
Reina baru saja sampai rumah, ia kebetulan naik taksi. Hingga beberapa saat ia duduk di tepi toko etalase kue jualannya, nampak bibi Ros, membawakan minum.
"Pakai taksi non, mobilnya kemana?"
"Ke Bengkel bi, bibi tahu kan. Reina penat deh, hari ini kue tutup setengah hari aja bi. Kue yang ada, mau di borong sama bu Rt kan. Kayaknya Diva juga telat, dia itu katanya ada interview kerjaan."
"Oh, iya tadi ada orang dari mas Diva, yang bantu itu, pesanannya pas kok ini. Seribu pcs, apa kita ga buat kue lagi Non. Sayang kan masih ada waktu setengah hari?"
"Bibi udah capek, lagi pula Reina belum cek bahan makanan di dalam. Bibi sama pak Sup, jadi mau ke pasar?"
"Jadi non, ini mau beberes dulu."
"Ya udah, nanti bareng aja di taksi sama Reina, kebetulan Reina mau keluar, sehabis dari jemput anak anak." jelasnya, membuat bibi Ros mengangguk.
"Tu-Tunggu non. Ini tadi ada surat, dari pak Heru. Katanya nitip buat non Reina."
Reina pun mengambil surat itu, sehingga bukan tanpa alasan, ia masuk sambil menyobek surat yang entah Reina juga tidak tahu.
'Reina, maaf jika saya lancang! tapi, bisakah anda jenguk siang ini ke rumah sakit. Saya mohon! Tuan Azam, saat ini amnesia Global, bersifat sementara dan ingatannya itu, hanya ada pada nama anda. Bisakah anda ke rumah sakit medika ruang mawar 112. Saya mohon! saya mengirim pesan ini, karena saya tahu anda wanita yang baik, yang mungkin masa lalu dengan Tuan Azam sangat indah. Karena dia hanya bisa ingat, nama dan memanggil anda saja. Saya mohon kedatangan anda, sudah pasti akan membuat ingatan tuan Azam kembali.'
Deg.
Reina terdiam, dimana ia duduk lemas. Kenapa takdir terus saja membuat hidupnya sulit, Reina hanya ingin hidup tanpa masa lalu, bahkan kedatangan Azam, membuat Reina ketakutan sebuah ancaman besar. Sekalipun ia tidak kembali pada Azam, nasab anak anaknya ada padanya, bukan pada Azam. Sehingga tidak perlu lagi, Reina mengemis agar Azam bisa bertanggung jawab seperti dulu, ia masih bodoh.
"Aku mana bisa menemuinya bi?" lirihnya, saat bibi Ros mendekat.
"Non. Maaf kalau bibi lancang, tapi bukannya menolong itu sifatnya mulia. Apa non Reina masih dendam, saran bibi lupain semua dendam itu non. Biar lega semuanya."
"Karena Azam, aku gak dianggap sama ibu. Apa karena ibu udah cukup sama anaknya yang disekolahkan di amerika, hingga dia enggak mau anggap Reina, bahkan waktu ketemu soal Bima hilang, Bima sama ibu. Reina cuma punya ibu, tapi ibu milih hidup sama suami dan anaknya yang baru, hanya karena Reina membuat kesalahan. Apakah aku ga pantas dapat maaf, bi? sampai sampai bertemu Reina, ibu asing sama aku. Lagi pula ayah Yus itu bukan ayah kandung Reina, tapi finansial ayah Yus lah yang membuat ibu terkunci." lirih Reina, sebab kakaknya disekolahkan tinggi di amerika.
"Sabar non. Jangan di ingat sedih itu!" lirih bibi.
__ADS_1
"Reina harap, bibi Ros dan pak Sup jangan tinggalin Reina ya. Sampai kapanpun, bibi sama pak Sup udah bagian keluarga Reina." tangis Reina, terisak.
"Iya non. Bibi janji ga akan tinggalin non. Udah non Reina jangan nangis lagi ya! maafin bibi udah buat ingat soal itu." Bibi Ros menepuk bahu Reina, dalam pelukan hangat yang masih terasa menyedihkan.
Beberapa jam kemudian, Reina telah mendrop bibi Ros dan pak Sup yang akan belanja bulanan kebutuhan di rumah yang hampir habis, saat ini Reina juga menyempatkan dirinya ke bank. Dimana ia harus mencairkan rekening berjangkanya yang sudah terpendam selama lima belas tahun, dulu selagi Reina masih bekerja pramugari, ia menyisihkan keuangannya untuk suatu hari nanti, pasti ia butuhkan.
Reina yang sudah sempat mengambil nomor antrian, ia segera menunggu panggilan. Kebetulan juga, nama petugas banknya adalah Dira, teman baik Diva.
"Atas nama bu Reina, silahkan bu!"
Spontan Reina senyum, hanya karena Dira yang kali ini sedang bekerja, maka ia sempatkan bersapa dengan ramah.
"Jadi kamu cairkan nih Ren, enggak di perpanjang?" lirik Dira.
"Kamu kan tahu Dir, aku lagi butuh banyak pengeluaran. Kondisi keuangan aku yang terpuruk, aku gak mau sampai bibi dan pak Sup cari kerjaan baru."
"Ya ampun, segitunya kamu sampai gak mau kehilangan. Kamu bisa bilang sama aku dan Diva, kalau butuh sesuatu."
Reina hanya membalas senyum dan tidak mau merepotkan orang terdekat, pantang bagi Reina berhutang. Ia takut teman baiknya malah pergi selamanya karena di susahkan, apalagi menyangkut soal materi yang sifatnya sensitif, ia takut tidak bisa mengembalikan tepat waktu.
"Lancar sih, tapi ya gitu deh Dira. Kue lebih banyak kita makan dan di bagiin kalau ga habis. Tapi syukur sih, rame terus setiap hari. Cuma aku kayaknya harus kerja deh, apa aku lamar kerja aja ya, di bank kaya kamu?" goda Reina.
"Jenuh Ren, aku punya kenalan tuh. Jadi! bos nya manager kacab aku ini, punya temen. Perusahaan Berlian, kamu mau aku kenalin. Tapi masih banyak sih sebenarnya, kayak perusahaan Kontraktor, tambang, sama Jewelry gitu. Coba kamu buka blognya, nanti aku japri ya."
"Iya, makasih ya Dira. Kamu kenapa jenuh enggak lamar juga?"
"Udah malas aja meski jenuh, tapi nyaman hehehe." balas dengan tawa.
Dira pun meminta Reina menunggu sebentar, hingga beberapa waktu ia memutar waktu dan jam, semoga ia tidak terlambat menjemput kedua anak anaknya itu.
"Nih, saldo tabungan berjangkanya udah di kirim ke rekening umum kamu. Silahkan di cek ya Ren! ada tambahan bunga 1,9 % perbulan, selama lima belas tahun, keuntungan dan pencairannya di kertas ini! nanti kamu hitung lagi di rumah, kalau ada kesalahan kamu kontak aku lagi ya!"
__ADS_1
"Thanks Dira, atas bantuannya." pamit Reina.
"Sama sama, sampaikan sama si kembar ya. Salam dari Om Dira." di anggukan Reina kala itu.
Reina kembali naik taksi, sehingga saat sampai disekolah, tepat waktu kedua anak anaknya tiba melihat, mencoba berlari ke arahnya.
Hingga beberapa saat, nampak di belakang Reina terlihat seseorang. Membuat Bima dan Kanya menghentikan pelukannya.
"Bunda itu dibelakang siapa?'
"Anda bu Reina kan, saya supir tuan Azam, di minta pak Heru, menitipkan surat ini. Di rumah sakit tepatnya akan aman, jika bu Reina menjenguknya sebentar."
"Bunda, om ini supir paman Azam ya bun. Bunda, bunda ayo kita jenguk paman Azam!" teriak manja Kanya.
"Pak, begini jika saya jenguk di rumah sakit. Tidak baik untuk kedua anak anak saya, saya janji akan datang! bisakah Heru datang menemui saya, saya sudah membalas surat ini ke surel Heru, tolong sampaikan. Bagaimana pun juga, saya tidak ingin kedatangan saya yang menjenguk Azam disalah artikan oleh orang yang sudah pasti Heru tahu, saya tidak dibutuhkan."
"Baik. Kalau begitu saya permisi bu Reina, segera saya sampaikan pada pak Heru."
Reina kembali menoleh pada kedua anaknya yang tampak murung, kali ini ia mensejajarkan berjongkok menatap kedua anak anaknya.
"Sayang, bunda janji. Kita akan jenguk paman Azam, tapi jika ia sudah di tempatkan di ruangan khusus. Yang pastinya aman, aman dari bakteri. Kalaupun kita paksa, anak kecil tidak boleh masuk sayang, di rumah sakit."
"Begitu ya bun .. iya deh, Bima ngerti."
"Maafin Kanya juga ya bunda, udah paksa paksa bunda sedih." tutur Kanya.
"Enggak sayang, kamu ga paksa bunda. Sekarang kita pulang, tapi kita ke bengkel dulu, mobil bunda habis jajan nih, jadi enaknya kita mampir kemana dulu ya, biar nunggunya enggak lama?" lirih Reina.
"Mixue .. Hot pot! boleh bunda?"
"Bo-boleh dong sayang." senyum Reina, satu tangan kiri menggenggam Bima, sebelah tangan kanannya menggenggam tangan Kanya. Dengan rasa bahagia. Seolah Reina berharap, hidup mereka selalu damai bertiga seperti saat ini, hingga kelak dewasa anak anaknya sudah remaja.
__ADS_1
Rasanya, Reina ingin Kanya dan Bima selalu kecil, agar Reina selalu bersama kedua anaknya yang tak pernah di tinggalkan kelak.
TBC.