
"Bunda .. Bunda, apa itu mainan buat kami?" ujar Kanya, melirik Bima sang kakak yang senyum terlihat tampan.
Gemas rasanya Reina, melihat senyuman Bima mirip sekali Azam. Akan tetapi Reina menunduk seolah posisinya bersejajar dengan kedua anak anaknya itu.
"Bunda sih, enggak pesan mainan nak! tapi enggak ada nama pengirimannya juga, apa ada yang salah ya? kayaknya om paket anter ke rumah ini salah rumah deh ..?" telisik Reina, seolah membuat penasaran.
"Itu tidak salah kirim Reina. Saya yang kirim kejutan untuk kedua anak anak manis ini." ucap seorang wanita paruh baya, membuat Reina menoleh amat terkejut bukan main.
Reina mengerjapkan bulir mata berkedip, mewaspadai untuk wanita itu tidak terlalu dekat.
"Tante Jing..." lirih Reina, yang mulai diingatkan lagi hal pahit.
Reina menoleh pada bibi Ros! saat ini memang kue yang mereka jual sudah habis sejak pagi, maka Reina meminta bibi Ros mengajak kedua anak anaknya masuk ke dalam rumah.
"Sayang! sama bibi dulu ya, bukankah hari ini ada private pengajian online! nanti bunda nyusul ya nak!"
"Oke bunda." senyum Bima, mengajak Kanya masuk.
__ADS_1
Setelah dirasa aman, pintu tertutup. Reina meminta tante Jing duduk di teras rumahnya. Hal itu membuat gugup, memegang bajunya.
"Tidak usah repot! aku datang kesini, sudah pasti kamu tahu alasannya. Duduklah, saya juga tidak suka basa basi."
"Tante, Reina tidak pernah datang dalam hidup Azam. Bahkan saya tidak mau, hubungan saya dan dirinya berlanjut, sama seperti yang tante Inginkan."
"Haha, ya semua itu karena kamu melamar pekerjaan di perusahaan anak saya! itu salahmu, jadi apapun mereka itu anak anak Azam, putraku. Aku tidak sudi, jika kekayaan diwarisi oleh mereka. Apalagi mendapat menantu seperti kamu. Bukankah sangat mustahil, orang kaya menikah dengan orang miskin kaya kamu, bakal nular miskin keluarganya nanti." ketusnya.
Deg.
"Jangan jadi sok ustadzah kamu. Tante langsung saja ya! ini cek, seratus juta. Pergi dari kediaman Azam saat ini. Jika kamu masih bertemu Azam, tante bisa lakukan sesuatu pada bocah itu."
Braaagh!
Meja di gebrak oleh Reina, sakin refleks.
"Cukup! Jangan berani sentuh anak anak saya! meskipun dia darah daging putra anda, tapi saya tidak akui. Tapi kedua anak anak saya, tidak akan mengakui anda adalah neneknya. Urusan anda sudah cukup menyakiti saya, jika anak saya terjadi sesuatu, saya akan lawan tante meski tante lebih tua dari saya! Kenapa tante tidak minta putra tante berhenti mengikuti saya!"
__ADS_1
Sreeth!
Reina merobek cek pemberian Jing, meminta ibu paruh baya itu keluar dari kediamannya, dan Reina pergi dengan kesal saat itu juga.
"Dasar perempuan tidak tahu diri." ujarnya, membuat Jing murka dan meminta supir, mencari tahu cluster kediaman Reina, apakah dia menyewa atau rumah sendiri.
"Cari tahu rumah ini, jika penghuninya menyewa. Beli rumahnya dan usir mereka dengan memalukan!" ujar Jing, pada seseorang.
"Baik Nyonya."
Sementara Reina, ia menatap kedua anak anaknya. Beberapakali ia menghubungi Diva, tapi nomor tujuan hongkong disana masih tidak aktif. Reina sungguh tidak punya kendali, satu satunya orang yang ia bisa percaya adalah Diva, dari keterpurukan dirinya tidak kuat dengan ancaman orang kaya semena mena. Bahkan Reina tak ingin melibatkan bibi Ros! karena ia sendiri sudah banyak membantu tenaga, menjaga kedua anak anak dengan baik.
'Aku harus apa, apa seperti ini. Kenapa orang kaya selalu semena mena. Aku tidak pernah merusak hubungan oranglain, tapi kenapa mereka mudahnya merusak kehidupan orang lain?' isak Reina bersedih.
"Diva, andai kamu ada. Dan pertemuan ini tidak pernah lagi bertemu Azam, mungkin keadaan tidak serumit ini. Kenapa aku harus dipertemukan olehnya lagi, padahal yang pria yang baik berjasa untukku adalah orang seperti Diva." lirihnya masih memencet nomor tujuan luar negeri.
TBC.
__ADS_1