
Bugh.
'Auw.' rintihan rasa sakit Reina saat ini terjatuh, entah mengapa Shi kini ada di depannya.
"Shi, apa maksud kamu?"
"Kamu itu cuma modal beranak doang kan? Kamu liat ya! Sehabis ini kamu pasti masuk penjara!"
Reina bangun, setelah mengantar pesanan kue untuk tetangga, berniat mengantar dua toples kue kering ke rumah bu Rt. Tiba saja hancur karena ulah Shi yang tiba tiba melabrak.
Beruntungnya, ia hanya sendiri dan saat ini benar benar tidak sangka, jika Shi datang melabraknya.
"Memang apa masalahmu Shi?"
"Heh, jangan berlaga Begok ya! Kamu rampas suamiku Azam." ketus Shi, membuat Reina beristighfar.
"Jika soal Azam, semua itu sudah takdir. Aku bukan penghancur dan perebut suami orang!"
"Awas ya Reina, bentar lagi kamu di jemput polisi. Aku udah bikin laporan, kamu tahu kan papaku orang kuat?" tajam Shi, membentur bahu Reina dan pergi dengan ancamannya.
Hah. Helaan nafas Reina dan suara telinganya berdengung, berusaha mencoba tenang.
Reina menghela nafas, ia sungguh pasrah apa yang akan terjadi. Reina benar benar ingin cepat pulang, dimana kedua anak anaknya baik baik saja di rumah. Reina memang pagi ini pergi mengantar pesanan kue, setelah Azam mengantar kedua anak anak Reina sekolah. Dan Azam, tentunya tugas yang kini masih menjabat menjadi pilot, sudah berangkat dari pukul dua dini hari.
__ADS_1
Benar saja, selepas sampai rumah. Reina terkejut sudah ada dua polisi, bahkan mobil polisi yang terlihat banyak sekali tetangga mengintip.
Dengan perasaan berdebar, ia benar benar kaku dalam melangkah, bahkan Reina benar benar takut. Ancaman Shi tadi benar, karena dia orang berduit, yang sudah pasti bisa menghalalkan segala cara, semuanya dengan uang pastinya. Apalagi Tuan Alva orang penting dan seperti orang kaya raya.
"Maaf ada apa ya pak, kumpul ramai ramai di rumah saya?"
"Non Reina. Bapak polisi ini cara non Reina. Non Reina ada masalah apa sih non?" tanya bibi Ros dengan gugup.
Dimana polisi meminta Reina membaca surat panggilan, dimana seluruh tetangga bergosip bisik bisik. Reina yang berdegub membacanya dan membuat permintaan agar bibi tetap tenang, dan menjaga kedua anak anaknya dengan baik.
"Bi, pak Sup. Jaga anak anak ya setelah jemput anak anak, tolong jaga sebentar! Ga usah kabari Azam, karena dia sepekan ini harus bekerja. Reina pasti pulang, baik baik saja. Kalau anak anak tanya, Reina sedang pergi sebentar!"
"Iya non. Ya allah, nyonya saya orang baik pak. Jangan bawa nyonya." tangis bibi Ros, membuat semua pecah.
Reina masuk ke dalam mobil, beberapa tetangga mengintip berkerumun pada bibi Ros, mereka kepo menanyakan majikannya itu kenapa di panggil polisi. Bu Rt, yang sigap meminta semua tetangga bubar, dimana ia mengenal Reina bukan orang jahat, melainkan curiga karena wanita yang membuat laporan itu tidak suka pada Reina.
'Wah bu Rt, ngeri ngeri sedap dong kalau tetangga masuk bui. Usir aja bu Reina si tukang kue, tercemarlah wilayah kita nanti.' ujar tetangga.
'Benar tuh bu Rt, usir aja sekaranglah!' tambah seseorang membuat panas telinga bu Rt, yang mana bibi Ros semakin histeris dan memohon jangan mengusirnya, dimana ia yakin jika nona Reina bukan orang jahat, apalagi atas tuduhan kekerasan yang membuat wajah Shi memar di bagian pipi.
"Bener bu ibu, enggak mungkin juga Reina membuat kejahatan, mencelakai seseorang. Atas dasar menyukai pak Azam, mencelakai Shi dan menyingkirkan. Baiknya bu ibu bubar ya! Biar saya pantau benar atau tidaknya." ujar Bu Rt, dimana ia pamit ingin menyusul Reina, setelah membubarkan warga sekitar.
Hingga dimana langkah sang bibi yang lemas, dan bu Rt yang ingin menuju kantor polisi melihat Reina. Di kejutkan seseorang, yang membuat mata terkejut dan membola menatapnya.
__ADS_1
***
Hingga di kantor polisi, Reina sungguh bingung atas penamparan Shi waktu di rumah sakit, ia membuatkan visum, dimana ia menyatakan Reina mencelakainya karena ketahuan mengambil suaminya Azam, hingga polisi disana membentak Reina dengan keras.
"Tolong kerjasamanya ya bu! Apakah anda benar benar mengelak, menamparnya atau tidak?" keras anggota mengintrogasi Reina dengan sarkas.
Sudah selama tiga puluh menit membuat Reina benar benar tidak mengakui, karena prinsipnya cerita Shi benar benar bukan seperti aslinya.
"Saya kan sudah bilang pak! Cerita aslinya bukan begitu, beri saya bukti yang benar. Dia itu berbohong, saya menamparnya karena kata katanya kejam, cerita aslinya tidak benar jika saya ingin mencelakai saudari Shi pak, apalagi saya merebut suaminya." jelas Reina.
"Tapi nyatanya kamu itu menampar saudari Shi, dan menikah dengan suaminya kan?" lantang anggota polisi saat itu.
Reina diam, benar benar pasrah mencoba berdoa dalam hatinya, untuk diberi kekuatan. Hati dan pikiran Reina adalah kedua anak anaknya.
Braagh.
Reina di buat syok, benar benar ia pasrah dimana ini pertamakalinya ia tidak bisa membela diri, saat anggota itu menggebrak meja untuk Reina harus mengakui.
Tok tok.
"Hormat, lapor pak komandan. Ada saksi dan pengacara untuk saudari bu Reina." ujar seseorang anggota lain.
Dimana saat itu Reina yang menunduk di ujung meja, dengan seorang pria yang mengetik laporan, dibuat diam menatap arah lain.
__ADS_1
TBC.