Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Perjanjian Diva & Alva


__ADS_3

Milen sudah tidak tahan untuk pergi ke penang. Namun pekerjaannya membuat dirinya tak bisa pergi dan selalu gagal.


Sehingga dimana ia memutuskan untuk ikut ke pulau Xie di kota cina hanya menghilangkan suntuk berpindah kerja sementara.


"Kita jadi ke pulau X ya Mil?"


"Hmm ... Phoenix island, pasti sangat indah. Kalian udah urus semuanya kan. Tugas kita pemotretan untuk bertemu big boss asli." senyum Milen.


Ciiieuh. Yang ga sabar, udah mau tebar pesona ya? Goda Fara. Tapi Milen hanya bersikukuh untuk cepat selesai pekerjaan pembuatan film disana bersama artis hollywood. Karena ia tak sabar untuk rehat dan menemui kedua anaknya di penang.


"Sayang bunda. Rein dan Reina, gimana kamu saat ini. Sudah sebesar apa. Andai kamu seperti anak anak lainnya. Bunda pasti akan ajak kemanapun bunda pergi." lirih Milen.


Perjalanan pun telah sampai di bandara. Dalam waktu berpuluh jam ia kini sudah berada di Phoenix island. Ia menatap gedung menjulang, kondisi cuaca yang dingin dengan udara yang jauh berbeda di kota padat. Milen sempat berfikir apa Rein dan Reina bisa bertahan tinggal di kota seperti ini.


"Wah... ini super super highlight banget. Milen lo tau gak ini di luar ekspetasi. Lo tau kan, kita kerja sambil berlibur ini sih." ungkap Fara.


Milen pun menatap dinding dengan tulisan CTN. Dimana ada sosok merah besar, hal itu membuat matanya menutup mata, berusaha abai pada sosok tak kasat mata yang ia kembali lihat lagi, sebab dengan ia cuek mungkin arwah gila nan penasaran akan lelah meninggalkan keberadaan Milen dimanapun.

__ADS_1


"Wih, apaan tuh, nama obat alergi ya." sotoy Fara.


"Bukan Rah. Ini tuh Club The One Island. Kenapa kita harus ketemuan di sini sama big boss. Kok gue jadi curiga ya." Milen menatap Fara.


Perusahaan dalam S-FILM.


Milen dan Fara harus masuk kedalam Club tersebut. Ia telah memiliki akses kartu dari perusahaan. Hanya dengan menyebut nama depan mereka saja ia bisa mudah masuk. Karena larangan untuk menyebut nama lengkap sebagai peraturan di sana.


"Miss M." silahkan masuk. Meja anda nomor 7615. Kamar anda 3156.


"Miss F." kamar anda 3165.


Milen yang menggeleng kepala. ia berusaha untuk membawa koper kecil dan ingin benar benar relax serta membersihkan diri.


"Kita tunggu sejam lagi. Di tempat lift ini ya!" pinta Milen. Sehingga Fara mengangguk.


"Yes. Berkabar oke!" balas Fara.

__ADS_1


***


Sementara Di Tempat Lain.


"Jangan lakukan itu sama gu- gue Alva!" Terpatah patah bicara.


"Terus lo mau buat Milen bahagia atau menderita?" tanya Alva menatap dalam ruangan House.


Perbincangan mereka selama satu jam. Diva menatap wajah Alva yang sangat persis mirip dengan dirinya. Ia meminta Diva untuk bertanggung jawab, dan ia pula akan menghandle dan menjaga keluarga kecil mereka hingga waktunya tiba.


"Lo ga bisa balik sama Milen. Lo lupa talak tiga, biarkan gue masuk dalam pernikahan kalian. Gue egois, tapi gue pastiin Milen akan bahagia sampai lo kembali belasan tahun lagi."


"Kena-pa ha-rus meru-bah. Wajahmu seperti ku?"


"Hahaha. Karena Milen gak bisa lupain kamu, karena begitu trauma dan terpukul. Dengan begitu gue juga lari dari orangtua angkat gue. Diva kita satu darah dari satu papa. Jangan egois tanda tangan. Lagi pula lo ga bisa se- Aragon dan berkuasa kaya dulu bukan? tanda tangani, gue berhak bahagiakan Milen, karena gue bisa bantu rantai arwah kutukan yang selalu membuat hidupnya sial. Gue lebih kenal Milen dari pada lo Diva." teriak Alva.


Diva tak bisa berkata. Ia pun mengakui kesalahan sehingga ia menyadari apa yang harus ia lakukan adalah yang terbaik. Lagi pula, dirinya sudah cacat dan terbakar penuh. Sea yang telah meninggal, dan dirinya yang cacat fisik 80% sakit dikenali wajah aslinya, seolah karma untuk melepas Milen sampai ia sembuh.

__ADS_1


"Sayang. Tunggu Mas, hingga mas bisa menemui kamu kembali!" lirih Diva kesal menatap Alva yang merubah wajah seperti dirinya, seolah dirinya merasakan kesakitan Milen dahulu.


TBC.


__ADS_2