Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Bekerja Naskah Film


__ADS_3

"Profesional lah Tuan Ha. Saya akan mengirim email terbaru, naskah kisah Cinta dan Alvaro bait kedua, lagi pula artisnya sebentar lagi datang. Agar segala artis bisa segera memulai untuk membaca naskahnya, dan segera memulai untuk secepatnya tayang!"


"Ok, True."


Alva tersenyum. Ia mulai melihat Milen yang menjadi dirinya kembali. Memanggilnya dengan Tuan, Ha. Sebatas kerja yang amat profesional.


'Kamu kuat Mil. Aku hanya sementara dan tak akan lama untuk melihatmu. Semoga tegar dan tabah. Bahwa kehidupan tak sesuai yang di harapkan, karena naskah ini adalah tentang kita, aku mencintaimu yang berbeda.' batin Alva.


"Saya ingin masuk!" di luar kantor SFILM.


"Aduh...duh ..duh..duuuuh duuuuh. Mas Diva kasian kan Milen, kalau acara besar ini kacau karena ye iy cemburu. Tidakkah bisa menahan hingga selesai meeting Milen dan beberapa produser terkenal. Milen juga gak tahu kalau di dalam dan kaitan Tuan Ha. Itu si Alva muda kece badai. Please, tidak kah Mas Diva berfikir jadi Milen dan Mas Diva ketika bersama madu. Sementara Milen, mereka disana hanya profesional!" ujar Mis, sebagai teman sekaligus asisten Milen membantunya bekerja.


Mendengar itupun Diva kembali keluar mencari udara segar. Ia membiarkan Milen masih dalam pekerjaannya. Sehingga ia melepas egois karena pria bernama Alva, bekerja bersama dengan Milen.


"Baiklah. Saya telah mengirim bait kedua kisah Cinta Alvaro. Mohon di kritik jika tak sesuai." pinta Milen, memberikan Naskah pada artis peraga.


Baiklah. Artis yang berperan menjadi Cinta memegang naskah. Setelah Milen beri aba aba. Begitupun Tuan Ha atau di kenal Milen adalah Alva. Ia pun memberi aba aba untuk fokus. Apalagi bayangan hitam itu muncul lagi dan lagi, tapi Milen segera menyalakan dupa agar bayangan itu pergi, sebab dupa murni arwah tak kasat akan kembali ke asalnya.


Satu ... Dua ... Tiga ... Acting Mulai !!


Cekreg!!


"Cinta. Ayo temani aku makan!" titah peran bernama Alvaro.


Bukde. Aku pesan mie ayam dua dan es teh manis, es jeruk satu ya !! teriaknya memesan.


Cinta kala itu pun tersenyum, belum ia memesan tapi sahabatnya itu sudah tahu apa yang diinginkan. Mereka pun makan ketika pesanan sudah tiba di hadapannya.


Ketika lama mereka makan hingga suapan terakhir. Cinta menatap dan menoleh mengambil tissue disebelah Alvaro. Ia tak sengaja bersentuhan tangan nya yang sedang ingin menyuap.


Sehingga saling memandang. Pria itu terkejut hingga makanan di sendoknya jatuh sebelum ke bibirnya. Cinta pun reflek mengambil tissue dan mengusapnya ke bibir Alva yang sedikit terkena percikan kuah mie ayam.


Alvaro pun memegang tangan Cinta, dengan tak sadar. Cinta pun meminta maaf dan ia mengambil tissue kembali untuknya. Lalu menggerutu hal bodoh. Masa ia, perempuan duluan terlihat agresif atau reflek bukannya beda tipis.


Cinta memalingkan wajahnya karena malu, ia meminum es jeruk dan tersenyum sedikit melirik. Pandangannya menatap Alvaro si artis pria berkulit putih, bermata sedikit bulat dan sungguh perfect dimatanya.


"Kenapa tiba saja melihat dia jadi deg deg seer sih, mengapa aku baru menyadarinya ya ?" lirih Cinta.


"Hati gue jedag jedug kalau deket kamu Cinta. Serasa lebih dari teman kita tuh bukan sahabat lagi."


"Eheuuum. Owh ya kamu tadi bilang apa ya Cinta?"


"Hah ... aku ga bilang apa apa loh." senyum balas Cinta. Ia sedikit menggigit bibirnya.


Cinta bertanya dan menggelengkan kepala nya, sementara Cleo pun membayar pesanan itu pada bukde, namun Cinta hanya melirik, sedikit demi sedikit ia bingung memulai pertanyaan apa dan tersadar ingat sesuatu.

__ADS_1


"Owh ya Alvaro, ada hal penting apa, katanya kamu ingin bicarakan?"


Alvaro pun tersedak ketika sedang menulis, Cinta pun dengan sigap mengambil air mineral, mengatur napas dan menatap saling berhadapan membuat terdiam kaku.


"Cinta. Sebenarnya aku ingin bicara sesuatu padamu?"


"Baiklah Alvaro, aku mendengarkan."


"Menurutmu apa arti pertemanan kita, sahabat atau lebih dari itu, maksudnya apa kamu mempunyai perasaan lebih dari sahabat terhadap ku? Meski aku tahu, kamu wanita indigo yang orang lain merasa takut mendekatimu, tapi aku menyukaimu."


"Haaah. Maksud ka- kamu Alvaro?"


Cinta masih tertegun apa yang dimaksud, apa pria itu sedang menebak perasaan atau ia sedang mengatakan perasaan sesungguhnya.


"Kenapa aku jadi berlaga lemot begini ya. Di tatap Alvaro dan mengatakan seperti itu." batin Cinta.


Cinta mengulang pertanyaan dengan sedikit gugup.


"Alvaro. Coba ulangi maksud kamu?"


"Maksud aku, aku sudah lama menyukaimu Cinta. Apa kamu menganggap lebih dari sahabat. Aku tidak tahu jika kamu mendengar detik ini bagaimana sikapmu selanjutnya. Tapi ini kenyataan perasaanku sesungguhnya."


Cinta masih tak percaya, ia tersenyum dan berkata.


"Hahahaha. Kamu lagi bercanda kan?"


Saat Alvaro hanya diam menatap. Cinta mencoba ulang dengan menatap bola mata sahabatnya itu.


"Kamu enggak serius kan Alvaro?" Cinta kembali mengulang, dan mencerna jika ia salah mendengar.


Alva menatap mendekatkan wajahnya hingga dua bola mata itu saling memandang. Ia memegang tangan Cinta dan meletakkannya di dadanya.


"Aku amat serius Cinta Theresia." Cinta pun melepas genggaman dan membalikkan wajahnya, menutup matanya.


"Apa ini mimpi, detak jantung kenapa naik turun seperti ini, sudah berteman lama tapi kenapa dia mengatakan hal lelocon menjadi aneh rasanya. Apa hanya aku saja yang ke pede- an?"


Cinta membuka mata dan menatap Alvaro yang masih menatap serius.


Mengapa perasaan ku seperti ini berdebar. Ia pun menggigit jari dan menatap kembali sahabatnya itu.


"Coba kamu katakan lagi Alvaro, aku rasa kamu sedang sakit atau salah minum obat."


"Hahaha. Maksud kamu apa ..?"


"Maksudku coba kamu ulang lagi, entah rasanya apa aku yang salah dengar tidak mencerna kamu bicara tadi."

__ADS_1


"I Love You. Cinta."


Aku telah menaruh perasaan ini padamu sejak lama. Tapi aku baru bisa mengatakan ini dengan takut. bisik Alvaro. Cinta pun menelan saliva dan tersenyum.


"Jadi aku ini nyata ya. Aku ditembak oleh sahabatku." lirihnya.


"Bisakah aku menunda mengatakan jawabanmu tidak saat ini Alvaro?"


Alvaro pun tersenyum. Cinta berfikir tentang sahabat nya itu.


Dulu aku mengagumi seorang bernama Alvaro Hartawan. Tapi karena berkat kecerdasannya. Aku pun mendapat beasiswa merasa menular darinya. Tapi aku yang berbeda, apakah boleh di cintai?!


"Tentu Cinta, aku akan menunggu, Akh udah malam. Ayo aku antar pulang!"


Cinta pun menuruti dengan perlahan langkah mereka terdiam. Sedang Alvaro mengikuti langkah Cinta dari belakang hingga sampai tujuan.


Cinta bingung apa yang harus ia katakan. Hingga lama ia pun berkata dan membalik kan badannya.


Namun Alvaro yang tak sadar karena berjalan tepat dibelakang Cinta terhenti mendadak. sehingga menabrak tubuhnya dan cekatan merangkul pinggangnya. Mereka pun bertatapan satu sama lain dengan sama sama terkejut.


"Aku."


"Maaf Cinta."


Tanpa sadar mereka berucap bersamaan hingga tiga kali gelagat gugup. Alvaro melepas pegangannya pada tubuh Cinta kala itu. Hingga Cinta semakin malu dan memberanikan diri.


"Tapi Alvaro. Sebentar lagi aku akan pergi. Aku dan kita tidak akan bertemu lagi."


"Aku akan menunggumu. Besok aku tunggu jam sepuluh pagi, kita bertemu di warung Tante teha. Kamu ijin sama ibu akan ikut bersamaku ya!"


Cinta pun mengangguk. Sehingga ekspresi tadi membuat mereka viral.


"Good Job." ucap Tuan Ha, mengalihkan dua artis yang selesai memerankan naskah.


"Selamat ya. Kalian sungguh perfect." Memberi tepuk tangan.


Milen memberikan senyum bahagia. Kala itu ia hanya meminta saling mendukung dan support agar segalanya berjalan dengan lancar dan baik. Dan film remaja mereka di terima


Tak lama setelah keruangan meeting. Milen. Membiarkan semuanya berjalan adegan lanjutan. Tapi kala itu ia juga tidak bisa memutuskan bicara pada Alva lebih serius soal umi dan abie beberapa hari lalu. Sehingga membuat luka dan kecewa pada Milen kala itu. Hingga di mana Milen kembali ke cafe puncak setelah acara kerjanya selesai. Akan Tetapi seseorang memanggilnya.


"Sayang. Apa kita bisa bicara?" pinta Diva.


Milen pun hanya menatap dengan pias. Hingga akhirnya ia mengalah setelah meminta ijin pada kru dan produser Film.


"Baiklah Mas. Mas tunggu di teras kolam ikan ya!" titah Milen.

__ADS_1


Saat Milen menghampiri. Milen pun terkejut ketika seseorang menghampiri Diva dengan manja, merangkul dari belakang membuat Milen kala itu tak percaya dan menggeleng kepala.


TBC.


__ADS_2