Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Ingatan Brian Hidup


__ADS_3

“Emang kamu selalu dewasa ya?” tanya Melin.


Yas menoleh menatap Milen, ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Milen.


“Kamu tidak ada niat, takut sama aku?"


“Untuk apa? kita sama sama mahluk ciptaan juga kan." senyum Milen.


"Menurutmu aku kenapa bisa mati, apa itu takdir akhir aku, Mil?" tanya arwah Yas.


“Kelalaian? Kamu tuh memaksakan kehendak tau enggak? Aku kan udah bilang, kamu harus sabar. Aku pasti bakalan menemukan siapa yang membunuh kamu,” Milen menjelaskan.


Milen terdiam sejenak, ia beringsut duduk lalu menundukkan kepalanya. “Kamu tadi ngapain lewat kantor polisi?”


“Yah! Nyari tau siapa yang bisa lihat jasad aku-“ Yas pun teringat sesuatu.


“Tunggu! aku dikubur hidup-hidup sehabis dibius ya?” Yas teringat terhadap apa yang ia lihat.

__ADS_1


Yas memegang sekujur tubuhnya, lalu terengah-engah mengingat bagaimana sulit dirinya mengambil napas ketika ia sadar dari bius. Saat itu kondisinya musim hujan, tanah terasa lebih padat dan berat karena air bercampur dengan tanah. Ia melihat Sara tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, walaupun selama dua hari dirinya masih hidup di dalam tanah. Karena mereka berbeda, sama sama telah menjadi arwah tetapi berbeda generasi.


Mendengar hal itu, Milen terkejut. Benarkah satu sekolah, tragedi kecelakaan yang sama. Tapi berbeda waktu, sesama arwah tidak bisa menolong?! benak Milen penat.


Segala jenis hewan yang hidup di tanah mengitari tubuhnya. Bahkan cacing-cacing tanah masuk ke dalam telinganya, ,membuat kepalanya semakin pusing.


“Maafin aku Milen, kamu pasti akan kesulitan,” ujar Yas menyorot layu Milen yang terlihat sangat kesakitan, memegang tengku lehernya.


“Maaf Yas, karena aku dah membuat kamu mengingat lagi kejadian itu.” Milen meminta maaf untuk kedua kalinya.


Yas terbang melayang keluar dari jendela, ia keluar dari jendela kamar. Yas lalu berdiri tepat di depan pagar rumah Yas. Netranya menengok menatap kamar Yas. Milen pun fokus, agar ia bisa kembali ke jiwanya yang berada di kantin sekolah, tak jauh dari rumah Yas.


“Seharusnya aku tidak masuk ke sekolah itu, tapi itu juga bagian dari takdirku,” ujar Yas lesu. Ia menatap langit, tidak ada bintang yang menghiasi. Terlihat seperti hamparan kanvas hitam yang belum diwarnai.


Tidak lama hujan turun, air hujan menembus melewati Yas. Ia menjulurkan telapak tangannya. “Kenapa aku masih di dunia ini? Padahal alamku berbeda dengan mereka. Aku mau cepat-cepat pulang.” ujar arwah Yas.


"Yas, bersabarlah aku akan mengungkap kematian mu, membersihkan namamu! ingat, jangan dendam Yas!" teriak Melin dan arwah Yas yang melayang mengangguk senyum.

__ADS_1


***


Milen menatap ke depan setelah puas menatap tangannya yang tembus dari air hujan. Netranya membola kala seseorang berpayung hitam menyorotkan tajam. Tatapan matanya mengintimidasi di tengah kerumunan orang yang berlarian mencari tempat berteduh, diluar kantin. Brian memberikan segelas air minum, agar Milen meminumnya setelah sadar kembali ke dunia nyata.


Petir menggelegar, kilatannya terlihat jelas di belakang pemuda berpayung hitam tersebut. Pemuda tersebut adalah Jeha, ia sedang memasang raut penuh amarah pada Melim, yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kenapa? kok diem?" tanya Brian.


"Pria itu, namanya Jeha. Dia dalang, dibalik kematian Yas dan Sara di satu sekolah beda generasi tahun. Kita bawa dia diam diam, buat dia ngaku di depan pak Diva. Gue yakin, setelah dia ngaku dan jasad Yas terlihat, arwahnya bakal tenang tidak di bumi ini berkeliaran. Intinya Yas masih hidup, tapi Jeha bawa Yas dan kubur hidup hidup di gorong gorong, dia bawa dua karung tanah buat nimbun jasad Yas." jelas Melin.


"Astaga, tega banget ya." lirih Brian.


"Ya udah. Tunggu apalagi, kita sergap dia sekarang, Melin."


"Ajak dia kesini, tunjukin foto Yas. Entah kenapa gue ngerasa hal negatif, jika bukan jasad Yas aja. Tapi ada aura ungu, yang berarti masa lalu. Apa itu ya? kenapa hantu noni bernama Sara, yang dibilang Yas juga mendekat ya." ujar Melin.


"Serius, jangan bilang kita mendayung hantu, arwah Yas, bakal terungkap dua jasad dan dua kematian." bisik Brian, membuat bola mata Melin menatap dalam.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2