
DI TEMPAT LAIN
"Milen. Kok lo bengong aja sih?" tanya Fara.
Milen seharian banyak merenung dan bengong, ia hanya mendengus nafas panjang. Ia menutup matanya dan berbicara hal tak masuk akal, membuat Fara kebingungan.
"Tu-tunggu - tunggu bentar deh Mil. Lo bilang selesai kita bobo cantik. Emang kamu kemana? gue ketuk pintu akses lo ga kebuka. Jelasin secara detail sekarang!" titah Fara.
Milen menatap samar akan wajah malu nya. Ia memutar jus lemon agar ia berusaha rileks dan berbicara memalukan pada Fara. Karena ia tau jika Fara bisa di ajak komitmen, apalagi dia menepati janji teman yang care padanya untuk menutup tidak menceritakan masalah buruknya pada yang lain. Ya setidaknya Fara tipikal teman baik, jauh dari kata teman yang seperti Sea. Semoga saja Fara tak mengecewakannya.
"Lo janji ga akan kasih tau siapa siapa. Dan ga kaget ya. Ingat ga pake teriak!" pinta Milen.
Fara mengangguk. Lalu mendengar dengan menyeruput es boba ala island dengan taburan ice cream. Ia menatap Milen dengan serius tanpa bersuara sedikitpun.
Flashback.
Malam itu Milen duduk memesan mint mojito. Ia terkejut akan pria yang ia kenal beberapa detik dengan pengawal upin ipin tak jauh dari mereka. Ya dia adalah M Alva Muda. Boss besar atas project barunya di island, tapi entah mengapa ia di kelabui pria bernama Bran dan mendekatinya ketika music semakin kencang ala Dj dan Fara semakin asik dengan Satie berbincang saat itu.
Milen berjalan ke arah batender dengan mengalun telinga yang ia dengar suara dj brata. Padahal, niatnya masuk ke dalam ruangan, dengan map nama yang ingin ia ketahui yakni Alva dan Diva.
Nada yang membuat ia asik, tapi tak ingin berlama lama duduk, jika bukan karena Fara yang badmood, dan misinya tidak mungkin Milen diam saja.
Seseorang bernama Bran mendekati dan meliuk suara dengan fasih dan menggoda membuat Milen begidik ngeri, tapi suara yang merdu bagai rekaman suara orang lain.
Gratatata ... Sterliaju ... Papapaa.
__ADS_1
ubagayeshi' of menya ... smotrish me vs glaza.
Gratataaa.. Ya teh iyubyu tebya, moya baby mama... Tebe w nuzhley gucci, louis, prada ... Svoyos prayastoto ubila ve mine gada. Money vs ....
"Cukup. Menyingkir!" Milen segera berdiri dan menjauh.
Desisan nada lirik akhir membuat Milen merinding karena ia tahu artinya itu.
"Fa. Ayo aku antar kamu!" tak mendapat balasan saat Fara mabuk berat, ia meminta Satie pergi tak mendekat pada temannya itu.
Saat ia mengantar Fara ke kamar dan memastikan pintu terkunci. Tubuhnya terasa panas, ia mulai berkeringat dingin dan membuat hatinya semakin tak karuan ketika pandangan kabur ketika menunggu lift terbuka, saat itu Milen memang minum dari seorang pelayan yang memberikannya jus, tapi entah kenapa tidak mabuk namun membuat dirinya panas.
Milen ingat kala ia meminum kembali, ada rasa sepat dan menyengat aneh di lidahnya. Tapi ia tak berfikir buruk, ia segera pamit dan menjauh mengajak Fara kembali. Guna menghindari pria lain.
Tapi saat malam ia membuka mata, ia terkejut akan pria di dekatnya memeluknya. Ya dia adalah Alvaro. Terlebih ia malu karena kecerobohannya membuat ia harus pasang muka tebal ketika bertemu dan mengetahui apa yang terjadi malam itu, saat Ale memberitahunya.
Fara jelas menatap big boss nya kini memang sangat berbeda. Ada raut wajah tak beres dan pandangan tatapan berbeda pada Milen.
Fara mengenal bosnya kala ia sudah bekerja satu tahun. Tapi ia hanya pernah sesekali mendapat email dan telepon saja. Bahkan ia baru tahu akan tampan bosnya kala ia bertemu pertama kali. Tapi ia tak menyukai sosok bos tajam dan lebih parah selalu rehat di club dengan beberapa wanita di kiri dan kanan.
Fara lebih tertarik pada Ale tapi keceriaan pada Satie yang supel membuat ia nyaman bergaul selama tugas di island.
"Ini semua salah gue Mil. Gue harusnya dengerin lo ga ampe mabuk, Mil. Sorry ya!"
"Udah Fa. Tapi gue harus apa, soalnya monster itu bener bener bikin mood gue ga beres. Bikin gue muak, gue harap kerjasama kita cepat berakhir disini." bisik Milen menatap Fara.
__ADS_1
"Gue bakal bantu lo, lo curiga kan sama nama Alva Muda yang wajahnya mirip laki lo?"
'Hmm...' balas Milen.
Alva mendengar percakapan dua wanita, yang tak sengaja ia melewati cafe untuk makan siang di lantai atas ruang private. Ia segera meminta Ale melakukan sesuatu. Seolah pria pesantren telah hilang dari jati diri Alva, ketika ia ingin mendapatkan Milen demi memutus rantai iblis kesialan pada Milen.
"Wanita tidak tahu terimakasih. Lihat saja, setelah menyebutku monster. Kau adalah penyihir yang tidak akan lama lagi kehilangan arah." senyum Alva kembali berjalan.
Hari demi hari hingga memakan waktu satu pekan Milen dan Fara telah berada dalam masa senang untuk kembali ke tanah air. Tapi sorot mata Fara tersenyum saat Ale datang ke ruangannya. Ya ruangan dimana ia dan Milen berada satu ruangan hanya dibatas bilik dinding kaca bening. Tapi ia kecewa saat Ale melewatinya.
"Nona Milen. Tolong tanda tangani selama tiga puluh menit!"
Milen menatap map merah Oren itu. Ia membaca dengan pelan pelan dan terkejut akan baik perbait membuat ia tak suka dan kesal. Lalu menatap amplop putih, jelas tiket kepulangan Fara. Tapi tidak dengan dirinya, ia di minta monster untuk merevisinya sebelum berakhir.
Milen menatap wajah di kaca ruangan. Membuat Fara kaget akan sikap dan sorot Milen yang berubah garang.
"Eeth dah. Kenapa gue yang kaget, Mil ada apa sih?" tanya Fara berlari kecil.
"Gue mau makan orang. Gue harus lempar semua file gue ke monster sialan itu!!!!"
Teriakan Milen membuat Fara bingung. Ia membaca dan menatap satu persatu. Lalu Fara tersungkur lemas saat ia mengetahui Milen masih tinggal paling sedikit enam bulan.
"Mil. Gue bisa bantu apa, gaji lo juga belum masuk kan. Apa bos kita punya maksud terselubung?" tanya Fara.
"Gue ga terima. Aakh hak dia, gue harus keruangannya sekarang. Gue dah rindu anak anak gue. Gue harus ke penang dan lihat kondisi mantan laki gue juga, ga bisa seenaknya dia nahan gue tugas disini."
__ADS_1
TBC.