
Beberapa saat kemudian, Milen tersadar akan lelah hari ini. Ia kini merebahkan dirinya untuk bersandar. Hingga lelap ia merasa kacau kali ini.
Kegiataan naskah S Film hollywood telah tamat. Sehingga ia masih bisa bernafas lega tidak di kejar deadline.
"Ya ampun. Dia ketiduran di sini?" ungkap Fara cetusnya.
Milen pun tertidur pulas. Suatu cahanya menyilaukan pandangannya kala itu. Ya. Mimpi Milen yang menakutkan bagai ketakutan di akhir.
"Ibu Milen. Dimana yang bernama ibu Milen?" ucap seseorang.
Milen yang baru dua langkah. Ia memutar tubuhnya dan mendapati sang dokter keluar.
"Saya Dok. Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Milen melemas.
Sementara wajah dokter saat itu, sangat tidak baik. Tepat bersamaan polisi meminta Milen untuk ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
"Begini bu. Kondisi suami ibu saat ini." dokter terdiam.
"Ibu Milen. Kami memberikan waktu selama lima belas menit. Mohon untuk bekerjasama!" ucap Polisi wanita.
Milen pun berterimakasih pada seorang dokter. Lalu ia mencoba membuat hatinya tetap tenang. Meski ia juga takut akan Sea yang terjadi sesuatu.
"Dokter. Bagaimana dengan Sea. Wanita yang satu tragedi kecelakaan bersama suami saya?" tanya Milen.
"Mari kita keruangan dokter sekarang bu. Sebab ada berkas yang harus saya beritau dari awal. Dan berkas yang harus ibu tanda tangani saat ini!"
Milen terdiam, ia menatap berkas hitam dan meminta dokter menjelaskan apa keterangan dari gambar hitam yang dokter berikan.
"Apa. Benarkah, itu pasti tidak mungkin kan dokter?" teriak Milen histeris.
__ADS_1
Begini kondisi kepala suami ibu kini berada dalam pendarahan otak di dalam. Sehingga kami harus melakukan operasi besar, namun ada kemungkinan untuk bertahan tidak bisa seperti normalnya.
"Mengapa semuanya seperti ini tuhan, aku tidak ingin balasan pada orang yang aku sayangi. Meski ia telah menyakiti batinku. Aku harus apa tuhan." benak Milen.
"Lalu kondisi Sea bagaimana dokter. Dan bayinya bagaimana?"
Dokter hening. Meletakkan kacamata dan meminta untuk bersabar dan tabah.
"Mohon maaf. Nona Sea dan Bayinya kami tidak bisa selamatkan. Kami mohon maaf yang sebesar besarnya. Bu Milen yang tabah!"
Milen terdiam kaku. Tubuhnya lemas berangsur angsur bagai tanpa tulang. Sehingga ia menatap Kembali manik manik langit dan wajah dokter samar.
BRAAAGH.
"Bu Milen bangun, sadar Bu!" titah dokter.
Beberapa jam kemudian. Milen terbangun, ia menatap seseorang dengan bayangan dengan kaos putih.
"Kamu sudah siuman Mil. Istirahatlah, semua nya sudah saya selesaikan. Ada Rein, Kea dan Mis membantu pemakaman Sea. Juga untuk suami, ia kini di rujuk di penang. Ada baiknya ia di rawat di sana dekat dengan keluarga!"
Milen bersandar. Lalu menatap jelas jika pria disampingnya adalah Alva. Tak menunggu Lama ia meminta Alva Muda untuk pergi dan menjauh.
"Pergilah Alva. Aku tak bisa, bagaimanapun kita bukan muhrim. Apa jadinya jika kamu dekat dan membantu saya. Saya tidak ingin Ummi dan Abie salah paham!"
"Aku sudah menjelaskan. Apapun itu, kita saat ini hanya kontrak kerja. Sudah seharusnya sebagai atasan aku membantu."
Milen ingat berada dalam pemakaman. Sea kini telah berada ditanah dengan taburan bunga. Meski ia sangat sakit, tapi ia tak bisa melihat semuanya berubah dalam satu malam.
"Mah. Apa Diva baik baik saja?" tanya Milen pada Mama Mertua.
__ADS_1
"Kamu tenang ya. Papa telah mengurus dibantu Alva. Dia juga yang memberi keterangan jika kejadian itu murni kecelakaan. Sea ingin mencelakai kamu, tapi Diva menghadang sehingga semuanya menjadi seperti itu."
"Apa. Kenapa Alva Muda lagi?"
"Ya. Berterimakasih lah, kamu bersabar menunggu sembuh. Kita tak pernah tau rencana tuhan. Kesabaranmu membuat Tuhan melindungimu sayang. Jangan pikirkan semua pasti baik baik saja!"
Milen ternyata kini berada di rumah sakit. Ia jelas menatap suaminya sedang koma. Dengan wajah yang semakin pucat. Lalu dengan sadar ia meminta untuk menunggunya.
Dan ia bersedia menunggu Diva hingga sembuh dalam keadaan apapun.
"Milen akan selalu menunggu kesembuhan Diva Mah." lirihnya.
"Ya. Milen sayang, meski ia sembuh dengan cacatpun. Ia harus mempertanggung jawabkan untuk menerima di jeruji besi. Bersabarlah!"
"Itu gak mungkin mah. Milen akan menyerahkan diri, Milen tak sanggup jika Diva yang lemah sudah di tetapkan tersangka. Itu tidak adil!"
"Milen. Itu tidak akan terjadi, kamera dashboard dan cctv kejadian sudah kuat untuk bukti sayang. Mama paham tapi bersabarlah!"
Milen kembali berada dalam kamar. Di temani mama May. Ia begitu hancur dan terpukul saat ia hanya bisa melewati hari hari dengan kesedihan.
Hari berlalu dari waktu hingga sudah enam bulan lebih tak terasa. Ia hanya bisa menatap video call keadaan suaminya Diva sebenarnya berada dimana.
Sreeet!
Milen pun terbangun, dirinya membuka mata kala di depannya adalah Alva Muda dan sang supir Ale, dan bisa bisanya ia mimpi aneh dimana dirinya memimpikan Diva.
'Apakah ini pertanda keadaan Diva sebenarnya?' batin Milen.
"Sudah bangun Milen?" senyum Alva Mida, yang menoleh kebelakang mobil.
__ADS_1
Dimana Milen berusaha nampak biasa biasa saja, dan mungkin ia harus berbaik hati pada Alva untuk mengetahui keberadaan mas Diva.
TBC.