Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Hati Yang Tak Bohong


__ADS_3

Hari demi hari Arwah Brian selalu menunggu kedatangan Milen. Hingga sebulan sudah. Brian sama sekali tidak salah hitung, sejak hari itu, ia menghitung hari dengan benar. Dari pagi ke siang bahkan hari sudah berganti malam, Milen tidak juga datang, namun, Brian masih bersikeras menunggu kedatangan gadis itu.


Keesokan harinya, Brian juga melakukan hal yang sama, namun ia tetap tidak melihat kedatangan Milen.


Brian sungguh sangat merasa sedih, walaupun begitu, ia selalu menunggu kedatangan Milen setiap hari.


Harapan Brian kini musnah, dari bulan, kini sudah berganti dengan tahun. Setahun ia menghabiskan waktu untuk menunggu Milen, tapi Milen sama sekali tidak pernah datang untuk berziarah.


"Apa kamu masih menunggu gadis itu?" tanya Reo. Dengan raut wajah kecewa, Brian hanya mengangguk. Selama Reo juga selalu memperhatikan Brian yang selalu menunggu Milen.


Reo bisa mengerti perasaan Brian, sebab ia juga arwah yang masih penasaran dan ia juga ingin tahu sebab kematiannya.


Brian, aku pernah bertemu dengan Milen kecil. Tapi setelah ini dia hanya bisa melihatmu, apa karena kamu ada hubungannya sehingga dia tak pernah melihatku lagi?!

__ADS_1


'Aku bahkan tak ingat, tapi saat wanita itu datang tepat di makam ku. Aku merasa dekat, tak kesepian.' ujar Brian.


Hari ini adalah hari pemujaan, semua keluarga akan datang untuk berziarah. Banyak peziarah yang sudah datang lalu pulang.


Reo berharap keluarganya akan datang lalu membawakannya makanan serta membersihkan kuburannya, namun lagi-lagi harapan Reo hanya sebuah angan, satupun keluarganya tidak ada yang datang, atau seorang peziarah yang melakukan pemujaan di kuburannya.


Reo pun menangis di kuburannya, ia sungguh sangat marah, kenapa Dewa melakukan ini semua untuknya.


"Kenapa tidak ada yang datang mengunjungiku? Apa keluargaku benar-benar sudah melupakanku? Apa salahku Dewa, kenapa engkau melakukan ini kepadaku?" ucap Reo terisak. Lalu, seketika mata Reo terbelalak saat melihat seorang pria muda memberikannya sebuah permen.


"Kenapa, Kakak, menangis?" tanya Milen, dan artinya ia dapat mendengar suara Reo, lalu kembali acuh lagi saat arwah itu menoleh.


Milen yang sejak tadi ia mencoba melupakan suara suara arwah, sebab setelah di ruqyah ia memang tidak seberat saat itu di ganggu, namun bayangan Milen masih percaya atau tidak, jika itu adalah arwah Brian. Maka dari itu ia abaikan saja arwah Reo yang menguntitnya, sehingga arwah itu merasa kesal dan hilang.

__ADS_1


Tak begitu lama, Diva menjemput lagi Milen. Dimana tugasnya sebagai seorang intel, ia pun memahami dan selalu menjaga Milen dengan sepenuh hati, meski ia juga menantikan bulan madu yang indah, dimana ia paham hati jiwa Milen masih amat sakit atas semua penderitaan ia yang sebatang kara.


"Besok aku ingin mengunjungi keluarga di batam, kamu ikut ya."


"Iya. Mas Diva .. sebenarnya aku ingin katakan kejujuran."


"Soal apa, aku akan memahami kamu selalu."


"Kamu serius mas, sebab aku merasa canggung jika kamu dengar saat ini."


"Enggak aku selalu mendukung apa yang kamu inginkan, lagi pula aku percaya. Kamu sedang mencari jawaban kenapa kamu selalu di intai mereka yang tak kasat mata, selalu meneror dia yang berarti bagi kamu."


"Maaf kan aku mas Deva, aku wanita yang tidak tahu diri, hingga saat ini aku masih belum sepenuhnya mencintai mas Diva. Sebab di rumah itu, aku melihat arwah Brian yang tak mengenaliku." jelas Milen, membuat Diva terdiam.

__ADS_1


Maaf ...!! lirih lagi Milen, yang tahu Diva kecewa mungkin mendengarnya.


TBC.


__ADS_2