Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Bersikap Aneh


__ADS_3

Melin bergerak gerak, agar Brian sadar! ia disebelahnya pun terikat dengan kencang. Tanpa berlama lama, Melin berusaha keras membuka mata, setelah melepas lakban dari mulutnya.


Dengan ketakutan, empat pria itu membelah leher ayam hitam dan mengelilingi darahnya pada kaki Melin! bukan tanpa alasan, bau hanyir dan terlihat jelas sosok besar berada di balik karyawan hotel itu, dengan mata menyala memperhatikan Melin dan Brian, yang masih pingsan.


"Kalian mau apa? lepaskan kami!"


“Kalian orang Kota memang aneh! Lihat saja, kami yang sejak lahir tinggal di Pulau ini saja, tidak berani mendekat pada bangunan itu. Tapi kalian malah menginap, bangunan baru di dekatnya!” gerutu pria itu.


“Ehem! Dengar ya, asal anda tahu kami tidak sembarangan menginap di sini. Brian temanku pewaris sah dari pemilik lama Hotel ini, jadi itu artinya dia adalah pemilik bangunan itu. Lalu kenapa anda semua berani melarang kami menginap di sana?!”


Seketika pria itu pun menatapku, dengan terbelalak. Reaksinya yang aneh itu tentu saja membuatku semakin heran padanya. Bahkan sekarang ia mulai menunjukkan sikap antusiasme tapi entah kenapa ia terlihat seperti ketakutan.


“Astaga! Kau memang cari mati! Apa kau tidak tau kalau paviliun tua itu punya kutukan? Kami saja tidak berani! Asal kau tau anak muda, tempat itu dikuasi oleh hantu wanita yang suka bergentayangan di sana. Kata orang-orang, dia akan mencekikmu kalau kau berani mendekati kamar nomor Hotel itu!”

__ADS_1


Seketika Melin pun terpingkal setelah mendengar celoteh pria tidak waras itu. Apa dia pikir aku ini anak berusia lima tahun yang akan dengan mudah, ia bodohi hanya dengan sebuah cerita bodoh dan murahan seperti itu.


“Hei! Aku tidak bercanda! Kenapa kau malah tertawa seperti itu?!” protesnya.


“Sebenarnya justru anda lah yang aneh. Anda pikir saya akan takut setelah mendengar cerita bualan bapak itu? Kalau pun hantu itu memang ada, apa peduliku dengannya? Aku pemilik Hotel itu jadi akulah penguasanya!” ujar Brian sadar.


“Dasar keras kepala! Rasakan sendiri kalau nantinya terjadi sesuatu pada kalian!”


Yang pasti aku sangat lapar jadi langsung saja kuambil sebuah roti dari keranjangnya dan dengan lahap memakan roti itu. Dan ya, jangan ditanya karena sudah pasti pria itu akan mulai marah dan mencaciku habis-habisan.


“Hei! Itu rotiku dasar kau tidak sopan! Apa di Kota kalian tidak pernah belajar sopan santun?! Tingkahmu seperti kera saja!” makinya, karyawan itu kesal setelah melepas ikatan tali Melin dan Brian.


“Hanya sebuah roti saja kenapa kau ambil pusing?! Aku bahkan bisa membayar rotimu ini dengan sangat mahal! Bahkan aku juga bisa membeli semua yang ada di desamu!”

__ADS_1


“Dengar ya! Simpan saja uangmu karena di sini semua itu sama sekali tidak berlaku!”


“Dasar sombong! Kalau memang tidak butuh uang, lalu kenapa menunggu kapal logistik? Dengan apa kalian akan membayarnya?!” ujar Melin.


“Kau saja yang tidak tahu! Selama ini kami menggunakan sistem barter,”


Wow! Jujur aku sedikit tercengang dengan ucapan pria aneh ini. Bukan karena apa-apa, aku hanya heran di zaman seperti sekarang ini bahkan masih ada saja manusia yang melakukan barter. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga mereka harus serepot itu? Bukankah akan lebih efisien kalau mereka bekerja dan menghasilkan uang?


Tapi karena pria galak itu terus saja melotot padaku, dengan wajah masamnya, maka terpaksa kutawarkan barter juga untuk mengganti rotinya yang kumakan. Lagi pula aku bukan type orang yang suka dengan gratisan.


“Baiklah! Aku akan tetap mengganti roti yang ku makan. Katakan kau mau aku memberi apa padamu pak?!” dengus Melin dengan kesal berusaha mengelabui penjahat agar ia tidak dijadikan tumbal malam ini, ketika pria tua itu berbicara dan bersikap aneh.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2