Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Awal Mula Indigo


__ADS_3

"Duh nih rumah gini amat lokasinya sih?" ujar Brian.


"Iya mau gimana lagi, Milen kan tinggal sama neneknya. Dia bertahan karena neneknya ga mau pindah."


"Iy sih, lagian lo kenapa sih Brian. Kayaknya enggak suka amat sekelompok sama Milen, bukannya tugas kemah kita dua minggu lagi karena perintah dosen yang bagi regu. Terus dengar dengar Milen nunjukin lokasi yang murah dan strategis buat tinggal." ujar Jat.


"Iya nih, lagian ada masalah apa sih lo sama Milen, Jangan bilang masalah hati terpendam ditolak ya?" ungkap Ika.


"Ya enggaklah! udahlah, gue ga mau bahas lagi. Lo semakin runyam aja bikin gue enggak mood. Ok! gue cuma enggak suka sama Milen dia tuh cewe aneh, dan bakal repotin kita nanti di kemah. Pertama dia sering pingsan, kedua gajelas diem kaya orang kesurupan dan ditolong malah teriak pergi lari gitu aja. Apa namanya kalau bukan cewe aneh." kesal Brian.


"Tau dari mana lo Brian, kalau Milen kaya gitu. Bukannya pingsan dia baru ditemuin kemarin dan sekali doang ya di kampus belakang?" tanya Jat.


"Udah udah! kalau mau komplen regu kelompok ke dosen. Kita kesini biar kompak mau teliti tugas kita buat skripsi. Ga usah bahas lagi!" ucap Ika.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


Milen dan kawan kawan tampak seperti biasa mereka mengerjakan tugas. Design, dan peta dibuat oleh Brian dan Ika yang memandu. Membuat pikiran Milen semakin aneh dengan lokasi tujuan yang mereka tunjuk.


"Tunggu! boleh gue tahu gak? lokasinya ini ide siapa?" ucap Milen, sambil menunjuk peta yang dibuat Brian.


"Ide gue. Kenapa emang?" cetus Brian, membuat Ika menoel siku tangan agar Brian bisa jaga sikap.


"Enggak apa apa sih, setau gue. Disana ada hutan misteri, ada rumah misteri yang bisa celakai manusia secara dibuat kesasar. Apa ga ada lokasi lain lagi, soalnya gue rekomendasiin tempat yang aman dan ada batas, tolong percaya dan jangan langgar ke lokasi sebelah timur." jelas Milen.


"Udah mepet juga sih Mil, kita ga bisa cari lokasi baru dan langsung aja nanti kita kasih tau pak Guru. Mending kita acc aja ya, lokasi dari Brian." memohon Ika.


"Ya udah, tapi jangan berpencar dan jangan lakuin aneh aneh ya. Setau gue .."


"Heeh! kita itu mau melaksanakan tugas kampus, bukan hura hura atau nge mall pohon. Oke!" cetus Brian, membuat Milen mengangguk kembali diam.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka mengerjakan tugas dengan lancar. Beberapa teman laki laki seolah terlihat malas.


"Woy! Kerjain noh tugas kalian. Udah mulai larut nih," seru Ika, menyela suasana hangat karena Brian dan Ton tampak sedang tawa cerita.


"I-iya, Ka. Brian sih nga-ngajak ngakak mulu. Ja-jadi gue terbawa su-suasana dah." gagap Ton.


"Ye, punya gue udah kok," ucap Brian spontan.


"Lah? Mana coba gue lihat." Ika menyodorkan tangannya, niatnya ingin meminta tugas Brian yang katanya sudah selesai.


"Tapi boong .. ong ..ong." tawa Brian.


'Plak'


Tangan Ika mendarat ke kepala Brian berulang kali. Raut wajah Brian antara puas membohongi Ika atau menahan sakit sebab hantaman Ika yang benar benar kuat.


"Jan maen-maen lu. Orang serius juga," ketus Ika.


"Aduh. Husttt! Diem lu." Brian menyela ucapan Jat.


"Sakit? Mampus lu! Kerjain tuh tugas lu. Sok-sokan bikin jengkel cewe kaya gue, tapi kelakuan kek cacing kremi. Gue bilangin kek bapak lu ntar, mampus." Ika berucap tegas dan mengancam. Pasalnya Ika dan Brian teman dekat dan bertetangga sejak kecil.


"Iya deh auto kerjain nih," ucap Brian. Raut wajahnya antara kesal dan menyesal.


"Kalo bergaul itu, boleh bercanda. Cuman jangan sampai kelewatan. Kalo serius jangan bercanda, kalo bercanda jangan terlalu serius. Itu adalah pedoman dalam kumpul berkumpul." Dari sofa itu nenek Kari masuk dalam perbincangan mereka, sembari matanya masih saja terpaku pada teko antik.


"Iya nek!" serentak semua teman Milen.


"Na-nah ini nih ke-kerjaannya si Brian. Maafkan kami ya Nek." ucap Ton, pada nenek nenek Kari.

__ADS_1


"Diem lu! Kek lu nggak pernah aja," bisik Brian kepada Ton si gagap.


Suasana menjadi sedikit serius, setelah hal tersebut terjadi. Jari Brian mulai lihai menekan keyboard, sedang Jat sibuk mencatat dan membaca buku pedoman yang dipinjamnya pagi tadi di perpustakaan.


"Nah gini nih. Enak kalo tugasnya diselesain dari awal. Kan bisa leha leha. Lihatlah kalian berdua yang masih dipermainkan oleh tugas, awak wak," ucap Ika mengejek Jat, Brian dan Ton.


Pasalnya Milen dan Ika sudah selesai mereka mengerjakan bahan tugas esok, dan tugas apa saja untuk camping.


Brian tampak menoleh ke arah meja. Remah makanan ringan begitu berhamburan, sedang jus mereka tinggal setengah gelas.


"Milen, masih ada nggak keripik udangnya?" tanya Brian.


"Masih. Emang buat apa?"


"Gue pengen ngomong sama udangnya buat ngerjain tugas gue," ketus Brian. Membuat Milen kembali terdiam.


"Eh bu-buset. Nga-ngaco lu!" potong Ton.


"Lah lagian aneh, pengen gue makan lah. Gitu aja pake ditanya." kesal Brian pada Milen yang tak begitu menyukai.


"Weh gile. Lu bener-bener yah! Nggak tau diri bat dah di rumah orang. Sono, ambil di kulkas. Jan banyak banyak ambilnya!" tambah Jat menggoda.


"Dahlah. Pokoknya lu besok presentasinya mesti bagus. Soalnya malam ini lu adalah orang terngeselin di dunia. Ingat, kalo ga bagus, gue jambak lu dan gue masukin ke kandang soang kembaran bebek tapi lehernya panjang .. di belakang rumah Milen." ucap Ika.


"Udah udah kalian jangan ribut, salah gue tadi. Gue minta maaf ya! tar gue ambilin lagi ya! masih ada snack kok. Terus tadi nenek gue sebelum keluar, dia minta kalian makan dulu sebelum pulang." ucap Milen senyum.


"Wah. Thanks ya Milen." ucap Ton dan Jat di ikuti tatapan Brian.


Milen kembali ke dapur, ia kembali merasakan hal aneh. Ketika ia telah merapihkan gelas dan piringnya. Tiba saja Milen mendongak melihat seuntai rambut gimbal sampai ke lantai meja makan nya.

__ADS_1


"Hah .. ! ka- kamu siapa?" lirih Milen, sedikit memejamkan mata. Kakinya kembali kaku, diam tak bergeming.


Tbc.


__ADS_2