
Milen saat itu, menunggu bersama rekan kerjanya. Betapa penasarannya mereka, ketika ingin tahu siapa big boss terbesar di project S film. Tak lama, dari jarak sedikit jauh terlihat samar pria dengan pengawalnya.
"Wajah itu. Kenapa mirip mas Diva?" benak Milen.
"Eh. Milen lihat dia datang!" titah Fara untuk Milen menatapnya. Tapi Milen hanya diam seribu bahasa dengan mimik yang bergetar dan sedikit kaku.
Milen segera memencet ponsel untuk memastikan ia menghubungi mama mertua di penang. Tapi ia tak percaya jika pria di hadapannya itu mirip suaminya.
"Tidak mungkin kan. Namanya saja berbeda?" benak Milen. Ia mengambil kartu nama dari Satie di samping Milen.
"Na. Big boss kita kok mirip seseorang ya. Satu lagi mirip 90% coba kamu hubungi mertua lo Mil? kali aja itu laki lo beneran." bisik Fara ke telinga Milen.
Selamat malam untuk kalian semua. Sudah menunggu lama? Ale tolong beri berkas pada dua wanita ini untuk mereka pelajari selama sepekan!! senyum pria itu menyapa, sementara Milen masih kelu membeku terdiam, bagai terhipnotis.
Ale orang kepercayaan Alva muda. Ia selalu siaga selama dua puluh empat jam. Kegiatan segala urusan perusahaan, ia lah karyawan setia dan orang kepercayaan bagi big bos nya.
"Baik big boss. Mohon kalian baca dan bubuhi tanda tangan selama lima belas menit!" titahnya, membuat Milen dan rekannya hanya patuh.
Meski Milen sedikit bingung, sebab namanya Alva Muda mirip nama yang ia kenal, tapi wajahnya mirip dengan mas Diva, namun ia urungkan rasa curiga karena ingin terbebas dari beban pikiran.
Tak lama big boss pun pergi berlalu meninggalkan Milen dan Fara yang masih menatap dengan diam. Sementara Satie berada di samping Milen dan Fara yang akan memberi petunjuk apa saja kegiatan mereka selama sepekan.
Milen hanya bisa menarik nafas dalam dalam. Ia tahu sangat tidak mudah baginya, untuk beradaptasi mempunyai bos yang teramat dingin, kaku bagai monster ketika menatap.
"Mil. Handsome tapi ngeri juga tatapannya ya. Lebih parah dari laki loh."
"Sst ... Udah ayo kita selesain semua nya Fa!"
***
Sementara di berbeda tempat.
__ADS_1
"Bagaimana kelanjutan?"
"Saya sudah memerintahkan Hendra untuk mengirim berkas surat perceraian resmi Nona Milen dan Diva bos."
"Good. Perlahan kirim Milen ke devisi di samping saya kemanapun pergi!" titah Alva, yang kala itu merubah tampilannya mirip Diva, yang saat itu ia berganti nama M Alvaro Muda, yang sedang melihat Milen dan membubuhi tanda tangan kerjasama bersama rekan kerjanya, di meja lain.
Tiing.
Milen setelah menyandar diri, ia akhirnya tersambung pada mama mertuanya melalui ponsel. Ia perlahan menanyakan kabar Rein dan Reina kedua anak anaknya. Lalu ia menatap dan tahan akan air mata yang tiba saja perih ingin tumpah saat itu.
"Mah. Apa surat hijau itu, itu tentang apa?"
"Sayang. Ini nanti saja kamu pasti tahu, yang pasti apapun yang terjadi kamu tetap menantu mama!"
Milen tak dapat berkata lagi. Setelah mengobrol panjang dan mengakhiri. Ia melihat isi gambar dari pengadilan. Jika ia telah resmi berpisah pada Diva. Hal itu membuat Milen sesak dan tak bisa berkata lagi, jika pernikahannya selalu gagal lagi dan lagi.
Entah ia harus bahagia atau tidak, tapi di saat Diva membutuhkan dukungannya. Mengapa perpisahan telah di putuskan oleh mas Diva.
Tooook... Tooook.
"Mil. Setelah ini kita ke club yuks. Sayang tau, masih sore juga!"
Fara merengek meminta ditemani oleh Milen untuk menatap model pria kekar dan hiburan yang ada di club tersebut.
"Fa. Apa ga berlebihan, gue takut tempat ini terlalu asing."
"Lo kenapa sih Mil, Kok wajah lo murung gitu sih?" tanya Fara.
Hasil keputusan pengadilan gue dan suami udah benar pisah. Andai pun kembali kita harus saling menikah. Tapi laki gue kan udah sama Sea meski .. yang pasti gue harus nikah dulu sama orang lain. Nasib gue ko kejam banget ya. Apa gue harus kembali jadi janda. Apa dalam pernikahan gue ga berhak bahagia.
"Owh baby. Gue ngerti perasaan lo sekarang. Kalau gitu kita ke club gimana. Please kita teriak pada dunia gemerlap, untuk lepas hapuskan segala kesialan yang begitu pahit."
__ADS_1
ilen yang tadinya tak ingin pergi. Ia akhirnya ikut kemauan Fara untuk menemaninya.
"Janji ya. Jangan mabuk, ga pake lama Fa!"
"Iya. Lagian gue mau deketin si Ale itu loh. Doi ganteng banget tau."
"Ih dasar nih. Tapi klo gue liat tadi, malah Satie yang natap lo terus Fa."
"Apaan sih. Udah ah, yuks cabut."
Setelah berada dalam satu meja. Fara sudah lupa akan Milen karena dirinya di ajak Satie bertanding minum.
"Fa. Jangan terlalu banyak, kamu ga boleh mabuk Fa!" pinta Milen.
"Udah. Tenang aja, have fun Mil." teriak Fara.
Milen akhirnya berjalan melewati tatapan pria yang menatapnya. Pasalnya ia hanya memakai celana rok rampel putih di atas lutut.
Dengan baju silver bergaris hitam yang memperlihatkan punggung indah. Hal itu karena Milen memakai baju fara. Ia sebenarnya tak ingin, tapi karena hanya baju itu yang Fara punya yang tak terbuka berlebih. Sehingga ia menutupinya sedikit dengan rambut yang di gerai curly.
"Mojito mint satu!"
Milen memesan dan menunggu Fara yang tak jauh dari meja bartender. Tak lama seseorang yang baru saja ia kenal. Ia menatap dari kejauhan dengan seseorang pengawal di sampingnya.
Ya. Dia adalah M Alvaro dan orang kepercayaannya Ale. Milen hanya melirik sebentar lalu melanjutkan minum. Berusaha tidak kenal, karena gimanapun ia adalah atasan, meski wajahnya sedikit mirip suaminya.
Namun bayangan hitam yang sejak tadi mengikuti Milen, entah kenapa saat ada atasannya dia pergi. Hal itu membuat Milen mencari tahu, ada apa dengan pria di sampingnya, setiap ada dia disampingnya arwah bayangan hitam pergi bagai angin.
'Pasti aku salah liat.' batin Milen.
TBC.
__ADS_1