Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Surat Masa Lalu


__ADS_3

Beberapa saat, terlihat dengan jelas suara pria memanggil. Sekilas Feni melirik bicara membuat Milen dan Fara memicik bibir geli.


"Fen. Udah kita merapat ke tiga cowok lemes. Jangan goda Milen, ada tamu doi."


"Tapi Far. Lo harus tau, pria itu bener bener..."


"Iye. Gue tau, mangkanya gue harus ngehindarin elo dari dia. Supaya dia ga gatel gatel deket lo Feni!" bisik Fara.


Feni pun merundung kala itu. Pasalnya ia kesal karena dianggap kuman oleh Fara. Padahal ia masih ingin berlama lama melihat ustad muda tadi.


"Gue ngiri ama lo Milen. Kalau gue jadi elo, gue tanda tangani deh berkas Diva. Pisah sama Pria eropa, nyangkut sama Pria Arab. Beh Milen nasibmu soal pria ga diragukan. Tapi kisahmu yang perlu di ragukan. Heheee." cetus Feni membuat Fara tepuk jidat.


Tak Lama Feni terdiam ketika Fara menoel sikut tangannya. Karena saat itu Diva dan Sea istri kedua dari suami Milen berada tepat dibelakangnya. Sehingga mereka cengar cengir pergi pamit begitu saja meninggalkan Milen, yang saling bertatapan dengan ustad Muda. Setelah teman Milen pergi, Milen duduk di taman, dan Ustad Alva pun, dia berdiri tak jauh dari Milen yang duduk menunduk.


"Milen apa kabar?"


"Baik. Tapi saya jadi canggung, apa yang harus saya jawab ketika di tempat ramai. Tidak ustad muda malu berbicara pada wanita seperti saya. Saya takut mempermalukan nama ustad karena mengobrol seperti ini."


"Panggil nama saja. Ini bukan pondok Milen, aku mengenal kamu sejak kecil. Bisa kita bicara di dalam mobil?"


"Mobil. Tapi itu berlebihan Ustad muda Alva. Eeekhm Kak, aduh maksud saya ustad muda."


"Didalam ada ukhti dan akhwan. Tidak berduaan. Saya hanya ingin menyampaikan wasiat perihal kotak yang harus kamu tau. Dan panggil saya Alva saja, jangan ada nama ustad. Itu hanya gelar saya di pesantren."


"Jika aku ga mau. Bagaimana?"


"Itu hak kamu juga. Tapi jika saya tak melihatnya akan menyesal. Karena saya baru tau dari Ummi itu dari mendiang Ibumu Milen."


Milen menatap tajam. Bibirnya seolah beku, sudah lama ia merindukan tulisan ibunda. Sejak lama ia tinggal bersama sang nenek. Ia menjemput ibunya dari kota jauh. Selalu lewat tulisan adalah obat rindu Milen. Tapi tak menyangka kecelakaan di perjalanan membuat ibu kamu sakit dan tewas setelah di larikan ke rumah sakit.

__ADS_1


"Ka Alva. Aku akan ikut." lirih Milen mengekor kedalam mobil putih.


Sementara Fara dan Feni tak jauh. Mereka menunggu hingga setengah jam lebih. Tak lama pesan pada mereka, untuk tak menunggunya. Jika Milen akan pulang ke malang saat ini.


"Yaah. Milen baru launching aja udah sibuk. Gimana bentar lagi bakal acara shot?" tanya Feni pada Fara menatap Milen pamit. Alhasil mereka pulang tanpa bersama.


Sementara Diva dari jarak jauh, ia hanya merenggut wajah. Meski ia mengangguk tapi hatinya masih terkunci nama Milen. Bahkan gelora semangat bersama Sea tak semanis bersama Milen. Ia masih memikirkan Milen yang masuk ke mobil Alva anak pemilik tertua di pondok malang. Perceraiannya pun sudah akan selesai, jika Diva benar benar melepas Milen karena ia tak mau Milen semakin sakit hati bersamanya.


Beberapa jam Milen telah sampai dirumah. Ia pulang dan mengucapkan terimakasih pada Alva. Milen bergegas masuk dengan sebuah kotak yang ingin di baca dan ia lihat.


"Saya pamit dulu Milen! bacalah surat itu, semoga harimu semakin baik dan indah. Jangan lupa mendoakan mendiang orangtua, sesungguhnya mereka pasti senang melihat mu selalu tersenyum."


Milen hanya diam membeku, tak sangka dirinya akan dekat dengan pria seperti Alva. Keterlibatan mereka bukan hanya project, melainkan masa lalu yang baru disadari oleh keluarganya dulu.


***


Berbeda di satu tempat. Sea masih meminta Diva untuk berjanji.


Sea melingkarkan kedua tangannya di pinggang Diva, yang sedang melangkah.


Hal itu membuat semua mata tertuju padanya. Ia mencoba melepas, tapi genggaman Sea benar benar membuat ia bingung dan sulit karena tangannya terlalu keras dan sesak. Jika saja dia pria mungkin sudah ia perlakukan kasar dengan melepasnya.


"Cukup Sea. Menjauh Lah, aku hanya pergi sebentar."


"Baiklah. Mas hati hati ya."


Diva mendeheum Ya. Sea merasa sedih. Ia melepas eratan kedua tangannya yang melingkar kala itu. Ia meluapkan emosinya didalam hati, ia akan membuat perhitungan pada Milen untuk terus menjauh dari suaminya.


"Milen. Aku ga akan biarkan kamu bahagia bersama Diva, aku pasti membuat kalian menjauh semakin jauh." Ancamnya.

__ADS_1


***


Esok Harinya :


"Yes. Ngapain sih di sini? Tau gak, si mas mu itu nyariin dari ujung toilet kantin sampe ujung toilet rumahmu. Tembus lagi?" tanya Rey.


"Lo kenapa sih Milen. Apa si mbak itu buat kamu nangis lagi ya?" tambah Misel. Gaya mengangkat kolor yang sedikit kedodoran dan menepuk kancing kemeja karena baru saja kejatuhan ee burung.


"Jorok lo Mis. Pake di cium lagi tuh kotoran, cuci tangan sana Etika. Jorok banget, udah muka buluk kelakuan jorok lagi!" lirih Rey.


"Udah kalian bertiga jangan debat aja. Aku gak kenapa napa kok. Tadi lagi melamun aja, syok kalau kemarin sebenarnya ..?" Milen terdiam menatap tiga temannya ketika ia melihat seseorang.


"Hahaha. Kalian aku prank, aku tipu kalian. Soryy Ya!" Hal itu membuat Milen di kejar oleh Misel karena membuat lelucon.


Dan Diva tak jauh menatap Milen. Lalu mengatakan Kekhawatirannya, pasalnya menceraikan Milen, tapi hatinya selalu diam diam melihat Milen di kantornya, karena bayang kerinduan yang dibatasi dinding. Melihat Milen yang mengejar karier, selalu tersenyum membuat Diva kali ini terharu. Sebab kehidupan Milen tidak lah mudah, hanya saja Diva melakukan kesalahan bersama Sea, yang membuat Diva melepas Milen, padahal Milen sudah amat menyukai dengan dalam pada Diva seorang.


"Kemana saja tadi kamu Milen?"


'Harus kamu tau. Aku disini sama tak berubah. Maafin mas Milen.' gumam Diva, dibalik jendela.


Tak lama aksi Diva yang bersuara terdengar oleh Fara dan Feni, yang kala itu melintas di ruangan belakang, seolah ingin menghampiri Milen.


Diva menyadari teman Milen memperhatikannya, ia langsung pergi. Ia masuk dan berlalu kedalam mobil meninggalkan di mana Milen tak sadar. Sementara Fara dan Feni dibuat kebingungan.


"Mil. Sekarang kita meeting. Tuan Ale ngabarin nih, katanya kamu di suruh menandatangani ke pemuda Ustad Alva. Terus kamu pergi bareng Ome artis." teriak Feni, sengaja membuat mantan suami Milen terdengar kalau bisa.


"Sasst. Feni jangan keras keras. Malu kalau orang denger!"


Fara dan Feni semakin terkekeh tawa melihat ekspresi Milen yang takut. Bimbang bercampur sedih.

__ADS_1


"Ok, aku ambil tas dulu ya!"


TBC.


__ADS_2