Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Reina Bahagia


__ADS_3

"Tidak benar, sepertinya salah. Pria di foto ini, sudah beberapa kali, supirnya datang membeli kue di toko."


"Benar Ros, bukannya dia bos nya pak Azam, eh mantan mertua."


"Sepertinya bidan Mur, salah. Bisa saja kan, bapak ini punya anak perempuan lain lagi, jadi kita selidiki dulu ya pak."


Perjalanan menuju pulang, membuat Ros dan Sup bingung. Penantian anak mereka yang telah di rawat orang lain, karena Ketidakberdayaan ekonomi mereka, membuat mereka mencari pekerjaan, dan menunggu selama sebulan untuk menebus, siapa sangka mereka terlambat.


"Harusnya dulu kita bilang sama bu Milen, kalau kita kerja karena meninggalkan anak kita di bidan."


"Semua sudah berlalu, tidak ada yang ingin hidup kemiskinan, setidaknya kita tidak mengemis dan mencari simpati pada orang, karena kesulitan kita. Kita sudah bekerja dengan benar, menebus dan kembali. Hanya saja dinas sosial patut disalahkan, tidak menunggu kita kembali."


Ros dan Sup, juga kehilangan jejak ketika petugas dinas menyabotase, jika ia adalah keluarga si bayi, dan memperbolehkan bayi yang mereka beri nama Shila, saat itu dititipkan, memberi keterangan palsu.


Sehingga bayi mereka di adopsi tanpa izin bibi Ros dan pak Sup, layaknya sebagai orangtua kandung.


Perasaan campur aduk, dalam puluhan jam. Mereka menepi di rumah besar, nampak petugas satpam berjaga sekitar lima orang. Hingga dimana, terdapat sebuah mobil pink, melaju ingin masuk ketika gerbang itu terbuka lebar. Bibi Ros dan pak Sup senantiasa melihat dari sebrang rumah, memarkir dan membuka jendela.


"Malam non Shi, non. Shi sudah di tunggu bapak!" ujar satpam.


"Udah tahu gue, ga usah caper deh lo." ketus Shi, dengan pakaian mini berwarna maroon, ia masuk.


Tak begitu lama, terlihat salah satu security pos berkeliling, menyapa pak Sup yang memerhatikan rumah besar.


"Malam pak, sedang apa disini?"


"Eh, maaf pak. Kami bukan orang jahat, hanya saja sedang mencari keberadaan keluarga kami. Kalau boleh tahu, apa benar itu adalah rumah pak Alva?"


"Benar, memang anda siapa. Cari siapa?"


"Begini pak, saya cari putri saya. Namanya Shila, apa ada gadis yang tinggal di sana."


Satpam terdiam beberapa menit, lalu mengatakan jika di dalam tidak ada nama itu, bahkan ada anak satu satunya di dalam sana.


"Enggak ada deh, ada juga anak ang-kat. Ssst, tapi diam diam aja ya, enggak banyak yang tahu juga sih. Namanya non Shi, tapi duh sombong." jelasnya, membuat tatapan bibi Ros terdiam kaku.


'Benarkah dia putri ku?' batin Ros.


Deg.


"Baiklah, makasih ya pak." pamit mereka.


***


Di Berbeda Tempat.


Sementara Reina dalam belasan jam, mereka transit dan karena delay penerbangan terakhir, membuat Kanya dan Bima nampak lelah, tapi raut wajahnya happy.

__ADS_1


Azam kala itu terlihat menelepon, mungkin petinggi bandara, atau sekelas Ceo, menghubungi keberadaan Azam kali ini.


"Terimakasih pak, atas pengertiannya."


Azam menutup telepon, hingga dimana ia senyum pada Reina dan meraih tangan Reina kala istrinya duduk, sementara Bima memeluk duduk disebelah kanan, tertidur, sementara Kanya berbaring dipangkuan bundanya.


"Kamu ada masalah ya?"


"Eum, bukan masalah berat. Kamu enggak perlu khawatir sayang."


"Azam, ayolah! Jangan ada yang sembunyikan dari aku. Please."


"Hm .. Ceo, pak Carlo, memberi selamat. Dia tahu kalau aku baru menikah, jadi setelah kita sampai, aku diberi cuti dua hari, katanya bonus kado pernikahan, untuk hone.. Untuk kita berliburan." ujarnya, yang hampir keceplosan bicara Honeymoon.


"Syukurlah, kamu pasti lelah Zam."


"Lelah, tapi ada kamu dan anak anak. Aku gak akan kelelahan." senyuman Azam mengelus pipi Reina.


Di Suatu Tempat.


Sebuah koper telah sampai, dimana kedua anak anak Reina berhamburan antusias bahagia.


"Bima, Kanya. Hati hati nak!"


"Iya bunda .. Kami senang banget soalnya." teriak Bima, yang berlari mengejar sang adik.


"Zam, serius kamu tinggal di sini?"


"Eum, aset kantor. Selagi aku masih menjadi pilot, apa kamu mau kita menetap disini. Biar aku lebih giat membelinya."


"Azam, kamu berlebihan. Terlalu jauh, tapi lihat saja danau Bern terlihat indah."


Kedua anak anak Reina antusias, kala jamuan pelayan membawakan makanan khusus. Dimana memang stok selama satu minggu, dan yang dibutuhkan akan tercukupi untuk Reina dan kedua anak anaknya, ketika Azam betugas kerja. Maka rasanya jika bekerja ditemani, setidaknya ia akan bertemu keluarganya hanya hitungan belasan jam, setidaknya dua hari sekali mereka bertemu.


Terlihat kedua anak anak bermain, ngemil dengan berlari lari mengitari meja makan, nampak raut bahagia terpancar. Kini Azam saling berpandangan, membalikan badan Reina, dimana Azam memeluk erat memandangi Danau Bern.


"Danau nya indah, tapi jangan sekali kali berenang. Aku tahu, kamu tidak pandai berenang, jadi cukup dipandangi saja ya!"


"Heum. Kamu masih saja ingat, kalau aku tidak bisa berenang."


Antusias, Azam yang hangat memeluk Reina, saling memandang dan hanyut, dimana Azam amat erat, menyusuri jenjang leher Reina mengeratkan remasan pelukan itu.


"Ayah .."


"Bunda .." teriakan kedua anak anaknya, yang terdengar, membuat hasrat azam padam.


Reina pun melepas pegangan erat Azam, membalikan badan dan salah tingkah berjongkok.

__ADS_1


"Hai, sayang. Ada apa?"


"Ayah, Bunda. Ayo kita naik!"


"Oh, maafkan ayah sayang. Ayo kita naik, bersama bunda. Kita lihat kamar kalian ya." di anggukan Bima dan Kanya.


Azam nampak melirik, dimana wajah Reina semu pink merona. Menghilangkan gugupnya, meraih tangan Kanya untuk lebih dulu masuk.


"Selamat datang pak Azam." sambutan pelayan, setelah itu memberikan kunci dan pamit.


Beberapa jam kemudian, Kanya dan Bima mandi air hangat, makan, menonton acara spesial tayangan anak anak.


Reina yang merapihkan pakaian, terlihat di kamar kedua, Kanya dan Bima dibacakan dongeng, hingga terlihat mengantuk.


'Terimakasih sudah buat anak anak bahagia Zam.' batin Reina, memandanginya.


Reina pun bergegas, membuka kamar utama, dimana ia ingin memberi kejutan. Tentunya momen dirinya melepas, dimana dirinya adalah istri dari Azam kekasih yang selalu ada dihatinya, yang kini telah bersatu.


Tap..


Tap..


Langkah pintu kamar utama terbuka, suara langkah kaki dan tangan menutup kunci, setelah pandangannya tertuju pada lilin menyala dan bunga merah, Azam dibuat terkejut akan pemandangan di kamarnya ini.


Seorang wanita, memakai lingerie maroon menyala, membuat Azam, bertambah On.


Azam meraih tangan lentik itu, menyusupi dari ujung jari tangan, hingga ke jenjang leher yang terlihat indah.


"Ren, kamu membuat semua ini. Apa kamu siap?"


"Aku tidak tahu bagaimana aku harus berterimakasih padamu Azam, tapi setidaknya aku istri sah mu, kamu berhak atas diriku, dan sebaliknya."


Azam membalikan tubuh Reina, sehingga mereka saling memandang, dimana mengangkat dagu Reina, dengan kecupan kering hingga banjir.


Dimana Azam satu persatu tiap inci menjajahi Reina, seolah tidak pernah ingin terlewatkan, terlebih suatu pemanasan membuat Reina berdesir hebat, dan perlahan Azam semakin buas dan dalam, membuat Reina menutup suara, agar kamar sebelahnya tidak terusik.


Ah.


"Cup! Terimakasih sayang."


Dengan nafas yang berat, tak beraturan. Reina menatap Azam, membalasnya dalam pelukan hangat, saling berbisik dan berbicara setelah mereka melakukan ritual panas, apalagi ketika Reina menutup mata mengigit bibirnya saat Azam mengeluarkan sebuah pusakanya.


'Anak anak sudah tidur kan?' bisik Azam.


'Heum .. Ini sudah larut, mereka tidak akan terbangun. Jadi fokus saja pada keinginan kamu Azam, kamu berhak atas diriku.' bisik Reina, yang kala itu menahan tangis.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2