
Beberapa waktu mereka menuju pulang, dan mulai sedikit panik terutama Melin.
"Jadi gimana? ambil ga tawaran kerjaan pak Diva?" tanya Brian.
"Kita bukan intel, tapi kalau kasus kematian gak terungkap, gue ga bisa bantu. Kecuali arwah itu yang datang, kita bukan dukun atau peramal Brian! intinya freelance."
"Tapi kalau terungkap, kita dibayar Mil, lumayan buat uang saku."
"Brian, kerjaan kita ikhlas. Kita bukan pemburu hantu, gue ga suka sebutan itu."
Tatapan Melin yang kesal, membuat Brian semakin suka. Ia tahu Melin membutuhkan uang untuk pergi ke sumatera. Brian tahu, Melin sedang kesulitan ekonomi mengejar kampung nenek Kari.
"Besok kita ke sumatera. Gue anter lo."
"Pake apa, lo ga bercanda kan?"
"Tabungan ayam gue, udah belasan tahun. Itu pasti cukup, gue udah janji kan sama lo. Sekarang gue nepatin janji ke lo Mel. Kita bff saat ini, gue ngerti di saat gue benci sama lo yang aneh, ternyata lo yang care selama ini. Temen temen lain, nihil mereka menjauh. Malah anggap gue gila dengan samar samar jumpscare yang sering gue lihat, orang bilang gue halu."
"Gue. Gue ga bisa, itu uang lo."
__ADS_1
"Gue mau cari nenek Kari. Nenek lo, nenek gue juga. Kita berangkat ya besok! sekarang gue anter lo pulang. Tapi ke rumah gue dulu, gue mau packing koper baju baju. Gue nginep, berjaga di rumah lo lantai bawah."
Perkataan Brian, membuat Melin terdiam. Jujur ia juga hanya seorang diri. Ia tahu, sosok Brian juga bukan pria nakal. Sehingga Melin senyum dan menyetujuinya.
"Thanks. Best Friend For Ever."
***
Malam Harinya.
Suara mencekam itu masih setia membekas di telingaku. Ku pandangi langit-langit atap kamarku. Air itu menetes mengenai wajahku. Satu tetes, hingga menyusul tetesan-tetesan yang terus membasahi semua tubuhku. Ah, tidak hujan, langit sangat cerah dengan bulan dan bintang yang menghiasinya saat aku memandang keluar kamarku. Dan Brian yang berada tidur disebelah sofa, seolah tidak merasakan air itu.
"Mil, lo sama sekali ga basah, badan lo kering. Lo pasti bermimpi yang tidak-tidak. Sudah, kembali lagi tidur sekarang!"
"Apa? Badanku tidak basah sama sekali?"
Perlahan aku kembali menuju ranjangku dan menarik selimutku. Melihat Brian kembali tidur, yang masih berada di samping kasurku dengan nyata, aku sedikit lega. Melin menoleh ke arah pintu, ia memang ditemani Brian, karena merasakan ketakutan.
Suara itu dan bau basah dari air kematian menyengat terus menyerang hidungku. Ketiga anak kecil itu terus berlarian dengan suara yang sangat menggangguku.
__ADS_1
Semakin kutarik selimutku hingga tubuhku tertutupi. Jari jemari kakiku tersentuh sebuah tangan yang menariknya. Segera ku tekukkan kakiku dan aku mendekat ke Brian, tapi kaki terasa kaku, dan mulut seolah terkunci.
"Kakak, kakak, dia jahat kak....." arwah anak anak itu ku pandangi, bagai cahaya yang tembus dari pintu kamarku sehingga pandanganku berubah di tempat lain.
Bau itu semakin menyengat. Aku mencium bau air yang muncul dari jasad mahkluk hidup yang mati dan membusuk.
"Kakak, kakak, bantulah kami! Kami takut!"
Aku menutup telinga dengan kedua tanganku dan terus berusaha mengabaikannya, hingga kipas angin yang menyala tiba-tiba berhenti menyala.
Ku buka pelan selimut yang menutupi seluruh tubuhku dengan sangat pelan sambil melihat seluruh ruangan kamarku. Syukurlah, ketiga anak itu sudah tidak ada, begitu juga bau itu yang sudah menghilang dari kamarku. Aku turun dari ranjangku dan menyalakan kembali kipas itu dan akhirnya kembali berputar.
"Ah, lega sekali." ucapku dan segera melangkahkan kakiku kembali.
"Ting, ting, ting..."
Suara apa itu?! gemetar Melin yang menoleh ke arah tirai jendela mulai bergoyang. Melin ingin berteriak memanggil Brian, namun entah kenapa suaranya tiba tiba menghilang.
TBC.
__ADS_1