
Reina kali ini beranjak ke toilet, dimana kedua anak anak Reina sedang bercerita panjang, Azam juga menyanjung lukisan Bima, dimana impian Azam terhempas dan kini berada di salah satu anak darah dagingnya yang menurunkan impiannya.
Melihat tertawa mereka bertiga akrab, membuat Reina mencuci muka. Menatap cermin. Dimana, ketika mereka berempat harus jalan bersama dan menjadi keluarga utuh. Bahkan hal yang membuat Reina jauh dari kata menyakitkan adalah, tamparan kata kata bu Jing dan Shi, beberapa tahun silam membuat kebakaran usaha fotocopy ibunda dan ayah tirinya terjadi, ditambah dirinya dinyatakan hamil, Azam menikah oleh pilihan orangtuanya.
'Andai kedua anak anak tahu, ia dilahirkan tampa pernikahan, apakah akan baik baik saja. Oh Tuhan, rasanya aku tidak sanggup melewati semua ini, jika Bima dan Kanya tahu bagaimana jika mereka bertanya, apakah ada sesi photo bundanya mengabadikan dirinya di dalam perut, dan photo pernikahan layaknya pasangan keluarga bahagia, jika kehamilannya di tunggu tunggu.' batin Reina, ia segera menyadarkan diri dan bergegas ke ruang Azam.
Reina mencipratkan kedua tangan, mengelap dengan mesin pengering setelah mengambil tissue kering. Bahkan bukan lagi hal yang baik, jika ia terus berlama lama di rumah sakit. Tetapi langkah Reina menuju ruangan Azam, terhenti ketika ada seorang wanita yang menatap tajam ke arahnya, meski Reina kali ini berusaha slow berjalan, Shi menubruknya hingga terkena gigi tiang.
Brugh!
"Auuw."
"Jadi kau berani menjenguk Azam, jadi kau lupa kejadian itu?"
"Shi, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Hah! hei, wanita murahan yang hamil di luar nikah, apa karena tidak ada laki laki lain yang menerima masa lalu mu, dan menerima kedua anak anak mu itu, hingga kau melupakan janji untuk menjauh dari Azam, Hah ..?"
"Jangan pernah melibatkan dan panggil nama anak anakku seperti itu ya! aku tidak segan padamu Shi.."
"Cih! rasanya ingin meludah, kau jilat lagi Ren. Jika kedua anak anakmu disini, akan aku panggil dia anak haram. Hey anak .. haram .. " gema Shi semakin gila.
Batin Reina, rasanya tidak tahan melihat Shi semena mena. Semakin diam Shi semakin saja menyudutkannya hingga Reina ingin lepas kendali.
"Hey anak kembar yang manis, kamu tahu. Jika ibumu itu nakal, dia banyak sekali pacarnya. Lalu mengandung kamu, dimana kamu itu tidak jelas ayahnya. Hahaha .." gelak tawa Shi, yang saat itu menertawakan Reina masih berdiri.
"Oh, masih ada lagi. Bahkan kamu tidak bertemu nenek kamu yang asli, karena ibumu di usir. Dan kalian berdua .. tidak di a-kui. Hahaha."
__ADS_1
Plak!
"Cukup Shi!" tamparan reflek Reina yang sedikit menyesal.
"Kau berani menamparku, hei .." Shi berteriak, ketika Reina sudah pergi melewatinya.
Reina sendiri yang terkejut kedatangan Shi, rasanya ingin cepat membawa Bima dan Kanya pergi dari tempat yang tak ingin, kedua anak anaknya bertemu Shi. Sungguh! ada rasa kesal ketika ia menjenguk semalam ini, tetapi nyatanya ada yang datang, membuat Reina rumit di kemudian hari.
"Kanya Ayo sayang, Bima Ayo nak! kita pulang sekarang!"
"Bunda .. tapi ... Bima dan Kanya."
"Pulang .. sekarang!" tegas Reina, yang membuat Azam berdiri.
"Reina, jangan pernah bentak anak anak. Karena dia ... "
Reina membawa Bima dan Kanya, hal itu membuat Heru yang baru masuk ruangan, sedikit tercengang, dan bertanya pada Azam.
"Azam, ada apa. Kalian bertengkar dipertemuan pertama ini?"
Azam menggeleng kepala, ia melepas selang infus di tangannya keras, akan tetapi Heru menahannya, agar Azam tidak pergi kemana mana. Karena saat ini, Azam masih menjalani perawatan yang sangat rentan, jika sampai mencopotnya.
"Lepas Her, gue ga bisa buat Reina jauh lagi. Dia datang tiba tiba kaya kerasukan, pasti ada sesuatu lagi yang terjadi sama dia. Gue mau susul."
"Azam, tapi Azam." Heru tak bisa menahan, ia membawa beberapa selang jarum yang dicopot paksa, dengan tiangnya. Mengikuti Azam yang berjalan lemas, dan darah berceceran begitu saja di lantai.
Sementara kedua anak anak Reina di lorong, rasanya berbalik arah tidak mungkin. Karena jalan keluar satu arah, dimana Shi senyum bagai iblis mendekati Reina yang menatap ke arahnya, tidak membuat Shi berhenti, dimana kedua anak anak Reina kebingungan, sesekali menatap lurus, sesekali menatap keatas melihat bundanya.
__ADS_1
"Bunda kenapa nangis." lirih Kanya sambil berjalan.
"Bunda ga kenapa kenapa sayang. Ayo kita cepat naik taksi, dari sini!"
Bruugh.
"Mau kemana kau Ren." Shi memegang leher Reina, melepas eratan kedua tangan anaknya.
"Tante lepasin bunda!" gigit Bima dengan kencang.
"Aw. Anak sialan. Kalian itu dasar anak .." membuat Bima hampir terjatuh, beruntung Azam menahannya.
"Kau tidak apa apa sayang?"
"Cukup Shi hentikan!" teriak Azam, dimana ia melihat aksi Reina di perlakukan kasar oleh mantan istrinya, hal itu membuat Reina menghapus air mata, dan segera mungkin meraih peluk Bima dan Kanya.
"Az, ini enggak seperti yang kamu lihat loh. Aku begini karena tadi Reina nampar aku duluan, jadi aku tadi .."
"Jangan pernah sentuh ibu dari kedua anak anakku. Menjauhlah, singkirkan tangan kotormu. Karena mereka begitu berarti, melebih permata." tegas Azam menatap tajam pada Shi.
Sementara Kanya dan Bima, melihat pertengkaran orang dewasa, terasa ketakutan dan menangis.
"Hei, hentikan ocehan kau Azam. Kau tidak berhak berkata seperti itu, pada putriku!" tegasnya dari arah belakang, membuat semua mata menoleh.
"Papa, semua bukan salah Azam. Tapi wanita beranak ini, yang menyebabkan rumah tanggaku hancur, bahkan dia penyebab Azam kecelakaan, dan Azam tidak bisa beraktifitas di perusahaan papa." jelas Shi, membuat Reina menggelengkan kepala, masih memegang kedua telinga kedua anak anaknya.
'Dasar wanita jahat.' lirih Reina saat itu.
__ADS_1
TBC.