Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Hantu Mantan


__ADS_3

"Ok! berita ini gue terima. Ini uang muka buat kalian berdua, kalian bisa kabarin saya secepatnya!" ujar pak Diva, dari kepolisian.


"Terimakasih pak." ujar Brian dan Melin pergi lebih dulu.


Satu persatu, kasus kematian keluarga polisi terungkap, setelah semalam Melin didatangi arwah. Tragisnya pembunuhan yang di alami itu motif kecemburuan, yang di amankan pelaku adalah sepupu yang cemburu karena harta dan wanita, jadi intinya istri kepolisian itu adalah mantan pelaku yang berada di rumah sakit jiwa. Ia menikah dengan sepupu dan mempunyai dua anak hidup bahagia.


"Ga habis pikir ya? ternyata motif cemburu bisa mudah hilangin nyawa. Rasanya pas bunuh itu, kok bisa mukanya datar?" tanya Brian.


"Jin, syaitan menjelma dalam wujud manusia. Intinya banyak banyak istighfar!" balas Melin.


Tak lama nada dering panggilan dari nomor salah satu dosennya. Yakni pak Brody, Melin mengangkatnya dan membuat klaim, jika jasad pak Kola dan Mira, sedikit melirik Brian. Kala Melin saat itu berbicara.


"Arah selatan! setelah beberapa hari, dua jasad pasti akan ditemukan, bapak boleh tidak percaya. Tapi ayam hitam yang mereka inginkan memang adanya! bukan saya yang mengada ngada, menurut saya dari pada bapak berkomentar aneh. Lebih baik bapak diam, dan jika hasil tes dna cocok! tanda tangani skripsi saya pak!" cetus Melin dan menutup ponselnya.


Brian yang tahu dosen gilanya kembali berulah, ia segera mengikuti Melin yang saat itu suasananya semakin pening. Brian hanya berusaha membuat mood Melin yang lelah tidak makin memburuk.


"Stop Melin!" teriak Brian.

__ADS_1


Tak lama Brian meminta Melin diam, Melin spontan terdiam dan melihat arah sekelilingnya yang berubah menjadi hutan dengan satu rumah tua yang gelap dan berlumut. Hanya ada mereka berdua, jelas jelas tadi mereka sedang dijalan raya berjalan pulang ke rumah. Tapi entah kenapa dalam hitungan detik berubah saat mereka mengayuh sepedanya.


"Apa mau kalian sebenarnya, aku tidak mau mengikuti kalian lagi!" ujar Melin menatap arwah di depannya yang melihat tajam, dengan satu bola mata saja. Dan mata satu lagi seperti hilang.


"Ting, ting, ting..."


Dentingan yang semakin cepat menyeringai pendengaran, membuat Melin menangis bercampur rasa penasaran. Tapi sepertinya aku tidak bisa lagi lari dari sini. Brian masih berjaga di balik punggung Melin, bukan tanpa alasan ia pun sedikit pucat ada rasa ketakutan.


Baiklah, aku akan segera menyentuhnya, tapi kau diamlah dan jangan terus memotong jalan Brian! di belakang toko buku, aku mengayuh sepedaku dengan cepat menyeberang jalan, hingga seseorang mengejutkanku, dan kami sama sama terjatuh.


"Argh...."


Ya, seseorang yang menabrakku saat ini adalah cinta pertamaku. Arwah Geri yang Melin lihat, tapi hanya bayangan putih hologram seperti angin yang Brian lihat saat itu.


Geri namanya. Kami saling berpandangan jika bertemu di sekolah. Tapi, entah kenapa dia selalu kabur jika aku melewatinya. Tidak mungkin aku wanita yang memulai berkenalan dengannya. Kami sudah lama kenal sejak sekolah dasar, bahkan selalu satu kelas. Entah kenapa jika aku bertemu dengannya, aku selalu terhalang sesuatu.


"Cuman senyum aja, selalu begitu, menyebalkan." lirih Melin, membuat tatapan Brian aneh menggaruk kepala.

__ADS_1


Melin kembali mengayuh sepeda mini dan Melin sudah sampai di rumah yang persisnya berhantu. Brian masih melirik jalan, seolah ia kembali pada rumah berlumut itu lagi, tapi Brian melihat Melin pada satu pohon yang membuat penasaran.


"Lo liat apa Melin?"


"Cowo, temen pria yang gue kenal dulu. Ia dinyatakan hilang, tapi gue lihat dia disana!" ucap Melin, membuat Brian kembali menelan saliva, yang ia tunjuk adalah satu pohon besar yang rimbun ditengah sungai.


"Siang begini, pasti tidak akan ada hantu. Mana ada hantu di siang bolong iyakan?" Gumam Brian sambil memarkirkan sepedanya.


"Melin, lo baik-baik saja?"


Dulu di sekolah, temanku yang bernama Geri akan mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya. Ibunya adalah teman saat mamaku bersekolah. Bahkan mereka duduk satu bangku. Tapi ia hilang begitu saja, dan kini kenapa kita mau pulang, harus bertemu sosok wanita mata yang copot, dan pria teman gue yang basah kuyup pucat ke arah sana. Ucapan Melin membuat Brian merinding.


Brian yang kaku, terdiam kala Melin mulai menceritakan lagi. Brian kembali fokus, karena dengan fokus kepekaan dirinya terhadap kasat mata akan terbuka seperti Melin yang notabane indigo, ia wanita yang berbeda yang kerap selalu datang arwah meminta bantuan, hidupnya masih tidak tenang sebelum kasusnya di adilkan.


"Mel, jadi kita ga bisa pulang? apa dua arwah si mata copot, sama arwah temen lama lo yang basah kuyup itu dia meninggal di sungai itu, dan rumah tua yang kita lihat itu. Adalah gudang susu yang saat ini dibuat pabrik?"


"Brian, lo juga rasain kan. Sewaktu kita mau pulang, perjalanan kita berubah jadi hutan dan satu rumah tua aneh berlumut, mereka kasih gambaran. Kita ga bisa pulang, sebelum kita bantu mereka. Lo bawa kotak blody marry gue kan?" tanya Melin.

__ADS_1


"Ada di tas, bentar gue keluarin dulu." gemetar Brian, yang kembali berusaha tidak takut, meski jujur ia sangat penakut.


Tbc.


__ADS_2