
Selepas ijab kabul sah, terlihat makanan telah tersaji dari beberapa kue. Pada umumnya Reina menandatangani dan mendapat buku nikah. Bahkan Azam yang gugup menatap Reina, ia berjanji akan membuatkan resepsi pernikahannya seperti impiannya dulu, bukan tanpa Alasan, Azam bahkan menghubungi ibu Jing, untuk merestui secara live saat Azam ijab kabul.
Jing awalnya tak sudi, tapi setelah melihat ada Tuan Alva maka ia mau tak mau luluh sementara, dan akan segera pulang ke ibu kota.
'Aku tidak tahu, akan ada apa lagi setelah ini. Masalah apalagi setelah ijab kabul ini berakhir.' batin Reina.
Hingga semua satu persatu pamit, Reina berterimakasih pada bu Rt, yang peduli padanya, hingga namanya bahkan tidak tercemar gosip, membuat Reina menganggap bu Rt, bagian keluarganya.
"Kita keluarga Reina, ibu tahu kamu seperti apa. Hanya saja, kamu tidak bisa menyalahkan takdir, perbaikilah agar semuanya kembali seperti dulu." saran bu Rt, seolah tahu kehidupan Reina yang asli.
"Makasih banyak ya bu Rt." peluk haru.
Beberapa Saat Kemudian.
Roy menjelaskan mengapa ia mau membantu kedua anak anak Reina saat itu. Pertama Roy menerima panggilan telepon dari Diva yang masih ada di Singapore, itu karena tidak di angkat oleh Diva, lalu mengirimi nomor Dira yang membuat Roy, mencari tahu tentang kehidupan Reina selepas masa janjinya pada bu Milen, untuk memastikan kehidupan Reina nanti baik baik saja.
Dan Reina terkejut, karena baru tahu jika ada seseorang yang tidak berniat baik padanya, Roy memberikan beberapa video kegiatan dua wanita, dan orang suruhan untuk mencelakai Reina dan kedua anak anaknya tapi gagal, semua itu karena perlindungan Roy untuk Reina dibantu oleh Diva, sebab Diva sendiri patah hati karena Reina masih mencintai Azam, bahkan tidak direstui oleh ibunya untuk menikahi Reina sampai kapanpun.
"Apa, Roy .. Kamu melalukan ini semua?"
"Demi kasih sayang, kamu menganggapku kakak kan? Apalagi istriku adalah keponakan mamamu, jadi kita benar keluarga. Tidak ada yang ingin melihat kamu terancam, apalagi penderitaan mu oleh papa Yus, sudah berubah dan mengusir mu. Aku yakin, ibumu tidak sekejam sikapnya!" jelas Roy, membuat Reina berkaca kaca.
"Apa ibuku merestui jika aku menikah?"
"Ren, jangan egois pada kedua anak anakmu! Bahkan aku sudah memberi perhitungan pada orangtua yang anaknya dibiarkan membully kedua anak anakmu."
"Membully? Apakah karena tidak peka, aku terlihat anak anak baik baik saja. Karena Bima dan Kanya pasti bisa hidup tanpa seorang ayah."
"Kenyataannya tidak seperti itu Ren, selamat berbahagia. Aku pastikan ibumu merestui, dan rayakan pernikahan impianmu kelak." senyum Roy, membuat Reina sedih bahagia campur haru.
Roy pamit, juga pada kedua anak anak Reina. Bahkan setelah kepergian Roy, tinggal tuan Alva yang membuat Reina takut, apakah kedatangannya untuk memberi perhitungan pada Azam, soal perusahaannya yang rugi.
"Dadah Om Roy. Makasih ya." senyum Bima dan Kanya melambai tangan.
Hingga beberapa saat, bibi Ros membawa kedua anak anak Reina ke kamar, untuk bersiap mengganti piyama tidur, tetapi kedua anak anak itu mengintip siapa pria berambut putih yang menatap Ayah Azam.
"Ayo den Bima!" ujar bibi Ros, mengajak.
__ADS_1
'Yeay, malam ini kita tidur bareng Ayah dan Bunda.' teriak bisikan Bima, di anggukan Kanya yang mengekor berlari lari.
"Hati hati nak!" teriak Reina, seantusias itu anak anaknya saat ini.
"Azam, papa mertuamu sedang menghubungi siapa kira kira?"
"Mantan papa mertua, aku bahkan tidak tahu. Mungkin saja dia datang ingin aku mengganti rugi, tapi karena ramai ia jaga sikap." jelas Azam pada Reina.
"Tunggu aku disini ya, aku akan keluar dulu."
Azam berlalu menuju teras, setidaknya memang ia mempunyai tempat tinggal saat ini. Entah apakah pernikahan paksa ini pantas untuknya, sebab ia tahu jika Reina dan dirinya perlu proses bagaimana kedepannya mereka jalani.
"Terimakasih sudah datang Pak Alva."
"Hahaha, terlihat lucu kalian menikah karena digrebek. Jadi selama kau lari dari rumah sakit, kau pikir aman dan begitu saja. Ingat biaya tagihanmu dan kerugian seminggu kau kritis, mencapai 1,5 miliar. Belum lagi tagihan ibumu, apa kau ingin kasus ini ku anggap kau lalai dan menggelapkan dana?" lirik Alva dengan gaya yang angkuh.
"Baik saya akan mengembalikannya, asalkan beri saya waktu! Lagipula jika tuan melaporkan, bahkan saya sudah di pecat dari perusahaan kan?" tawa Azam yang membuat Alva terlihat bodoh.
"Dengan cara apa, kau akan ganti. Pekerjaanmu saja benar benar tidak ada saat ini."
"Saya masih bertugas menjadi pilot, meski anda banyak membantu saya. Tetap saja, saya belum di keluarkan. Saya pasti akan mencicilnya, asalkan jangan libatkan keluarga baru saya pak Alva."
"Tapi saya sah untuk kedua anak anak saya di dalam, sebelum saya menikah dipaksa oleh anda dan almarhum ayah. Saya punya kekasih, dan kami telah jauh. Takdir mempertemukan kami kembali, apapun menurut anda, saya tidak akan pernah kembali menjadi suami putri anda Tuan! Saya tidak pernah cinta pada Shi, bahkan tidak pernah menyentuhnya. Jadi berikan peringatan putri anda, untuk tidak mencelakai kehidupan orang yang saya sayangi!" tegas Azam, lalu pergi begitu saja.
Azam mendapat amanah, jika selama ini Roy sering menguntit diam diam orang yang berbuat jahat, kali ini Roy meminta untuk Azam bisa menjaga Reina dan si kembar. Apalagi kehidupan Reina sudah sangat menderita tidak diakui.
'Bagaimana bisa, seorang ayah mengusir putrinya sendiri?'
'Percayalah Zam, Tuan Alva, adalah pria kasar, dia adalah suami kedua dari ibu Milen, ibu Reina yang takut pada suaminya, sungguh ia menikah jatuh pada pria yang tidak tepat. Reina sendiri tidak punya ayah, aku bahkan tidak tahu kehidupan privasinya lebih jauh.'
Ingatan Azam, sebelum Roy pergi, bahkan kini ia telah menutup pintu gerbang ketika mobil Alva menghilang. Azam jadi yakin, jika Alva datang bukan karena menuntut ia ganti rugi, melainkan ada hal yang lebih penting dari soal materi.
Hingga Beberapa Jam Kemudian.
Azam yang sudah rapih memakai piyama, ia mengetuk pintu kamar kedua anak anaknya. Ada rasa bahagia, ketika Azam meraba papan nama kamar kedua anak anaknya itu di depan pintu, tangisan haru membuat Azam amat begitu bahagia.
'Aku bukanlah Azam yang liar, aku telah punya keluarga. Bahkan separuh hidupku, akan terus menjaga dan menyayanginya.'
__ADS_1
"Ayah .. " lirih Bima dan Kanya yang menoleh, ketika Azam membuka pintu.
Bahkan Reina sedikit gugup, bagaimana tidak ia juga memakai piyama yang membuatnya risih ketika seorang pria mendekat.
"Lagi apa sayang? Boleh Ayah ikut?"
"Heum. Bunda .. Kasihin buku dongengnya ke Ayah. Tapi Bunda tetap disini ya!"
Rei a celos menatap Azam yang senyum, setelah Kanya dan Bima memberikan salah satu buku yang Azam ambil untuk ia baca. Reina disebelah kanan memeluk Kanya, dan Azam sebelah kiri memeluk Bima yang sambil menatap membacakan cerita.
Selama beberapa puluh menit bercerita dongeng, kini mereka semua tertidur. Dan Azam segera mengangkat Bima, ke ranjang sebelahnya dan menyelimuti Bima.
"Anak anak sudah tidur, sebaiknya kita tinggalkan."
"Iya."
Reina lebih dulu berjalan, aneh rasanya. Kemarin Azam menginap karena ia sakit dan membutuhkan pertolongan. Kali ini rasanya amat terasa aneh, biasanya ia hidup dengan kedua anak anaknya. Kini ada sosok pria yang memang dia adalah ayah dari anak anaknya.
"Ren .."
"Iya .."
"Aku akan tetap tidur di ruang tamu, sampai pendekatan kita benar benar baik. Aku minta maaf atas semua ini!"
"Sebaiknya begitu, aku belum terbiasa jika kita sekamar Azam." jawab Reina, entah apakah ini akan menyakitkan bagi Azam, karena Reina memintanya lebih dulu saat itu, yang tidak siap tidur sekamar.
"Ya, aku mengerti. Besok aku harus ke bandara, aku akan bekerja lagi. Meski aku tidak jadi ceo! Tapi aku masih tetap Pilot. Aku minta satu hal, tetaplah biasa jika kita di depan anak anak."
"Terimakasih Azam, aku minta maaf. Kita memang sah, tapi aku belum bisa dan tidak terbiasa untuk hal ini." lirih Reina, ia berlalu masuk ke dalam kamar.
Sementara Azam, kini di kamar tamu, ia memiringkan posisinya berkali kali. Entah kenapa ia benar benar tidak bisa tidur.
Begitupun Reina, saat ini ada rasa bersalah, entah kenapa ia tidak bisa lelap tidur, seperti biasanya.
Dan saat ia bangkit, ia melihat dompet Azam ada pada kamarnya yang tersangkut pada kebaya dan jas pernikahan dadakan tadi, namun ia melihat foto kecil yang mungkin itu adalah Azam.
'Kenapa ini, apa ini Azam kecil, rasanya aku pernah melihat foto ini. Ta-tapi dimana ya?' benak Reina yang ingin ke kamar tamu, hampiri Azam.
__ADS_1
TBC.