Milen dengan raut menyedihkan.
__ADS_1
“Maafin aku Mil, tadi menghilang gitu aja.” Sira meminta maaf pada Milen masih dengan aura merahnya.
Milen mengerut dahi, ia bertanya, “Kenapa kamu menghilang tiap ada Dosen?”
“Karena dia tau cerita kelamku, aku juga tidak mau sampai mereka tau kondisiku,” papar Sira.
Milen menundukkan kepalanya seraya ia tersenyum. “Aku mengerti keadaan kamu.”
Sira tersenyum masam, ia pun berkata,
"Pelaku, maksud kamu ..?"
Milen sedang membaringkan tubuhnya di kamarnya. Ia menyorot lekat langit langit kamarnya dengan banyak kebingungan yang menumpuk di kepalanya.
Perkataan Sira sangat membuatnya penasaran. Apalagi, Sira menghilang kala Milen menanyakan pelakunya. Milen menghentakkan kakinya kesal di atas kasur, masih dengan posisi yang sama.
“Tidak tau ah! Pusing banget, bisa-bisanya kasih info penting tanpa info penunjang. Jadinya kan ambigu banget.” Milen sangat kesal dengan Sira kala di kampus tadi pagi.
__ADS_1
"Mil, tunggu sebentar! aku cek ke arah lorong. Sira kenapa bisa melayang tadi, bukankah melayang hanya arwah?" tanya Brian, mengejutkan saat Milen sedang istirahat.
"Entahlah, kita sudah lama tidak berkumpul dengan mereka. Aku gak tau Brian, apa yang terjadi pada teman teman kita."
"Ya udah, kita lanjutin besok aja. Aku pergi dulu, besok kita cari info lagi ya, aku pergi dulu sayang."
"Iya hati hati ya." balas Milen yang berusaha memejamkan mata.
Esok Harinya Di Cafe.
Milen beranjak dari aktifitas rebahannya. Ia berjalan menuju jendela kamarnya, melihat kondisi di luar rumah. Langit hari ini cukup cerah, bintang-bintang pun menghiasi indahnya malam. Dengan perasaan cukup senang, Milen meraih hoodie miliknya. Ia berjalan dengan terburu-buru menuju keluar rumah.
Langkah kakinya mantap, ia melewati taman komplek, di sana ada sesosok arwah lelaki yang membawa sebuah bunga. Seluruh bagian wajahnya hancur, tubuhnya penuh dengan serpihan kaca. Milen yang akan bertemu dengan Brian di cafe, sedikit syok diam berdiri hingga mengerut dahi sejenak, lalu menggelengkan kepalanya kembali.
"Semoga bukan nyata." lirih Milen memejamkan mata saat berdiri.
TBC.
__ADS_1