
Waktu terasa berlalu begitu cepat, sejak kematiannya, Brian sangat penasaran dengan wajah keluarganya. Ia selalu menunggu seperti orang bodoh, sudah tau tidak ada yang akan datang, namun, ia masih tetap menunggu.
Sosok arwah Brian sama sekali tidak mengingat apapun, ia kehilangan ingatan, ia hanya mengingat namanya saja. Selebihnya itu, semua kenangan semasa hidup hilang begitu saja, susah payah ia mencoba untuk mengingat, namun ia selalu gagal.
Namun, walaupun begitu, Brian sungguh sangat merasa beruntung, Dewa sudah mengirimkan Milen untuknya, dan berharap bisa membantunya.
Malam yang dingin seakan menusuk sekujur tubuh Brian. Ia menatap bintang di langit, berharap ada bintang yang jatuh dan melakukan permohonan, yakni ingin tahu kenapa ia mati sehingga lupa untuk ingat.
Sosok Reo langsung menghampiri Brian, mereka adalah sahabat yang paling dekat dengan Brian di sana.
"Apa yang kamu lamun kan?" tanya Reo kedatangan mereka yang selalu tiba-tiba membuat jantung Brian terasa ngilu, padahal mereka sesama arwah tapi masih saja kagetan.
"Andai aku masih hidup, aku pasti sudah menikah dan punya anak," jawab Brian, sambil menatap langit.
Reo yang mendengar itu hanya bisa mendengus, harapan Brian juga sama seperti harapan mereka.
"Tapi Dewa tidak mengizinkan itu terjadi, jadi berhenti berharap serta memikirkan sesuatu yang membuat kamu sakit hati," kata Reo.
Reo adalah orang yang paling sering menasihati. Sebab dulu semasa hidup, ia sering berharap sesuatu yang mustahil untuk ia miliki. Jadi ia sangat mengerti, bagaimana sakitnya jika terlalu berharap.
Tanpa di sadari, air mata Brian pun mengalir begitu saja. Ia menyimpan banyak kerinduan untuk keluarganya, namun, kenapa ia sama sekali tidak bisa mengingat, dan kenapa ia merasa sakit hati yang ia tidak tau sebabnya.
__ADS_1
Brian pun langsung menyeka air matanya, ia tidak ingin terlihat menyedihkan. Padahal ia terkenal sebagai arwah yang ceria dan suka menghibur arwah baru yang juga belum menerima kematian.
Setiap hari kehidupan Brian berlalu begitu saja, tidak ada kebahagiaan, yang ada hanya rasa sedih, yang susah payah untuk ia simpan.
Milen yang merasa bersalah, akhirnya memutuskan untuk datang berziarah, Milen sengaja mengatur waktunya ketika mas Diva dinas. Sebab, jika ia sudah bertemu dengan Diva, ia tidak akan bisa pergi kemanapun.
Seperti biasa, setiap Milen datang berkunjung, ia selalu membawa baju mainan dari kertas, ia juga membawa makanan kesukaan Brian dan tidak lupa membawa dupa.
Kedatangan Milen pun langsung disambut para arwah wanita, Milen bisa melihat para arwah yang sedang berusaha menggodanya. Namun Milen sama sekali tidak menggubris, dengan santai Milen pun berjalan menuju kuburan Brian.
Brian tidak menyadari kedatangan Milen. Ia mengira Milen tidak akan datang. Brian tahu, Milen wanita yang sibuk, jadi alangkah baiknya jika ia mendengarkan perkataan Reo.
"Milen!" ketus Brian. Ini pertama kali Brian menyebut nama Milen. Milen pun langsung menoleh dan memberikan senyum terbaiknya.
"Kenapa, Kakak, memandangku seperti itu?" tanya Milen. Raut wajah Brian menunjukkan kebingungan yang tidak bisa untuk dijelaskan.
"Tidak kenapa-napa, aku hanya bingung, setiap kamu menghidupkan dupa, aku langsung terbawa ke sini," Kata Brian.
Milen pun langsung berfikir panjang, apa dengan dupa, Brian akan bisa keluar dari area pemakaman.
Sebagai wanita cerdas, Milen pun langsung membuktikan penasarannya.
__ADS_1
Milen langsung bergegas keluar dan menghidupkan dupa di luar pemakaman. Dan benar saja, Brian langsung datang menghampiri Milen.
Mereka pun sangat merasa terkejut, sebab Brian sudah pernah bercerita, bahwa ia tidak bisa keluar dari pemakaman.
Brian masih merasa tidak percaya, ia melihat sekujur tubuhnya dan melihat area pemakaman dari luar.
"Apa ini nyata?" tanyanya dan Milen pun membenarkannya.
"Benar, Kak. Kakak bisa keluar," saut Milen.
Milen seakan terlihat lebih bahagia daripada Brian. Tiba-tiba Brian pun langsung menghilang, dan ternyata dupanya mati.
Milen pun kembali ke dalam, ia langsung melihat Brian yang kembali bersedih.
"Kakak tidak usah sedih, aku akan memikirkan cara agar, Kakak, bisa pergi dari sini," kata Milen.
Milen juga ingin mengajak Brian pergi. Milen mengajak Brian ingin mengajak jalan-jalan untuk melihat dunia yang sudah banyak berubah.
Sungguh perasaan Milen merasa asing, ketika ia memanggil arwah suaminya dengan sebutan kakak, semata Milen masih sepenuhnya mengharapkan Brian tetap disampingnya meski sudah berbeda dunia.
Tbc.
__ADS_1