
Esok harinya, Reina masih libur di hari besar. Reina ingin sekali waktunya bermain dengan kedua putranya, tapi tiba saja ketukan pintu membuat lamunan Reina terusik.
Tok! Tok! ( Puluhan Menit Kemudian )
"Pak Azam, ada apa ya. Apa saya lupa tidak menyalakan ponsel jika di akhir pekan. Saya akan melihatnya, apa ada dadakan pertemuan penting, sehingga saya harus lembur?"
"Tunggu Reina, bisa aku masuk kedalam?"
Masuk, kedalam rumah saya pak. Tapi di dalam ... dan Reina pun tak tega, hingga akhirnya ia mempersilahkan sang atasan ikut serta sarapan makan bersama. Reina sedikit canggung, kenapa akhir akhir ini Azam sering ke rumahnya, apa dia punya tujuan sesuatu.
Pertama kalinya Azam menatap dua anak yang begitu lucu, menatapnya membuat dirinya lupa akan dendam pada Tuan Er terhadap Reina.
"Pak Azam, mau minum apa?"
"Yang ada saja, cukup air mineral ini juga sudah cukup. Saya minta maaf kebetulan tadi lewat, dan melihat kamu di depan menyiram pot lalu masuk ke dalam rumah. Jadi saya berbicara seperti tadi, bukan mau memintamu bekerja di hari libur."
"Oh."
Meski Reina sedikit bingung. Ia tak berani menanyakan ada keperluan penting apa, hingga Azam berada di komplek ini. Sungguh komplek ini sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Jika tamu penting tak mungkin juga ada disekitar rumah tak jauh dari tempatnya. Gumam Reina kala itu, ia sedikit menuangkan juice ke dalam gelas.
"Apa saya mengganggu weekend mu Ren?"
"Saya pak, Eum ... " Reina memutar mata dan melirik aksi Kedua anaknya yang menatap pria asing, di atas tangga kamarnya.
"Bunda, kenapa paman ini datang lagi?" tanya Kanya.
"Bunda apa dia seperti Dady, yang tersesat belum pulang pulang?" tanya kembali Bima.
Eh ... Bunda ... ini .. sayang!
Azam terdiam, Reina pun membulat dengan gugup.
"Bi Ros." teriak Reina memanggil sang bibi. Dan meminta kedua anaknya yang telah bangun, untuk segera mandi.
"Sayang, mama akan segera ke kamar. Kita akan segera ketempat Kanya dan Bima suka. Oke sekarang masuk dulu ya! nanti mama jawab soal dady, dan paman ini atasan bunda. Bukan dady." senyum getir Reina memperjelas.
__ADS_1
Deg!
Rasa sakit hati Azam membuat makin penasaran. Karena Reina menyembunyikan serapat rapat ini untuk sendiri. 'Apakah benar suami kamu di hongkong Reina?' batin Azam
"Oce.. Mama Dandy ya?" ucap Kanya sedikit cadel. Menjulurkan kelingking ke arah sang Bunda, sebagai tanda Reina harus menepati janjinya. Tak lupa ia pun tersenyum dan mengangguk.
Selepas kedua anak anaknya pergi, ke atas tangga hingga tak terlihat. Azam pun berdiri dan bertanya satu hal lagi.
"Ren, maaf Jika saya telah mengganggu. Tapi rumah sejuk ini. Dimana kedua orangtuamu, dan suamimu?"
"Mereka tidak tinggal denganku! Jika sudah selesai pergi lah pak."
"Ok baiklah, sekali lagi maaf. Terimakasih atas waktunya Ren."
Reina terdiam, dan tak menjawab. Sehingga Azam pamit dan masuk kedalam mobilnya. Reina bahkan ingin sekali menjawab. Tapi, apa penting jika sang atasan tahu, jika ia cerdas pasti ia sudah tahu jawabannya. Karena lama kelamaan juga Azam mungkin akan tau sendiri.
"Ren terimakasih!" senyum Azam, setelah masuk ke dalam mobilnya.
Reina pun membalikkan tubuhnya, dan berlalu tak menghiraukan Azam yang telah masuk di dalam mobil. Sementara Azam masih menatap Reina, yang masuk kedalam rumah, apakah trauma party membuat hidup ia menderita.
[ Aku akan bayar tiga kali lipat, asalkan cari informasi Reina sedetailnya! ] sambungan ponsel pun terputus.
***
Mall Citra Burn.
Dalam Mall terbaik, Reina kali ini memesan tiket mobil balap yang menyambung pada bidak listrik. Kanya dengan Reina serta Bima dengan sang bibi. Mereka asik melewati permainan dan saling beradu. Tawa haru bahagia mereka pecah sehingga suasana sedih, derita yang Reina alami sirna. Reina berharap, hidupnya dengan kedua anak anaknya baik baik saja, dan Azam tidak pernah lagi datang dalam ke kehidupannya.
Sesaat telah selesai, Reina yang menggandeng kedua anaknya masuk ke ruang toilet. Ia menemani dan terlihat bibi Ros menunggu di tepi ujung taman. Reina pun duduk bersandar dengan memegang kedua tas kecil susu.
Akan tetapi Reina tak yakin, seseorang itu ingin menghampirinya. Bukan tanpa alasan, Reina yang acuh karena merasa bukan dirinya, dikejutkan oleh wanita yang berdiri di depannya.
Tug. Tug. Suara langkah heels.
"Ya! anda cari siapa?" tanya Reina, yang kala itu sedang membuka snack untuk Kanya.
__ADS_1
"Kamu Reina kan, aku minta waktunya sebentar bisa?" wanita itu membuka kacamatanya dan menatap sinis.
"Bibi, bawa anak anak ke Kidzania dulu ya. Bibi ikut masuk dan bantu awasi, Reina nanti akan menyusul. Jangan kemana mana, sebelum Reina datang!"
"Iya non, ayo sayang ikut sama bibi."
Lagi lagi Reina merasa tinggal di kota ini, selalu saja tidak pernah mendapatkan ketenangan. Entah siapa lagi, sehingga ia bisa kenal dengannya, anehnya Reina tidak ingat dan benar tidak mengenalnya.
"Lihat foto ini, apa kau mengerti?"
Reina menatap foto pernikahan Azam dan wanita di depannya ini. Reina baru sadar, ia pernah melihat Azam menikah dan berjanji suci di depan pendeta untuk saling bahagia, dan bersama seumur hidup. Reina yang ada di gerbang, ia tak tahu di rumah Azam akan ada hari pernikahan, membuat Reina menatap Azam dan melingkarkan cincin, pantas Reina tak kenal karena saat itu ia hanya melihat dari balik punggung.
"Apa maksud kamu, untuk apa di perlihatkan padaku?"
"Jangan berpura pura bodoh Reina. Ingat, aku Shi .. istri sah Azam. Jangan lagi datang dan mendekati Azam. Jika kau tidak ingin kedua anak anak lucu mu terjadi sesuatu."
Braagh.
"Jangan sentuh dia! kau akan berhadapan denganku, jika kau berani. Dan aku tidak berniat menempel pada suami orang! bahkan aku membenci Azam hingga mati, katakan saja pada suami mu untuk tidak menguntit ku dengan orang nya, kau katakan saja pada suamimu, aku tidak berniat pada Azam." berdiri Reina seolah ingin beranjak.
"Hah! Jangan munafik Reina. Kau bisa ganti rugi uang sepuluh juta! ketimbang kau masih bekerja di kantor suamiku. Kau pikir aku bodoh, menemui kamu tapi aku tidak mencari tahu kamu sedetail ini. Oh ya! bagaimana jika nanti Azam tahu, jika setiap bulan ayahnya memberikan cek satu miliar agar dirimu hilang dari pandangan Azam, bukankah jika ayah mertuaku tahu, dia akan murka. Oh! aku tahu, aset keluargamu akan di rampas pasti." gelak tawa Shi, membuat Reina merobek foto di depannya.
"Omong kosong! ingatlah kata kataku Shi, jika suamimu tidak hangat padamu, artinya dia bosan dan ingin menghempas wanita tidak berguna, wanita yang suka dengan harta, dan tidak mau melahirkan anak. Sehingga aku tahu, jika ayah mertuamu membiarkan dirimu di ceraikan oleh putranya." senyum Reina, seolah membalikan fakta, membuat Shi kaget akan lawannya ini, membuatnya terdiam kaku dengan seringainya.
"Dasar ka-uu..."
Reina pun senyum melambai tangan, ia menunjuk wajah Shi untuk tidak macam macam pada kedua anak anaknya, apalagi berani datang mengancamnya.
"Kau yang harus berjaga jaga untuk tidak merana, jika kau sentuh aku, keluargaku, dan anak anak ku. Kau yang akan pedih!" bisik Reina membalik ancam.
Beberapa menit kemudian.
Reina segera mencari keberadaan kedua anak anaknya, membuat dirinya hampir runtuh dan memeluk tiba tiba Kanya, dan Bima. Seolah Reina yang ketakutan pada masa lalu, ia berusaha tegar dan berani melawan, untuk tidak lagi ditindas seperti dulu.
TBC
__ADS_1