
Milen bergeming, tetapi netranya mengikuti arah Roy, berjalan menaiki anak tangga. Milen sekarang sangat bingung dengan sikap pria pembunuh berdarah dingin itu. Sekilas Roy, terlihat seperti anak yang tidak mungkin tega membunuh orang lain.
Milen mencoba fokus, entah kenapa di saat kasus ini. Arwah Sina tidak menampakkan, Brian memegang tangan Milen. Jika apa yang ia lihat benar, dan tidak menjadi boomerang.
"Brian! gimana kalau seluruh polisi gak dapat temuan yang aku lihat di rumah ini?"
"Mil! aku percaya kamu, pria itu jelas pelakunya. Dia bersikap tenang, seolah dia memang tidak bersalah. Ironis sekali, aku ada dekat kamu. Pak Diva juga percaya sama kamu Mil, gak akan terjadi apa apa!" ujar Brian, menenangkan.
Milen yang membuka kotak bloody marry! ia kembali setelah cuaca pengecekan empat jam lamanya, yang memakan waktu lama. Hingga Milen kembali ke raganya dan berteriak pada pak Diva.
"Pak! disini, tolong gali talang air ini, disini tombol menuju gudang mayat itu!" teriak Milen membuat sorot pria bernama Roy menatap tajam.
Seorang polisi mendetek, galian itu terdapat jerami. Setelah kedalaman lima belas centi, benar saja tombol merah di pencet. Dan pintu gerbang rumah belakang terdapat ruangan rahasia terbuka begitu saja. Seluruh polisi dikerahkan mengeceknya.
__ADS_1
Milen memegang tangan Brian! benar saja, anjing pelacak segera menemukan jasad dan tulang belulang manusia. Semua warga sekitar ramai, di garis kuning. Terlihat pak Rt Pak Jo akhirnya kagum, yang tadinya ia kesal karena Milen adalah anak yang ikut campur. Tapi ia baru tahu, jika kemampuan Milen bagian dari kerjaan detektif serse kematian yang hilang tidak terpecahkan.
Milen melihat pelaku dibawa ke kantor polisi, tak sedikit juga ia senyum ke arah loteng.
Arwah Sina baru nampak, ia senyum dengan tanda terimakasih telah mengungkapkan kematiannya.
Milen terharu senang, ia berbalik badan, ia menatap Brian yang menguatkannya jika ia tidak salah. Sehingga pak Diva mengucapkan banyak terimakasih. Karena identifikasi di gudang, bukan hanya arwah Sina yang hilang. Melainkan masih banyak korban lainnya yang akan terungkap.
Tak henti hentinya keluarga Sina menangis, ia tidak karuan kala melihatnya. Milen berusaha ingin sekali menenangkan, tapi Brian meminta Milen untuk tidak masuk lebih jauh. Karena batas pekerjaannya hanya sampai disini, selebihnya urusan polisi yang bertugas.
"Brian! aku hanya membantu tugasmu, bukankah kita akan terus membantu. Kita perlu sebuah apartemen di kota kan. Aku ingin hidup di kota yang ramai!"
"Benar, kota tempat yang ramai! aku akan berjuang untuk masa depan kita Milen!" balas senyum Brian.
__ADS_1
"Jadi keputusan kamu bagaimana, apa kamu mau menutup mata batin ini, setelah kasus aku selesai?" tanya Brian.
"Sepertinya enggak deh, kalau aku tutup. Gimana nanti buat bantu kamu, secara kemampuan ini membantu kamu, memudahkan kasus kamu terungkap. Hanya karena mereka tahu aku dapat melihat keberadaan mereka yang tidak tenang, bukannya keputusan aku baik. Membantu mereka yang tidak tenang?"
"Mil, tapi aku mau kamu sehat tanpa melihat gangguan itu, aku ga mau nanti ketika kamu hamil, kamu akan terganggu. Konon jika kamu melihat mereka, kita gak akan punya keturunan, karena janin itu wangi buat mereka."
Deg.
Milen terdiam, ia tak bisa menjawab apa apa lagi saat ini.
Tak lama Brian menatap pesan, Brian pun melihat itu adalah nomor sang dosen.
"Kenapa dosen Kola hubungi kamu? dia kan udah ma..ti." lirih Brian, membuat Milen diam pucat, ketika sosok dibalik punggung Brian, menyeramkan.
__ADS_1
Milen syok ketika dibelakang Ryan ada sosok seram.
TBC.