
Beberapa hari kemudian, Diva mengetuk pintu rumah petak Melin. Ia terkejut karena seluruh kunci pintu telah Melin ganti. Hal itu membuat ia tak bisa masuk. Bagaimana pun Diva masih suami Meski meski dalam konflik batin, ia memang salah awal menikahi Melin karena Brian meninggal tragedi benar mengenaskan, sehingga simpatinya tetap saja Melin acuh, cuek karena ada nama Brian di hatinya.
Namun lama kelamaan, ia benar benar bersalah terkait Melin pernah tidak waras, sehingga wanita bernama Sea masuk ke dalam kehidupannya sebagai intel yang sering berpindah tugas, hanya saja setelah akan memilih dan tahu Melin benar benar menutup mata batinnya, dan mencintai Diva ingin hidup damai, ia membuat lula batin Melin yang merasa tidak seharusnya ia menutup mata batin, jika Diva yang ia percayai sudah memiliki wanita lain dalam pernikahan mereka terjalin, apalagi ada dua anak asuh yang masa itu Melin tidak waras, mengingat pernah kehilangan Azan, kedua anak itu membuat Melin sembuh dari kesedihan mendalam.
'Andai Sea tidak pernah terjadi, mungkin kita bisa jadi keluarga bahagia Melin.' batin Diva.
Diva menghampiri kamar dimana Melin tinggal. Saat ia menekan bel. Hanya bibi yang membuka, karena tak seorang pun Melin keluar membukanya, meski rumah kontrakan itu sewa selama pertahun tapi tidak sangka akses Diva masuk ke rumah tersebut telah diganti.
Tak ada sautan, Diva hanya bisa kembali pulang, ia menitip pesan pada bibi dirumah. Jika suaminya menunggunya ingin bicara penting dari balik pintu bibi berteriak jika Melin tidak akan membuka pintu selainnya saja.
"Bi. Tolong sampaikan agar Melin besok menemui saya di kantor!"
"Ya. Tuan, saya akan memberitahu ketika Nyonya sudah sampai. Sebab ia sudah sejak pagi sekali sudah pergi tak menitip pesan." ujar Bibi dari celah bulatan pintu.
***
Sampai dirumah lain, Diva dan Sea saling diam. Lalu Riva di berbeda tempat ia menjelaskan akan kebenaran pada Melin hingga detail. Riva adalah sepupu mama May, sekaligus murid ustad Alva.
"Bagaimana jika Melin benar berpisah Pap. Kita tak boleh membiarkan ini?" tanya Mama May pada suaminya.
"Tenanglah. Semua akan baik baik saja. Aku pergi sebentar!" ujar Sat, papa dari Diva kala pagi itu Melin sempat mengambil sesuatu di kamar si kembar, dan kini ia pamit setelah menjenguk kedua anaknya.
Sementara mama May membuat wajah sendu dan kembali ke kamar kedua cucunya. Apalagi melihat Diva pulang bersama wanita bernama Sea.
Beberapa saat Melin pamit pada mama mertuanya. Tapi mama mertuanya menahan untuk tinggal.
"Melin tunggu nak, kita bicarakan baik - baik."
"Bicara apa Mah?" tanya Melin.
"Jangan menyembunyikan nya. Mama dan Papa telah mendengar pembicaraanmu tadi bersama Riva, apa benar Sea mengandung anak Diva, putra mama menyakitimu nak?"
"Mah. Melin harap gak perlu untuk meminta Diva. Biarkan masalah ini Melin dan Diva hadapi. Melin hanya meminta agar kedua anak tak mengetahui keadaan kedua orangtuanya yang ia kenal kini. Itu sudah cukup bagi Melin, sebab semua salah Melin yang pernah tak waras bukan."
Deg. Terdiam orangtua Diva.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Meski berpisah, rumah ini terbuka dan jangan bawa si kembar dari kami ya."
Melin pun pamit setelah mengecup kening kedua anaknya. Sehingga mama May, ia menatap dengan berharap agar hubungan kedua anak dan menantunya tetap baik baik saja sebab ia tahu bagaiman Melin yang berbeda dan istimewa bagi mereka.
***
Berbeda Tempat.
__ADS_1
Pagi ini Diva di kantor dengan wajah tidak baik Ebo memberi ruang karena disaat meeting beberapa klien dibatalkan. Semua karena ia tak melihat Melin datang menemuinya di kantor.
Diva menyesal jika menikahi Sea apalagi posisi intelnya sudah tidak beroperasi, dan ia menekuni perusahaan layar lebar, dimana Sea berpengaruh. Tidak pernah terpikir Diva akan menjalani kehidupan asmara dengan Sea, di saat ia masih suami dari Melin.
"Suruh Ang menghubungi Melin. Ia tidak bisa mangkir lagi untuk menemui Ku!" titah Diva pada Ang sekretarisnya. Karena kontrak kerja Melin di S-film, terhubung juga pada kantor Diva.
"Baik. Saya segera menghubunginya Pak bos."
Melihat keadaan Diva kala itu tidak baik. Ebo meminta anak tuan besarnya melakukan sesuatu.
"Apa anda ingin istirahat. Biar saya bantu hari ini gantikan, tenangkan pikiran anda mungkin."
Namun Diva menatap amarah tak terkendali pada Ebo. Ia menatap jam sudah hampir sore tapi Melin masih belum menemuinya.
BRAAAAGH
Saat itu pun Diva melempar vas bunga hingga terpental ke sisi pintu.
Sudah banyak karyawan yang terkejut akan kemarahan bos nya itu. Meski beberapa saat ia menatap wanita yang bukan nyonya besar. Tapi karyawan menutup mata apa yang terjadi.
"Jadi benar ya. Kalau bos kita menyesal menggugat istrinya?" tanya Len.
"Ssst. Jangan ghibah, kita lanjut ke pekerjaan kita saja. Kalau di pikir wanita muda yang bersama bos kita. Itu masih akrab dengan nyonya bos, ia mengenal loh?" sapa seseorang karyawan lain di sudut ujung jendela.
"Kalian tau ga sih. Kenapa bos kita emosional seperti ini?" tanya San pada Ang. Ia pun menjawab, tak mungkin jika karena Nyonya Melin yang tak hadir dalam meeting klien. Sehingga para klien menunjuk nona Sea.
"Wah. Jadi benar dong skandal bos kita?" cetus San.
"Akhirnya suasana seram horor lagi. Bukan kah atasan kita seperti ini?" tanya San. Ang pun akhirnya menyuruh diam.
Tak lama dari sisi Melin pun tiba di kerumunan karyawan.
"Ada apa ini berkumpul?"
"Nyonya Melin. Anda kenapa baru datang. Tuan bos sudah marah besar?"
"Apa. Marah besar, tapi ini belum jam tutup kantor kan? aku juga harus kerja di kantor S Film, baru sempat kemari!" gerutunya.
Melin akhirnya pergi ke dalam ruangan private di mana Diva terlihat oleh pandangan Melin kala itu. Melin pun terkejut ketika menatap seisi ruangan yang berantakan
"Sudah hampir jam empat sore kenapa anda terlambat. Apa ada masalah?" Diva pun menghampiri keberadaan Melin yang berdiri tepat di pintu ruangannya.
"Aku ada urusan yang mendadak. Kamu tahu jika aku sibuk akhir akhir ini, kemungkinan bernafas bukan di dunai gaib lebih baik, ketimbang dunia nyata. Andai aku bisa mengulang tidak menutupnya." bisik Melin.
__ADS_1
Diva ingin memeluk tapi Melin menyingkirkan tubuhnya kala itu.
"Maaf Mas. Aku akan pergi ke toilet. Tunggulah, aku tak ingin membuat mata orang lain melihatnya!" menghindar.
Tak lama Melin berhenti pada karyawan yang berada di pantry. Ia menanyakan pada San dan Ang kala itu.
Melin membulat ketika San menjelaskan, dan ia meminta maaf agar seluruh karyawan kembali bekerja karena kegaduhan membuat seluruh karyawan takut.
"Maafkan saya telah membuat kalian was was."
"Atasan kami adalah masih pasangan anda nyonya. Buatlah pasangan anda selalu bahagia. Agar nyawa kami tak terlibat kena imbasnya!"ucap San.
Ang pun menyenggol untuk diam. Tapi Melin pun dibuat sadar memang karena masalah dan keberadaannya semua menjadi rumit. Ia sengaja datang terlambat karena tak ingin bertemu Sea.
Setelah selesai, ia kembali ke ruangan Diva dan berbicara penting.
"Mas. Apa yang membuatmu seperti ini. Taukah sikapmu membuat karyawan takut?"
"Sayang. Kenapa kamu tidak datang tepat waktu. Aku telah menyusul kerumah. Tapi dirimu benar benar tak mau menemuiku."
"Mas. Kita sudah bicarakan semua ini. Profesional. Bukankah sebentar lagi kita akan bertemu di pengadilan?"
"Aku akan mencabutnya. Percayalah aku tak bisa kehilanganmu."
"Lalu aku harus bertahan satu atap bersama Sea?"
Diva terdiam kala itu. Ia pun menunduk dan memikirkan apa yang harus ia lakukan.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita Mas?"
Diva pun tersenyum diam. Ia meminta Melin bertahan untuk bersabar.
"Jika sesuatu dilandaskan dengan kebohongan untuk kepentingan tertentu, apa adil. Jika sesuatu di landasi di awal dengan kebohongan apakah akan membuatmu tetap bahagia Mas?"
Diva tak peduli perkataan dan penolakan Melin. ia memeluk Melin dengan erat. Meski Melin berusaha menepisnya.
"Hentikan mas. Jangan seperti ini!"
Tak lama seseorang datang masuk dengan wajah kesal.
"Bagus. Jadi kalian seperti ini di belakangku?" tanya Sea menatap Melin, seolah ingin mendorong Melin namun ditepis tangan Diva.
Hentikan Sea ... Teriak Diva emosi.
__ADS_1
TBC