
Milen meminta Brian menunggunya, karena ia akan pergi dengan Diva. Brian pun menurut, hingga sampailah ia tertarik pada suatu benda melayang mirip pajangan dirumah dukun dengan magic.
Brian tertarik menyentuhnya, tapi arwahnya menyerap ke suatu benda. Hingga ditempat gelap dan pengap, tanpa pintu ia berada berteriak memanggil Milen, tapi tak seorang pun mendengarnya. Kala itu Brian melihat bayangan mirip dirinya dengan seorang wanita, yang seolah itu adalah masa awal dirinya sebelum menjemput kematian.
'Lihatlah, ingatlah hari hari terakhir kamu meninggal. Ini adalah gambaran, ketika kamu kembali. Maka kamu akan semakin jauh untuk memutuskan!' ucap suara tanpa wujud, membuat arwah Brian kebingungan.
'Arg .. Siapa kamu, mau apa kamu?' teriak Brian.
FLASHBACK BRIAN MASIH HIDUP DI DUNIA
Milen sampai di rumah tua, ia benar melihat seorang ibu tua sedang meratapi sebuah foto. Milen juga mengetuk bel, terlihat seorang perempuan menyoroti matanya agak tajam.
"Kamu siapa?"
__ADS_1
"Aku Milen! mau bertemu ibu Anna."
"Mau apa, ada keperluan apa?" ujar Medi.
Milen tahu, dia adalah medi karena arwah Yas memberitahunya. Milen senyum berbaik hati, lalu dengan meminta Medi tenang, ia telah memberitahu polisi Diva untuk mengecek di area sekolah melati angkasa lima. Saat Milen menceritakan, Medi jatuh ketakutan. Kenapa bisa ada orang yang tahu, disaat kejadian itu.
"Kamu tahu darimana?"
"Tuhan memberikan tahu, seburuk buruknya kamu menyimpan bangkai! pasti ketahuan. Lebih baik kamu akui saja, kasian ibu Anna." ujar Milen. Tapi medi menutup gerbang, mengusir Milen dari rumahnya.
Yas terdiam, ia menatap Milen tanpa mengucapkan apapun Milen belum tau fakta kematian seseorang tersebut. Mungkin jika ia mengetahui fakta tersebut, ia akan lebih mudah menerka.
"Aku melihat dia di bangku taman, persis dekat kelas kosong di belakang sekolah. Awalnya aku membaca buku. Tapi makin aneh, dia datang bilang dia juga suka membaca di sekolah yang sama. Awalnya aku kira dia murid, tapi ternyata dia bukan murid yang nyata." ujar arwah Yas.
__ADS_1
Menarik sekali sih, genius, pemilik kemampuan, bisa melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat juga. Milen tertegun membayangkan kehidupan Yas. Gimana cara dia pertahanin sikap cerianya? Padahal dia sendiri pasti sering melihat sesuatu yang jahat. Milen tanpa sadar tersenyum seorang diri membayangkan sosok Yas. Walaupun Yas seharusnya masih berada di kelas satu SMA.
Kali ini Milen di ajak ke kamarnya, hanya dengan menutup mata dan berpegang tangan pada arwah Yas. Benar jika jiwa Milen berada di kantin, sementara Brian menjaga disampingnya dengan membuka kotak blody marry. Tapi aslinya raga Milen, berada di kamar Yas seolah mencari petunjuk.
Yas terbujur lemas di kamarnya. Mamanya habis memarahinya karena Yas tidak mengindahkan perkataan beliau. Mamanya selalu menyampaikan agar tidak berkomunikasi dengan arwah lagi.
Medi membaringkan tubuhnya tepat di sisi Yas. Ia menepuk-nepuk kasur yang dinilainya sangat empuk. “Aku pernah ngerasain kasur seempuk ini selama berbulan bulan.”
Walaupun mengatakan hal tersebut, sebenarnya Medi hanya menerka-nerka keempukan kasur Yas. Medi iri dengan milik kepunyaan Yas, saat itulah Melin diperlihatkan hari terakhir arwah Yas sebelum kecelakaan di sekolah.
"Wah, kamu terlahir hidup enak Yas." ujar raga Melin.
Yas menggelengkan kepalanya. “Tidak juga, memang kelihatannya mudah, tapi sebenarnya ada susahnya. Tuhan itu adil, tergantung kita gimana mau hadapin ujian darinya.”
__ADS_1
Milen terkekeh, Yas melirik lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Melin, karena suara arwah itu terdengar mengerikan.
TBC.