
Keesokan Harinya :
"Sayang, ayo nak. Kita udah hampir terlambat!" ujar Reina, memanggil kedua anak anaknya yang sedang memakai ransel, serta sepatu.
"Bunda! tunggu. Bima udah siap nih, cuma Kanya si princess delay.. yang bikin Bunda nunggu lama." celotehnya di pagi hari.
"Enggak kak Bima! Kanya tuh halus perpect tahu. Biar kaya bunda tantik." cadel Kanya.
"Perfect non Kanya! non Kanya kan emang cantik. Nih, box makanan buat di sekolah udah bibi siapin. Satu buat non Kanya, satu buat den Bima."
"Makasih ibie ( bibi )." peluk dua anak itu, pada ibu paruh baya.
"Bibi makasih ya! Reina pamit dulu, hari ini toko bahan kue datang. Setelah antar anak anak, aku pastikan cepat pulang untuk buat kue lagi."
"Iya non Reina, juga hati hati nyetirnya."
Tok. Tok.
Ketukan pintu, membuat Reina dan semua menoleh. Hingga kala itu, terlihat Diva senyum membuat anak anak Reina, sedikit beringsut dibelakang bundanya.
"Bunda om itu, si-apa?" bisik Kanya.
"Dia .. Om Diva sayang! ayo beri salam."
"Pagi bi, dan Reina. Hai anak anak kembar yang manis, kalian benar benar sudah sebesar ini. Terakhir om melihat kalian, masih bayi mungil." bahagia Diva, melihat anak anak Reina.
Reina pun mengenalkan satu persatu, dan menjelaskan siapa Diva pada anak anaknya. Sehingga dua anak anak itu hanya angguk dan sedikit senyum.
__ADS_1
"Diva, aku buru buru. Aku tinggal ga apa kan?"
"Ke sekolah, kebetulan gimana aku temani, sekaligus ada hal penting yang mungkin kamu bisa senang, siapa tahu mau mendengar saran aku."
Reina yang ingin menolak, akan tetapi di gerbang rumah Reina. Terlihat sebuah mobil berada di tengah, membuat mobil Reina tidak bisa keluar. Pintu itu terbuka, dan membuat kedua anak anak Reina senyum lebar.
"Om Azam. Om Azam .. datang pagi pagi, mau anter kita sekolah kan?" teriak Bima, dan Kanya berhamburan ke arah Azam, yang merentangkan kedua tangannya, dengan posisi setengah duduk.
Reina saat itu berdiri sejajar dengan Diva, hanya terdiam kaku. Lagi lagi Reina tidak bisa memisahkan kedua anak anaknya, jika mereka saja sudah senyaman dan akrab seperti itu.
"Ren, kamu sering di antar jemput pria itu?" tanya Diva.
"Ah! kamu salah paham, aku juga tidak tahu. Bahkan ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku harus antar anak anakku dulu. Karena sudah hampir terlambat. Aku mohon kamu jangan salah paham, dan jangan berfikiran lebih. Kita harus bicara kan ini nanti."
"Baiklah, aku mengerti dan percaya kamu Rein." senyum Diva.
"Pak! sebaiknya anda singkirkan mobilnya sedikit ke depan! anak anak saya sudah terlambat."
"Kalau gitu naiklah ke mobil saya! lebih cepat. Gimana ganteng dan cantik, mau naik mobil Om Azam?" merayu kedua anak anak Reina.
"Mau ... Mau .. Ayo kak Bima, kita masuk Bunda naik mobil om Azam aja, bagus soalnya. Itukan mobil yang pernah kakak lukisan kan?" bisik Kanya, membuat Reina menelan saliva.
Gleuk ..
"Mas Diva jangan ambil hati ya, anak anak .."
"Aku mana pernah ambil hati, anak anak belum tahu mana yang baik dan tidak kan Reina. Aku yakin kamu pasti sabar dan tegas hadapi anak anak kamu dengan lembut."
__ADS_1
"Thanks ya mas. Udah selalu ngertiin posisi Reina."
Reina menoleh ke arah belakang, ia mengambil tasnya di mobilnya, lalu meminta maaf pada Diva.
"Mas Diva! kita akan makan siang, aku tunggu kabar kamu, aku segera datang! aku tidak bisa menolak permintaan kedua anak anakku. Tolong maafkan mereka, dia masih anak anak dan sedikit asing karena kita lama tidak bertemu."
"Ya! aku ngerti Reina, wajar jika Bima dan Kanya tidak mengenali aku, bayi tidak akan ingat. Aku boleh izin, membantu bibi Ros membuat Pondan kue di dalam?"
"Boleh. Makasih ya mas Diva." senyum Reina, dan pergi masuk ke dalam mobil Azam, yang kala itu Azam, membuka pintu mobil depan.
Sementara kedua anak anak Reina, senyum senyum dibalik kaca, dan see you good bye pada Diva, seolah meledek.
Perjalanan di dalam mobil, Reina hanya bisa mendengar ocehan kedua anak anaknya terhadap Azam. Sekeras apapun Reina menjauhkan kedua anak anaknya, entah kenapa takdir malah mempererat hubungan anak anaknya pada ayah biologisnya itu.
Setelah sampai di sekolah, Reina senyum melambai pada kedua anak anaknya, yang sudah di sambut guru kelasnya dan masuk ke dalam sekolah internasional.
Reina pun menoleh, namun terbentur jaket Azam yang tepat sekali pada bidang roti sobek, sebuah kancing dari tengkuk lehernya, jakun Azam terlihat berkeringat parfum, saat beberapa detik wajahnya terbentur, kala Azam tepat ada dibelakangnya amat dekat. Hal itu membuat Reina berdetak menatap Azam, yang ikut memandangnya.
"Azam, terimakasih. Tapi aku ingin pulang, aku harap kamu tidak melakukan seperti ini lagi pada kedua anak anakku. Aku masih bisa mengantarnya tanpa kamu!"
"Kenapa, kenapa kamu berusaha keras menjauhkannya dari ayahnya, apa mereka tidak berhak tahu?"
"Kamu pikir mudah Zam, setelah sekian lama, lagi pula Kanya tidak perlu wali nikah secara agama jika ia besar? jika ia besar, ia tahu asal usul kenapa ayahnya sekian lama baru tiba, dan mudah kamu katakan aku ayahmu sayang." bernada Reina, emosi melihat Azam.
Azam sendiri terdiam, ia tidak bisa menjawab apa yang baru saja Reina bicarakan, karena kata kata Reina memang ada benarnya. Kini Azam hanya bisa menatap Reina yang menghentikan taksi dan berlalu.
'Aku tidak akan berhenti mengejar kamu Reina.' batin Azam.
__ADS_1
TBC.