
Azam yang berambut basah, segera hampiri kedua anak anaknya yang seputih susu, setampan artis hollywood, perpaduan kulit inggris berwarna pink merona, membuat Azam takjub, kala jendela terbuka mengenai wajah kedua anak anaknya.
'Maafkan ayah! Semalam bunda pasti kelelahan membereskan, dan perjalanan terlalu lama. Jadi kali ini, maafin Ayah dan Bunda yang tidur terlelap ya nak!'
"Oke. Ayah." senyum menampaki gigi, saat Kanya dan Bima menggemaskan.
Kecup Azam pada kedua tangan mungil anak anaknya itu. Reina merasa tenang, ketika Azam menjawab yang masuk akal, jelas jelas tadi ia sempat kebingungan untuk menjawabnya. Ah! sudahlah, begini rasanya mempunyai orangtua lengkap, bagi Reina setiap apa yang ia tidak bisa handle, maka pasangan lah yang membackup. Benar benar pasangan itu saling melengkapi.
Azam meminta kedua anak anaknya duduk menunggu sarapan, bahkan kali ini Azam memakai celemek turut merampingkan tangan nakalnya pada lingkar pinggang Reina. Membuat Reina gagal fokus ketika Azam turut membantu.
"Kamu mau apa, biar aku buatkan."
"Aku mau bantu istriku buat sarapan, kasihan sudah lelah. Nanti aku suruh asisten datang ya, untuk membantumu bersih bersih."
"Berlebihan, lagi pula aku bisa."
"Tidak, urusan pembersih, kita pakai jasa. Aku enggak mau kamu lelah sayang, tugasmu adalah menjaga kedua anak anak, dan menjaga hatimu selalu untuk suamimu."
Cih.
Kata kata gombal rayuan Azam, lagi lagi membuat Reina senyum senyum sendiri. Bahkan tak habis habis, Azam yang tampan paripurna ketika memotong ikan, bagai chef yang tebar pesona. Hingga Kanya dan Bima naik, ke meja kitchen Set, sakin ingin melihat dekat ayahnya memasak.
"Ayah keren."
Eits!
Anak cantik dan anak tampan, tetap tunggu di meja makan. Dapur area ini berbahaya, dan banyak benda tajam. Tunggu 20 puluh menit, ayah akan membuat sup ikan.
"Ayah, itu ikan apa?"
"Iya ayah, Bima jadi ga sabar deh."
"Hari ini biarkan ayah yang memasak, bunda bantuin ayah siapin piring."
"Kalian ga sabar ya nak! Sama bunda juga, kita lihat apa yang ayah buat. Apakah nilainya lebih tinggi dari bunda?" menoel Reina, ketika meledek Azam.
"Cih, kamu meragukan aku istriku. Sudah pasti nilai kamu rendah 3 poin, aku itu koki terhebat. Anak anak, Ayah akan buat sup ikan patin, ini bagus untuk usia seperti kalian, dan tentunya untuk ibu hamil." tambah ledek Azam melirik.
Eh.
Reina mengrenyit, padahal ingin berdebat tapi tak jadi marah ketika kedua anak anaknya seolah bingung menatap aksi orang dewasa mirip bertengkar. Azam memotong ikan, melirik anak anaknya dan tawa penuh.
Hehehe.
"Maksud ayah, siapa tahu bunda Hamil. Apakah Kanya dan Bima suka jika tambah satu adik?"
Deg.
__ADS_1
Kanya, Bima terdiam dan menunduk, kala pertanyaan Ayah hampir membuat mereka sedih.
"Uh sayang, maafkan Ayah jika membuat kalian tidak senang ucapan ayah tadi, akan ayah tarik kembali."
Azam setelah mencuci tangan, hampiri Bima dan Kanya.
"No, apakah adik itu bayi kecil. Apakah kita tetap di sayang, jika kita punya adik?" tanya Bima, membuat Reina berkedip menatap suaminya itu.
"Bima, kenapa bicara gitu. Ada adik atau tidak pun, kalian nomor satu. Kasih sayang dan perhatian bunda, akan terus bertambah."
Bima dan Kanya seolah berfikir, maka dari itu ia menoleh kembali pada bunda Reina dan Ayah Azam.
"Ok. Sepakat, kapan Bima dan Kanya punya adik ayah?"
"Iya ayah, Kanya mau adik sekarang. Apa kita bisa beli di swalayan?" ujar Kanya, membuat tatapan Azam kebingungan.
Uhuk .. Uhuk ( Terbatuk )
Deg, hati ingin tertawa tapi melihat raut wajah Reina, seolah Azam yakin istrinya itu tidak siap.
'Ah, maafkan ayah yang salah berucap. Adik itu tidak seperti Kanya dan Bima membeli susu di swalayan. Sebaiknya Kanya dan Bima berdoa saja, doa kalian insyallah akan ada adik di perut bunda.' bisik Azam membuat kedua anak anaknya mangut.
Azam berdiri lagi, sesaat ingin melihat ikan yang ia kukus, sementara Reina mengaduk bumbu sup ikan.
"Bunda, ayah. Kalau adik dari perut bunda, kenapa bisa adik di dalam perut bunda. Emang enggak bisa lahir seperti kita langsung, biar kita bisa main bareng?" tanya Kanya.
"Aduh, bunda pengen pepsi. Sebentar bunda sekalian mandi ya nak. Kanya dan Bima, tunggu disini ya. Sama ayah, lihatin Ayah masak. Oke!"
"Oke bunda." teriaknya membuat Reina bergeser pergi, melambai pada Azam yang nampak pucat saat itu juga di tinggalkan.
Azam menjelaskan dengan banyak hal soal ikan patin, melupakan pertanyaan Kanya dan Bima tadi. Juga membuatkan sandwich dan susu untuk kedua anak anaknya sarapan.
Hingga Beberapa Saat Kemudian.
Kedua anak anak bosan menunggu sang ayah masak, Kanya bermain boneka dan menonton televisi, sementara Bima bermain bola dengan rak jaring yang terpajang di dinding, di sebelah Kanya.
Setelah di rasa selesai, Azam menyiapkan di meja makan. Azam berbicara untuk kedua anak anak menunggu, sebab Azam ingin memanggil Reina.
"Sayang, setelah itu matikan televisinya. Cuci tangannya, lalu bersiap duduk di meja ya!Ayah panggil bunda dulu."
"Iya ayah." serentaknya.
Azam masuk ke kamar, mendapati Reina yang sedang memakai toner tipis, parfum tercium membuat Azam berganti kaos karena tadi ia memasak sedikit bau.
"Sayang, ayo anak anak sudah menunggu. Masakan sudah siap."
"Eum, makasih suamiku."
__ADS_1
Reina berdiri, lalu saling berhadapan membuat Azam menarik tubuh Reina erat, bersandar pada dinding memiringkan wajahnya.
'Wangi, entah kenapa aku ingin selalu dekap kamu, rasanya aku bekerja berat sekali.'
'Azwm, aku sudah jadi milikmu. Jangan seperti ini. Ayo kita ke bawah!' ajaknya.
Sreeth.
Azam dengan kilat, membuat pelukan dan mengecup ranum Reina begitu saja, seolah Azam membutuhkan asupan sarapan biologisnya. Reina mematung menahan, hingga Azam merebahkan Reina ke sofa, diatas pangkuannya dalam beberapa detik menikmati amat dalam, hingga membuat rambut Reina yang basah sedikit berantakan.
'Azqm, anak anak pasti menunggu.' bisik nya, ketika Reina merasakan benda padat itu mengeras.
"Baiklah, maaf sayang. Aku hanya butuh asupan, nanti malam aku harus pergi. Jaga diri kamu dan kedua anak anak, jangan keluar di area ini tanpaku."
"Siap bos Azam." senyum Reina, hingga saat itu Reina yang akan berdiri, di hentakkan jatuh tepat pada milik suaminya.
Auw.
"Azam, .."
"Hahaha, ayolah. Anak anak sudah menunggu, kenapa kamu selalu membuatku terlambat Reina. Kamu nakal." gerutu Azam, melirik Reina lebih dulu pergi mendahului.
Cih.
'Benar benar pria gombal, dia yang nakal aku yang disalahkan.' gerutu Reina mengekor.
Hingga sampailah pada meja makan, terlihat kedua anak anaknya masih sibuk bermain.
"Anak anak, ayo sayang!" teriak lembut Azam.
Tak lama Azam menatap ponselnya yang berdering, terlihat jelas bibi Ros mengirim pesan meminta bantuan pada Azam, atas nama Shi.
"Sayang, apakah bibi mengirimkan pesan?"
"Sebentar aku lihat dulu, oh. Iya, tunggu bibi menanyakan data Shi, sayang. Maaf apa Shi anak angkat pak Alva?" tanya Reina, membuat ia menatap intens Azam.
"Aku malas sebenarnya jika kebahagiaan kita, harus ada nama Shi." duduk Azam, seolah tak bersemangat.
"Azam, apa mungkin bibi Ros menemukan anak aslinya, lalu .. " terdiam Azam dan Reina memandang.
"Kita makan dulu ya! Kita bicarakan nanti setelah kita pulang." ujar Azam, di anggukan senyum Reina.
Hingga kedua anak anak menghampiri dan duduk rapih, membuat Reina menyendokkan makanan, sarapan bersama.
'Uaah, kayaknya buatan Ayah lezat ya?' senyum Reina, banyak mengoceh agar mood Azam kembali naik.
TBC.
__ADS_1