Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Menerima Takdir


__ADS_3

"Sea. Apa semua ini kamu lakukan sengaja. Atau memang kamu merencanakan untuk membalas. Karna Brian menyukaiku. Taukah kamu dia adalah cinta pertamaku disaat kuliah sebelum mengenalmu. Mengapa kamu lakukan hal licik ini?"


Brian adalah pria terbaik dari keluarga berada. Aku bisa mengenalnya dan merasa kasih sayang karenanya. Dari masalah perlakuan keluarga terhormat yang membuat aku malu, hingga aku bisa melupakan Alva yang mempermainkan, sahabat sekaligus kakak Raziq memutuskan khitbah.


"Alah, jaga bualanmu itu Mil, kamu pikir aku percaya. Ingat, tempat ini adalah hak paten usaha cafe Love, milik aku!" ujar Sea, ia bergegas pergi.


Milen hanya senyum meringis, tak bisa membayangkan kenapa ia bisa berteman dengan Sea, tidak pernah menyangka jika nasib Milen harus tragis di tikung sahabat sendiri. Bahkan cafe yang ia rintis, harus ia relakan menjadi milik Sea, hanya bisa menatap mirip custumer di cafe Luse. Bahkan cafe Milksea, adalah cafe nama Milen dan Sea yang digabung, telah berganti dari cafe MilkSea menjadi cafe Love.


Milen di kitbah merunduk ketika bergeming. Ia lalu menghapus air matanya. Tapi menatap sepasang sepatu berada tepat di hadapannya. Milen pun menatap dalam posisi masih duduk merunduk.


"Mas. Kamu kenapa di sini?"


"Sayang. Akhirnya mas temukan kamu juga."

__ADS_1


Diva tiba saja ia memeluk Milen. Milen ingin sekali melepas, tapi eratan itu sangat dalam. Diva pun meminta Milen untuk mengabulkan permintaan yang ia inginkan.


"Mas harus berbuat apa. Apa mas harus berlutut padamu. Mas telah mengecewakanmu. Maafkan Mas Mil."


Milen terpaku akan sikap Diva kala ini. Ia meminta Diva untuk bersikap semestinya. Lalu menghapus air mata di pelupuknya. Milen segera meminta maaf dan apakah Diva mendengar saat ia sedang meracau masa lalu ketika Sea saat ini juga telah tak ada.


"Maafkan mas. Mas tau ini berat untukmu, tapi apa kamu tau sayang. Mas tidak bisa meninggalkanmu. Maafkan karena kesalahan Mas, mas harus menikahi Sea. Dan karena sebuah perusahaan papa terancam. Mas harus melakukan ini."


"Mas. Jika kamu tak bisa hidup sederhana. Aku bisa apa, andai pria di hadapanku Brian. Ia sudah pasti akan membawaku kemanapun dalam keadaan apapun. Aku pasti akan mengikutinya. Karena dia selalu mengutamakan kebahagian dan tak pernah menyakitiku."


Diva memegang wajah Milen. Ia masih menatap dalam. Tatapan Milen membuat ia rindu dan bergairah. Milen menepis dan memberi punggung padanya.


"Mas. Aku tak akan egois. Aku akan menarik perceraian kita. Kita akan bersama, tapi satu hal aku tak ingin satu atap bersama Sea." ucap Milen, menahan sesak ia putuskan karena tak ingin Alva makin berharap.

__ADS_1


Hal itu membuat Diva tersenyum. Lalu mengecup pucuk rambut Milen dengan bahagia.


"Cukup Mas. Aku meminta syarat darimu!"


"Apa sayang?"


"Jangan pernah bicara untuk kamu memberitau jika kamu sedang bersenang senang pada Sea. Jangan pernah mengungkapkan siapa Sea dengan jelas, saat kita berada pada kedua anak anak kita di penang. Aku harap kamu tak membawa Sea ke penang, kamu ga ingin melihat kedua anak anak kita drop kan. Karena aku tau, Sea anakmu sangat sehat pastinya. Sedangkan aku, aku tak akan bisa mempunyai anak lagi."


"Sayang jangan katakan itu lagi. Semua kesalahan Mas. Sekarang kita pulang ya!"


Milen ingin sekali menolak. Tapi tubuhnya sudah lelah tak bisa berontak. Ia menatap jam sudah pukul sebelas malam. Sehingga tubuhnya terasa lelah. Apakah keputusan ini benar benar bulat menerima takdir.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2