
Reina membawa kedua anaknya ke ruang tamu, memperlihatkan mainan dan kue kesukaan mereka. Hingga terkejut, di saat kedua anak anaknya bertanya soal pertemuannya dengan sosok Dady.
"Bunda! Kanya boleh tanya sesuatu ga bun?"
"Boleh dong! emang apa yang mau kamu tanyain cantik." menyuap cupcake.
"Ada tugas mengarang di sekolah! Kanya dan kak Bima boleh tanya gak? pertemuan Bunda dan Dady yang happy, sehingga kami ada di dunia ini." senyum Kanya, membuat Reina getir menyempitkan senyuman.
Deg.
"Dulu ... Bunda, ..." terdiam sejenak, menghela nafas sambil melirik bibi Ros.
Impian masa muda Reina, saat ke rumah Azam! Hal yang tak pernah di duganya saat ini, melihat pernikahan Azam di saat ia ingin menyatakan dirinya Hamil, tapi di tengah sana sepasang sedang menggenggam erat tangannya dan menyanyikan lagu cinta pernikahan.
Mulai saat ini selama aku hidup.
Aku akan mencintaimu.
Aku berjanji ini.
Tidak ada yang tidak akan kuberikan.
Mulai saat ini.
Aku akan mencintaimu selama aku hidup.
Mulai saat ini.
Azam membawa Shi menghadap pemimpin pernikahan.
"Saudara Azam saya bertanya kepada anda, apakah anda mengambil saudara dengan Shi sebagai pendamping hidupmu? Selalu setia dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, tak terpisahkan sampai akhir hayat? Jika iya katakan Ya! saya sangat bersedia!" ucap pria paruh baya di hadapan keduanya.
"Ya, saya mengatakan bersedia!" ucap Azam, dengan suara lantangnya dan mantap.
"Saudara Shi saya bertanya kepada anda, apakah anda senang menerima Azam sebagai pendamping hidupmu, selalu setia suka maupun duka, dalam untung maupun malang, tak terpisahkan sampai akhir hayat? Jika iya katakan Ya saya bersedia!" ucap pria paruh baya di hadapan keduanya.
"Ya, saya bersedia menerima Azam sebagai suami saya," ucap Shi, terdengar lembut dan sedikit malu.
"Dengan ini saya nyatakan anda berdua sah sebagai pasangan hidup sampai maut memisahkan!"
__ADS_1
Ucapkan pemimpin pernikahan tersebut begitu lantang, dan memberikan sebuah cincin pernikahan.
Suara tepuk tangan para tamu undangan dan sahabat serta kerabat keduanya, mungkin terdengar bergemuruh di seluruh penjuru taman cantik tersebut.
Azam mengecup lembut jari manis berhiaskan cincin putih pernikahan mereka tersebut, membawa rona indah wajah manis Shi.
Shi menunduk untuk meraup bibir merekah di depannya itu.
Chuuup.
Kecupan lembut mendarat di bibir seksi Shi, menciptakan rona merah samar di wajah manis berfitur feminin tersebut.
Saatnya pelemparan buket bunga.
Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang belum menikah, maupun belum menemukan jodohnya sampai detik ini, kedua pengantin yang baru menikah berdiri memunggungi para tamu yang hadir hari ini dan di sebuah taman begitu indah.
Tiga.
Dua.
Satu.
Kyaaaaaaaaaa.
Yahhhhhhhhhhhh.
Kyaaaaaaaaaaaa.
Reina saat itu terdiam, terpaku saat buket bunga berada di dalam pelukannya dan di pandang begitu banyak ekspresi, membuat pipinya melempar bunga itu, pergi setelah memberikan bucket pengantin ke seseorang pelayan di sampingnya, seketika pelayan baru datang itu kebingungan, dan mungkin pengantin belum melihatnya. Reina pun pergi dengan berlari menahan sakit, aksi Azam yang mungkin tidak ingin Reina maafkan.
Konon kata orang zaman dulu, jika kau mendapatkan satu buket bunga dari pengantin pesta pernikahan ini dan maka orang selanjutnya yang akan menikah adalah kau. Tak perduli kau itu single ataupun memiliki pasangan, yang terpenting kau adalah orang selanjutnya menikah secepatnya!
Tapi bagaimana bisa, Reina menikah selanjutnya. Sementara pengantin pria di sana, sudah menikah lebih dulu meninggalkannya tanpa satu kata pun.
Reina menatap dalam diam, dari kejauhan tanpa menghampirinya. Ia masih berdiri di samping dekor luar, dengan tidak banyak orang berlalu lalang, karena semua berkumpul di ruangan sana! hanya ada pelayan menjaga makanan saja. Reina pun mengusap air mata, rasanya bagaimana bisa ia menjadi wanita sangat bodoh.
Sehari sebelumnya, Reina merasakan mual. Masih menimang acara party setengah sadarnya! hingga bangun tidur terasa perih di bagian itu, membuat Reina mengurung diri dari hari ke hari. Hingga dimana ia yang sakit mual, setelah beberapa minggu kemudian.
Pekerjaannya saat itu pun masih sama, menjadi pramugari, namun semakin hari Reina semakin tidak bisa mengontrol di mana asupan makanan tidak sering ia telan, malah ia muntahkan kembali, hingga ia lepas landas menuju rumah, izin tidak bekerja karena sakit ke kantor pusat untuk pulang.
__ADS_1
Reina juga mencoba mengontrol dirinya ke rumah sakit seorang diri, di bagian dokter umum. Setelah antrian panjang, hal begitu mengejutkan jika dirinya hamil. Reina sempat tak percaya hidupnya akan hancur karena dirinya yang terlalu bucin, bodoh dan mau saja menerima pesta kantor yang mereka bilang! Jika acara ini tidak setahun sekali, dikucilkan jika tidak datang! Azam saat itu merayu agar Reina datang, tapi saat di party entah kenapa dirinya berpisah pada temannya. Bodohnya lagi, Azam pergi setelah kejadian itu, seperti pria yang tidak punya tanggung jawab.
"Huhuhu! bibi yakin, kalau non bicara baik baik. Orangtua Non, pasti mengerti!" ucap bibi.
"Reina tidak mungkin menerima lamaran Roy! dia kekasih sahabat Reina bi, juga Reina harus katakan jika Reina hamil. Apa aku gugurkan saja ya bi..?"
"Astaga non! itu bukan hal baik, bibi janji akan temani non Reina! Jangan lagi bicara seperti itu ya non." ucapan bibi Ros, membuat Reina berterus terang, dan saat itulah semua keluarga murka, sebuah koper di minta untuk membawa pakaian Reina, keluar dari rumah ini beserta daftar nama dari keluarga, namanya bahkan di coret bukan lagi bagian dari keluarga, bahkan orangtua nya mati pun Reina tidak diperkenankan datang.
Bibi Ros, senantiasa menemani Reina yang histeris setiap hari. Hingga sampailah esok pagi, Reina berniat mengunjungi kediaman Azam! Akan tetapi tidak di sangka, jika yang ia temui adalah pernikahan Azam. Azam telah menikah, dan putus harapan Reina untuk meminta tanggung jawabnya.
Reina yang berencana pulang, ia di kejutkan dengan seorang wanita paruh baya! wanita itu membawa Reina dengan paksa, di ruangan bawah tanah yang masih terlihat ada acara pernikahan di atasnya.
Byuuur!
Seukuran gayung, di siram tepat ke wajah Reina. Reina rasa dia adalah keluarga Azam, atau Reina yang salah datang dengan pakaian biasa, membuat mereka murka. Tapi apakah harus seperti ini mereka memperlakukan?!
"Kau tahu, aku nyonya Jing. Aku kira kau gelandangan yang nyasar pada acara kami. Ternyata selang satu jam kau berdiri di sana! kau itu perusak hama, racun mematikan yang bisa merusak segalanya!"
"Apa maksud ibu, saya hanya ingin bertemu Azam! karena saya hanya ingin ..." Reina memegang perutnya, membuat perhatian pada wanita paruh baya itu.
"Kau itu Reina, pramugari salah satu teman putraku kan! aku peringatkan padamu, jika kamu sekali saja datang, dan muncul di depan putraku. Aku bisa saja membuat hidup keluargamu hancur! dan membuat kau mati bersama di dalam perutmu! ingat ya, Reina. Dengar perkataanku! kau pergi dari kehidupan putraku, jika tidak kamu dan janin itu akan lenyap. Ingat keluarga kamu dan putraku itu, tidak se-ta-ra!" bisik Jing, membuat Reina tak sampai hati.
'Jadi dia ibu Azam?' Reina saat itu di lepaskan, di beri waktu sampai pagi hari untuk pergi dari ibu kota. Bahkan Reina yang tak punya kendali, dirinya yang sudah terusir malah bernasib menyedihkan, bagaimanapun Reina harus menyelamatkan janinnya! ia tidak mau menjadi seorang pembunuh, dan bibi Ros kini seperti ibunya lah. Membuat Reina kuat, dan pergi dari ibu kota.
Reina mengajukan pemberhentian kerja, melalui surel. Membuang semua kartu lamanya dan berharap ia hidup bahagia dan benci dengan pernikahan. Ia benci dengan pasangan yang bisa saja tidak bertanggung jawab.
Dan itulah ingatan Reina saat ini, hal pahit yang tak bisa mendekatkan lagi kedua anak anaknya dengan Azam.
"Bun- kok bunda nangis sih? Bunda, Kanya dan Bima salah bicara ya? maafin kami ya Bun, karena kita udah tanyain soal dady kita, habis Kanya denger dari temen soal bahagia bunda dan dady bertemu bahagia ... sekali ... jadi kita tanya sama bunda, pengen denger." ucapnya.
"Iy bunda, maafin Bima juga ya Bunda. Bunda kan pernah bilang, kalau dady kita sudah di surga. Dia meninggalkan kita saat bekerja." menunduk Bima.
Reina menatap bibi Ros di sampingnya! membuat pelukan hangat, dan rasa kasian pada kedua anaknya itu. Sampai sampai Reina tak bisa menjawab, dan membohongi mereka.
'Maafin Bunda nak! semoga besar nanti kamu tidak kecewa sama bunda.'
"Kita masuk ke kamar ya nak! nanti bunda ceritain. Bunda juga ga nangis sayang, ini hanya terharu ... karena anak anak Bunda, benar benar pintar." gemas Reina, yang kala itu mengarang menutupi masa lalunya.
"Terus, bunda sana dady happy kan?" tanya Bima.
__ADS_1
"Iya happy, ayo kita masuk kamar. Bunda tunjukan sesuatu dan cerita agar kamu bisa menulis tugas ya." senyum Reina, di anggukan kedua anak nya.
TBC.