Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Menggoda Milen


__ADS_3

Melihat teman kerjanya tercebur, membuat Milen melupakan sisi takutnya pada lautan yang membuat ia pernah tenggelam bersama suami pertamanya dahulu dan memakan korban yang ia sayangi.


Byuuur!


Milen menolong, sehingga tidak memperdulikan bajunya yang terlihat tipis dan berceplak kacamata.


Sehingga cantik natural mempesona Milen terlihat meski kini berusia 30 tahun. Baju putih rok pendek meski dengan celana streth yang menempel berwarna kulit tentu saja membuat Milen dingin dan melekuk tubuhnya, setelah membawa temannya naik ke atas di ikuti dirinya yang di gapai teman lain.


Tapi tiba saja sebuah kapal megah bersejajar pada kapal mereka. Seseorang dengan pengawal datang. Tatapan Ale membuang wajah dan semua menunduk tanpa menatap Milen.


"Kalian kenapa sih. Semuanya ada apa?" teriak Milen.


"Ale. Ambilkan sweater ku diujung!" dengan suara terbatuk batuk ucap Alva, membuat Milen terkaget saat ia telah datang dan mengutil kegiatannya.


"Apa tak ada perusahaan penting. Apa klien tak berguna saat ini. Mengapa kamu bisa sampai ke sini, Alva. Bukankah kegiatan karyawan dan atasan berbeda?"


"Diam Lah. Kamu tak akan sendiri berlama lama tanpa aku!" lirih Alva, membuat Milen malas berdebat.


Tatapan mereka kala itu membuat karyawan lain seperti nyamuk. Berbalik arah dan membiarkan Milen dan big boss bersiteru. Hanya tatapan Alva Muda yang dalam pada Milen, dengan gugup dan berdegup makin kencang.


Alva memberi sweater itu pada Milen. Lalu memintanya untuk pakai pakaian hangat karena tubuhnya pasti dingin.


"Kasian banyak memandangmu karena bajumu terlihat tipis. Temanmu nanti tak berhenti menatapnya. Apa kau bodoh?"


"Kau selalu saja membuat mood ku berubah." ucap Milen menatap buah depannya, dan kini memakai sweater pemberian Alva Muda.


Milen diam kaku dan melihat temannya. Lalu bicara... Aakh... segera menutupinya dengan sweater.


Milen menoleh ke arah Fara. Milen juga memandang sahabat nya kesal.


"Kalian kenapa diam saja sahabat macam apa kalian ini? Pantas kalian diam seperti patung membuatku bingung."

__ADS_1


Milen. Please, kamu kan tahu kita ga bawa barang barang model itu, kita lenggang praktis hanya kamera. Udah coba cari sesuatu tapi bingung.


"Maafkan kami Milen sayang." ucap Fara dan Rani bersamaan.


Milen diam malu di tepian sambil menggosok gosok baju. Badannya yang basah tak ingin melihat kebelakang arah laki laki itu, karena malu.


Setelah awak kapal menjemput jam mereka habis. Kini mereka tiba disebuah kapal menuju paviliun.


Milen bersandar dipojok sementara Alva Muda menghampirinya. Dan saling diam memandang penuh tatapan


"Kamu mau pakai sweater nya Alva ..?" bisik Milen menoleh ke arah sampingnya.


"Tak apa Milen sayang pakai saja. Lebih baik aku kedinginan sedikit, dari pada banyak mata memandangmu melihat seksimu rasanya tak pantas, tidak baik." mereka pun saling memandang hening dan diam untuk pertama kalinya.


Sampai kapal terhenti, kali ini Milen dan Alva Muda berjalan lebih dulu. Lalu bersama Alva Milen di susul, saat jalan langkahnya lebih cepat.


"Kalian duluan lah aku akan kesebrang membeli pakaian mengajak Milen. Kami akan menyusul." ucap Alva Muda menyapa karyawan bawahannya.


"Ayo... sayang, ikut aku!"


Milen pun menuruti sementara Fara dan Fani bersama dengan karyawan pria lain. Mereka meninggalkan tatapan Milen bersama big boss.


Setelah mereka membeli sesuatu baju dan Alva mengeluarkan dompet sedikit basah. Hah ...untung saja atm tak akan berpengaruh dan tak jatuh di laut." Milen kini hanya tersenyum.


Selepas mereka bersiap-siap check out bersama sama mereka pun tiba landing di pesawat, dengan nomor kursi yang telah di sediakan dan sesuai.


Sedang Milen yang sudah lelah ia pun


memejamkan mata duduk bersama Fara. Sedang Fara bersama Satie dan Ran.


Tiba saja. Alva menoleh kode pada Fara untuk pindah duduk agar Milen bersama temannya.

__ADS_1


Milen melirik kebelakang ia pun meminta Alva pindah duduk bersama dengan Ale agar tidak pemborosan.


"Lho ko disini Ra?" Sapa Fani.


"Lihat saja didepan ada yang mau pedekate."


Fara pun berbisik Fani.


"Kenapa ga sama Satie. Bahkan aku sedang mendekati Ran?"


"Tega kamu ya. Aku kan ga suka sama dia semenjak..?"


"Semenjak apa?"


"Apa ya, hoooooam... aku ngantuk, nih."


Saat itupun Milen amat lelah dan tak sengaja bersandar pada bahu Alva, yang ia pikir adalah Diva mantan suaminya, meski dalam mimpi. Setelah lama tertidur Milen membuka matanya, terasa bahu yang amat lebar. Milen pun menoel bahu lebar itu meraba dengan tangannya.


Kenapa lebar rata, ia menatap melirik kesamping dan menatap wajah Alva. Alva pun tersenyum balik. Hingga wajah mereka saling dekat dan menatap dengan tatapan diam Milen yang terbangun, menoel pipinya apa sedang bermimpi.


"Awas jangan bucin pegang-pegang nanti aku sold out karena kehormatanku kamu renggut." sindir Alva.


"Kamu, kenapa di sinii ?"


Milen bangun ternyata tempat duduknya telah berubah. Ia menatap telah duduk di kursi private penerbangan elite, yang mana di depan hanya untuk dua orang saja. Sementara di belakang di batas oleh tirai


"Sudah istrahat lagi saja sayang. Sini pundakku akan aku relakan menjadi bantal empuk untukmu kali ini, sebagai balas budi." Alva tersenyum mendekati Milen. Tapi Milen telah memilih dan bersandar di kaca pesawat.


"Dasar Pria Modus."


"Aku menolong kamu sayang." goda Alva pada Milen.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2