
Beberapa hari kemudian, Alva mengadakan ke pulau bersama rekan tim nya, termasuk Milen yang harus ikut. Entah, bagaimana hidup nya ia benar benar ingin menanyakan keadaan dimana Diva, dan pemutus kesialan karena kutukan.
Jadi setelah beberapa jam mereka sampai di pulau, Milen yang menatap Alva berdiri saja tanpa asisten pribadinya, hal ini membuat Milen mendekat ketika hanya mereka berdua saja.
"Alva Muda boleh aku bertanya, kenapa kamu lakukan semua ini, aku sudah tahu kenapa kamu merubah wajah kamu dengan Diva ..?"
Seringai senyum miring Alva, menoleh ke arah Milen saat ini.
"Kamu tanya padaku Mil, jika kamu sadar. Harusnya kamu sudah melupakan suami bodoh yang kamu harapkan itu! Dia sering berganti pasangan, lalu kamu yakin dia bisa setia padamu, setelah dia berkali kali menyakitimu? Kamu bodoh, mempercayakan dirinya hanya karena dia dulu mencari Brian, kamu lupa keadaan Brian saat tiada?"
"Kenapa kamu ingatkan masa pahit itu Alva, kamu tahu semua tentang aku?" sedih Milen.
"Aku tahu tentang semua dirimu Milen, termasuk Azam. Dia berada di singgasana dunia berbeda, dan mungkin usianya kini sudah akan beranjak remaja. Kamu lupa, aku juga di takdirkan berbeda dan karena kutukan itu aku terus mencarimu, berharap bersama kamu kita bisa lepas. Kutukan mata batin nenek moyang kita, harus di putus dengan dua insan yang mempunyai mata batin dan saling mencintai, tapi aku rasa kamu tidak sadar dan tidak ingin memutus rantai kesialan itu. Maka dari itu, setiap kamu menikah akan gagal atau di tinggalkan dengan kematian suami mu yang tragis kelak." jelas Alva Muda.
Deg, sakit hati Milen di ingatkan itu lagi.
"Lalu, di mana keberadaan Diva saat ini, kenapa aku sulit. Aku berhak tahu!"
"Lihatlah!"
Alva memberikan surat yang dibubuhi jika perjanjian Diva yang tidak akan kembali pada Milen, dan tidak ingin menemui Milen lagi. Dia cacat mental di kirim oleh Tuan Stev."
"Kami bohong kan Alva?"
"Dari pada berdebat, lebih baik bersiap. Proyek kita di pulau ini sudah menanti." ujar Alva, mengelap tangannya dan pergi.
Milen terdiam beberapa saat, selama perjalanan ia hanya merenung dan banyak mengingat hal.
Kamu tau. Kamu lucu jika seperti ini. Dulu aku punya sahabat pria. Aku menyukainya, ia juga sama yang tidak suka bau bawang goreng.
Tak suka makan ikan laut karena alergi tertentu. Menurutnya tidak enak dan rasa di lidahnya seperti daging mentah. Hahaha... benar benar lucu.
Milen terdiam ketika pria itu menatap senyum padanya.
"Maaf. Aku meracau terus." ujar Alva, agar Milen terhibur, yang kini duduk di sebelah bangkunya.
"Sayangnya sebuah sesuatu terjadi. Bertolak, apalagi dia berbohong. Hal itu membuat aku membencinya. Hal itu juga permintaan janji Ummi dan Abi nya untuk tetap saudara. Kami tidak boleh bersatu.. " senyum Milen membalas, membuat Alva diam seakan baru tahu kenyataan Milen menyembunyikan semua darinya.
__ADS_1
'Jadi karena ini Milen menghindar dari ku.'
"Karena orangtua kamu takut jika aku akan membuat kamu mati mengenaskan." tambah Milen meracau.
Milen! Andai kamu tau, aku melakukan itu. Semua karena terpaksa untuk menyelamatkanmu. Aku berusaha sabar dan tak percaya harus menyakitimu.
Tapi aku akan membayar kebahagian berlipat lipat. Aku bisa seperti sekarang karena berjuang untuk dirimu. Kini kesempatan untuk membuatmu bahagia meski bayang dalam lubuk hatimu masih tersimpan mantan suami gila masih di sana.
Hingga sampailah mereka, Alva pun pamit sebentar kebelakang meminta Milen berjalan lebih dulu ke sebuah perahu.
"Nona. Ini semua yang nona butuhkan."
"Terimakasih Ale."
Sekembalinya Alva, Alva meminta Ale pergi. Ia merasa kesal karena aksi tatapan wajah dekatnya terhambat dan terganggu ketika Ale datang.
"Kau. Merusak kesenanganku saja. Membuyarkan tatapan cahaya menjadi gelap." gerutu kode isyarat Alva pada Ale.
Sehingga Ale yang tahu arti isyarat itu. Ia pamit pada Nona Milen, untuk menjemput dokter Rob.
"Milen. Jika kamu bertemu dengan pria teman baikmu itu. Jika kamu di ditakdirkan bersama apa yang akan kamu lakukan?"
Tak lama dokter Rob, datang. Alva langsung menuju bus private dengan di dalam yang terbilang megah. Dan Milen hanya menggeleng ketika peralatan milik pribadi Alva terbilang elit.
Beberapa saat kemudian. Milen merapihkan barang barang nya. Ia mengantarkan kedua anaknya dan kedua mertuanya untuk terbang ke penang. Hal itu membuat rindu Milen masih menggebu pada kedua anak anaknya. Pasalnya ia telah berada liburan bersama selama satu minggu.
"Hah. Gak kerasa kesibukan akan kembali. Meski Rein dan Reina bukan darah dagingku, tapi karena mereka aku bisa ceria."
"Bos. Ini pengajuan Cuti Milen untuk meneliti. Dan surat perjanjian telah nona Milen bubuhi."
Alva yang berada di tempat lain, di tempat kebesarannya tak jauh dari Milen. Ia menatap senyum ketika Milen meminta waktu untuk menikahinya melewati masa idah. Hal itu agar ia tak ingin terburu buru untuk menjadi cemoohan.
'Berhasil, aku membuatnya menerimaku?' batin Alva Muda.
Tak apa Milen. Aku akan bersabar menunggu Masa idah adalah tiga minggu lagi bukan? benaknya.
"Ale!!" teriakan Alva selalu menggema di ruangan. Sehingga tatapan karyawan lain yang lewat terutama petugas pantry selalu terkaget. Ketika melewati dinding sang atasan.
__ADS_1
"Cepat hubungi EO. Urus pernikahan akad dan gaun pernikahan di butik ternama. Masa idah Milen tiga minggu lagi. Jadi tiga minggu lewat satu hari harus di adakan!" menelepon.
Ale ingin berkata untuk menejelaskan. Tapi ia sudah tak bisa berkata ketika. Bosnya sudah memberi tatapan tak enak padanya.
"Sepertinya dia sudah tidak tahan. Haah.. itulah mengapa aku tak ingin jatuh cinta." batin Ale.
***
Di Perahu.
"Fara. Apa kau ingin bermain banana boot?" tanya Milen.
Tidak aku di sini saja Mil, jika basah bagaimana kita tak membawa baju ganti. balas Fara.
"Terlihat Satie sedang menarik tirai di gajebo yang mengapung di tengah lautan. Ada apa Yo?" tanya Fara menghampiri.
Bantu aku tolong tarik !! Milen. Fara dan Fani pun bergegas saat satu tim dalam membantu apa yang mereka harus bantu, dan kepanikan tiba ketika sesuatu terjadi saat angin kencang.
"Ah. Apa angin badai akan datang?" tanya Milen.
"Semoga saja tidak Mil. Jika ya, kita akan terlambat datang bukan. Salah kita yang mencoba bersantai di tengah lautan." gerutu Fara.
Tarik lagi. Ayo cepat sedikit!!
Gajebo yang sedikit miring. Milen dan Fani berpegangan sedangkan pelatih belum tiba menjemput meninggalkan mereka.
Oke tarik, angin begitu kencang keseimbangan pun tak terkendali jika tak berpegang kencang tak ada tangan lain di gajebo untuk menopang.
Byurr ...
Suara sesuatu jatuh kelaut. Selesai juga, Satie dan Ran saling tos terlihat lambaian tangan minta tolong .
"Fara?" serentak berbicara.
Semua panik mencoba mencari sesuatu.
Satie tertegun. Ran yang mendayung kebingungan dan meminta seseorang menolong.
__ADS_1
"Cepat berenang kalian kenapa diam!" teriak Milen, saat temannya kecebur di laut.
TBC.