Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Diva Manis


__ADS_3

"Hem, semoga pekerjaan kamu tidak ada masalah," jawab Brian, setelah itu, Milen pun pergi dan melajukan mobilnya menuju kantor.


Brian hanya bisa melihat kepergian Milen, Reo arwah tua yang menyaksikan itu, langsung menghampiri Brian. Reo merasa perbuatan Brian tidak benar. Bagaimanapun, arwah dan manusia tidak akan bisa terus bersama.


"Jangan terlalu berharap, arwah seperti kita tidak akan bisa seperti manusia, dan ini jelas menyalahi peraturan kita sebagai arwah," ucap Reo menasihati. Reo tidak ingin terjadi apa-apa dengan arwah Brian.


"Aku tau!" jawab Brian singkat. Brian sama sekali tidak ingin berdebat dengan Reo. Ia pun langsung menghilang dan meninggalkan Reo.


"Hem, dasar!" ketus Reo mengumpat. Brian selalu melakukan hal sama setiap ia memberi nasihat untuk Brian.


Brian pun menghampiri Adi arwah anak kecil. Sampai saat ini Adi juga belum pergi. Adi masih terlihat anak kecil yang menggemaskan. Namun Adi beruntung, ia selalu bisa melihat keluarganya ziarah ke makamnya.


"Kamu sungguh beruntung, kamu selalu bisa melihat keluarga kamu," kata Brian. Kedatangan Brian yang tiba-tiba membuat Adi terkejut.


"Kakak, membuatku terkejut, kebiasaan!" kata Adi protes, namun Brian hanya nyengir.


Brian juga selalu menyaksikan keluarga Adi ziarah, bahkan Brian juga sering memakan persembahan yang dibawa keluarga Adi.


"Kenapa aku tidak pernah melihat Ayahmu?" tanya Brian. Pertanyaan Brian membuat Adi sedih. Tanpa Brian tanyakan, Adi juga berharap bisa melihat Ayahnya.


Brian pun langsung menyadari kesalahannya, tidak seharusnya ia menanyakan pertanyaan itu.


"Aku minta maaf, kamu jangan sedih, setidaknya kamu memiliki keluarga yang selalu datang ziarah. Kamu lihat aku, aku bahkan tidak memiliki siapa-siapa," ucap Brian merendah.


"Kakak bohong, aku juga melihat gadis cantik itu, orang-orang selalu membicarakannya," kata Adi.

__ADS_1


Brian pun terkejut mendengar pernyataan bocah kecil yang entah namanya ia sukai tak asing.


Kecantikan Milen tidak hanya memikat manusia, melainkan juga memikat arwah.


"Apa kamu serius?" tanya Brian memaksa.


"Hem, kalau, Kakak, tidak percaya, Kakak, bisa membuktikannya, sekarang, Kakak, pergi, jangan membuat keributan di sini!" seru Adi. Dengan raut wajah kesalnya, Brian pun pergi dan langsung menghilang dari arwah anak kecil itu.


***


Keesokan harinya, Diva yang baru selesai ngantor, langsung menghampiri Milen ke kantor. Baru saja Milen siap-siap untuk pergi, namun kedatangan Diva menggagalkan rencananya.


"Hai, sayang. Akhir-akhir ini kamu kok sibuk banget, sampai-sampai kamu tidak punya waktu untukku," rengek Diva dengan manja.


Milen pun langsung memeluk Diva, ia juga tidak ingin menyakiti. Milen sebenarnya juga sangat menyayangi Diva dengan kesibukannya, tapi saat ini Milen telah sadar ia harus menyadarkan arwah suaminya untuk mengingat kenangan akhir, agar ia bisa lepas ke alam dunia dengan tenang. Hanya saja ia bingung mengatakan semua ini pada Diva.


Diva pun langsung tersenyum, apapun yang dikatakan Milen selalu membuatnya percaya, sebab, selama mereka berhubungan, Milen sama sekali tidak pernah melakukan hal yang membuatnya curiga.


Milen juga tidak ingin mengecewakan Diva, dengan terpaksa, Milen pun tidak datang untuk mengunjungi Brian, sehingga membuat arwah Brian menunggu di tempatnya.


"Kita makan dulu, mas bawa banyak makanan kesukaan kamu."


"Makasih mas Diva, kamu selalu baik padaku." lirih Milen, membuat Diva gemas.


***

__ADS_1


Sementara Di Makam.


"Sudah kukatakan, jangan terlalu berharap," ucap Reo yang tiba-tiba hadir.


"Kamu membuatku terkejut!" saut Brian kesal. Padahal ia juga sering muncul tiba-tiba.


"Kamu juga sering melakukan hal yang sama," jawab Reo tidak mau kalah.


Saat mereka berdebat, mata Brian pun langsung tertuju dengan seorang pria paruh baya menuju makam Adi.


Sekilas Brian langsung teringat dengan sesuatu, namun Brian tidak mengerti. Brian juga tidak tahu, kenapa bayangan itu tiba-tiba muncul di kepalanya.


Brian pun mengikuti lelaki itu, dan langsung di usir oleh Adi.


"Jangan ganggu Ayahku!" kata Adi, ternyata dia adalah Ayah Adi. Setelah sekian lama, Ayahnya baru datang mengunjunginya. Kedatangannya membuat Adi sangat merasa bahagia.


Ayah Adi pun menangis, ia sangat merasa menyesal karena tidak bisa menjadi Ayah yang baik. Selama ini, bukannya ia tidak ingin datang, melainkan ia tidak kuat. Rasa bersalah selalu menghantuinya.


"Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak bisa melindungi kamu. Ayah benar-benar Ayah yang tidak berguna," ucap ayah Adi dalam tangis.


Adi yang menyaksikan itu juga ikut menangis.


"Ayah, jangan menangis, Ayah tidak salah apa-apa. Ayah adalah Ayah terbaik, Ayah sudah menjaga Ibu dan adik dengan baik," ucap Adi, namun tidak bisa di dengar Ayahnya yang masih manusia.


Sementara tatapan Brian, ia sebagai arwah masih bingung kenapa dirinya tidak dikunjungi keluarganya sejak lama. Sementara arwah lain dikunjungi keluarganya. Mencoba ingat apa yang terjadi pada dirinya sampai meninggal pun, benar benar tidak ingat.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2