Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Kebodohan Alva Muda


__ADS_3

Alva, yang ia adalah owner tak banyak tahu. Apalagi Milen, Dia yang sering ke cafe puncaknya karena ia ingat masa teman sekolah yang berpisah. Entah seperti apa, meski temannya itu sering bercanda konyol menyakitkan.


Milen segera menatap sendu ponselnya. Ia nyalakan mode pesawat berubah menjadi aktif. Begitu banyak pesan dari Diva.


"Mas. Mengapa kamu membuat aku bimbang. Taukah kamu, kesibukan ku kini akan padat. Hal itu agar aku lupa caranya menangis. Hal itu agar aku lupa caranya di sakiti olehmu kedua kali. Taukah kamu, prinsipku adalah memaafkan dan menikah hidup bahagia. Aku tak ingin menikah dan perceraian terjadi lagi. Tapi aku bisa apa? Ketika pertama dicerai oleh kematian, dan kali ini .."


Alva yang mendengar perkataan Milen, ingin sekali ia memegang pundak sahabat kecilnya itu. Tapi ia sadar diri dan bukan sesama muhrim. Ia masih menjaga adab dari anak ketua yayasan pondok terkenal. Hingga ia selalu menyempatkan ke cafe puncak setelah mengajar pada anak anak kala itu. Hanya demi melihat Milen yang selalu mampir di tempat kenangan yang tak pernah ia lupakan.


"Milen. Maafkan aku."


Alva berangsur pergi. Milen tersadar seolah ada yang memanggilnya. Tapi ia hanya menatap punggung pria dengan setelan jas hitam yang membuat ia menatap nanar.


"Kenapa punggung itu tak asing. Mengapa setiap aku duduk aku sering melihatnya?" benak Milen, kala sempat ia bilang pria itu mirip pria yang ia kenal, ia langsung menjauh jaga jarak.


Milen pun segera berfikir jika ia salah orang.


Tak lama Diva kembali menghubungi. Kali ini ia tak sengaja memencet tombol hijau karena lengannya licin akan sebuah gelas yang mengenai tungkai lengan.


"Alah tidak. Tersambung lagi."


"Sayang. Mas akan sampai di cafe puncak. Rei memberitahu mas. Tunggu Mas, mas ingin mengatakan satu hal saja. Mas mohon tunggu mas Milen." pesan suara.


Suara dentuman itu membuat Milen untuk menunggu. Ia akhirnya segera duduk kembali dan menunggu Diva beberapa saat. Ia juga penasaran apa yang akan di lakukan suaminya itu. Meski esok pasti akan berubah statusnya yang tak ingin ia inginkan.


"Mas. Aku akan menunggumu. Satu jam!" Milen membalas suara Diva. Diva pun terdengar dengan sumringah dan membalas.


"Terimakasih telah menunggu Mas sayang. Jangan pergi sebelum mas datang."


Milen segera berdiri sekedar ke toilet. Tapi saat di meja barista. Ia menatap jelas pria yang ia kenal.


"Alva. Jadi itu kamu?" kala melihat sapu tangan, yang dipegang Alva, itu adalah miliknya yang ia berikan pada Alva belasan tahun lalu.

__ADS_1


"Milen. Ya aku sedang mampir, kamu di sini?"


"Kamu pasti berbohong padaku. Kamu selalu di sini kan?"


Alva meminta karyawan keluar. Dan meminta Cafe puncak di tutup. Ia meminta tirai di tutup abu abu, sehingga tak terlihat aksi dari luar apa yang ada di dalam.


"Mengapa kamu lakukan ini padaku Alva. Jangan lagi mengintai, aku akan baik baik saja."


"Maafkan aku Mil. Tapi tidakkah kamu tak bisa pergi dari tempat ini. Ini kenangan kita saat kita tak seperti sekarang."


"Gelar dan ucapanmu bahkan membuat aku berat untuk kita berteman Lava. Tempat ini adalah satu satunya dekat dengan tempat peristirahatan terakhir Ibu, ayah ku." balas Milen yang akan mengambil tas dan laptopnya.


Tapi Milen yang akan pergi, ia di kejutkan dengan pria tinggi yang ia rindu, sebelum pergi meninggalkan Alva. Hingga Alva pun, hanya bisa mematung diam.


"Sayang. Mas sudah datang."


"Maaf. Pak tadi tuan ini berusaha menerobos masuk, padahal sudah tutup." karyawan Alva Muda menjelaskan. Sehingga ia mengedip untuk dia kembali keluar, berusaha untuk tenang jika ia mengijinkan.


"Mas. Aku ga punya banyak waktu. Jika kamu hanya ingin bertemu untuk memintaku bertahan. Aku gak sanggup di madu dengan Sea mas. Tidak kah kamu mengerti hatiku saat ini?"


"Sayang. Mas mohon bertahan. Kali ini beri mas satu kesempatan lagi!"


Dengan geram Alva muda ikut emosi. Ia


semakin tidak tahan melihat Melin yang sakit batin hatinya. Ia melaju membuat inisiatif tanpa memikirkan perasaan Milen. Seolah jiwa anak pondoknya ia tinggalkan ketika berada di luar.


"Milen .." teriak Alva.


Alva muda menghampiri dan memegang pundak Milen. Memutar tubuhnya hingga saling menatap dan beradu tanpa memikirkan di tengah tengah ada Diva.


Milen menoleh dan terkejut akan sikap Alva yang menutup mulutnya dan mengigit bibir bawahnya dan membuat sebuah hal tak ingin ia lakukan di depan Diva selama puluhan detik.

__ADS_1


Meski Melin terbawa suasana ingin melepas, tapi raupan Alva membuat ia tertahan dan menikmati beberapa detik.


"Syieet. Apa yang kalian lakukan?" teriak Diva.


Diva memukul setelah menarik punggung Alva. Ia begitu emosi ketika Milen yang masih notabane istrinya di perlakukan seperti itu di depannya.


Milen hanya melemas duduk terdiam. Hatinya merasa kacau tak menghiraukan perdebatan dua pria yang beradu sengit saling memukul. Seolah terhipnotis, ini adalah sebuah kesalahan bagi Milen. Yang belum resmi bercerai, bagaimana bisa Alva, melakukan hal bodoh tadi.


"Kau marah bukan. Jika aku mendukung Milen untuk berpisah. Aku akan bertanggung jawab untuk membahagiakan dan membuatnya bahagia. Hal itu pun aku akan berusaha hingga titik darah terakhir menghapus nama dan kenangan manis nama anda Diva. Kamu lihat sudah berapa banyak luka kenangan buruk pada Milen?" ancam Alva pada Diva.


"Kau songong, kau ini siapa hah?" teriak Diva.


Diva mengepal tangan. Ia mencerna perkataan Alva. Lalu menatap Milen yang menutup bibirnya.


Terlihat Milen mengembang air mata dan pergi begitu saja meninggalkan dua pria yang membuat ia malu dan terkejut akan sikap dan perkataannya.


"Milen .. Tunggu!" teriak Alva.


"Sayang. Tunggu mas belum selesai. Kita harus bicara!" lanjut Diva ingin mengejar.


Kau, setelah urusanku kelar. Kita akan bertemu dan menyelesaikannya! ancam Diva pada Alva.


Tapi Alva hanya terdiam. Ia jatuh duduk dan memegang bibirnya. Sungguh syaiton membuat ia campur tangan dan melibatkan pada masalah Milen. Meski ia menunggu Milen sejak lama, tapi saat tadi Milen mengutarakan sakit hatinya. Membuat ia memberi pelajaran pada Diva bagaimana rasa sakitnya menjadi Milen.


"Semoga kamu tak salah paham padaku Mil. Aku ga bermaksud mel-ecehkan kamu." lirih Alva merutuk kesalahannya.


Tapi ia masih terasa memegang bibirnya dan tak membasuh untuk berwudhu.


"Maafkan kesalahanku. Aku akan bertanggung jawab padamu Milen. Setelah kejadian ini, aku ga akan biarkan kamu sedih." lirih Alva.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2