Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Ancaman Roy


__ADS_3

Perlahan Milen fokus, setelah mengikuti arwah wanita yang berada di leher pria beberapa saat lalu. Milen pingsan, namun raganya menatap aksi pembunuhan wanita berseragam bank.


"Aku minta maaf! mas, aku janji tidak akan memintamu menikahi ku. Tapi aku mohon, tanggung jawab pada anak dalam kandunganku ini!" ujar arwah wanita itu.


"Aku bilang! gugurkan. Aku tidak siap Sina."


Milen melihat pergulatan, perdebatan. Hingga tak mengapa, pria itu mendorongnya dan menancapkan sebuah gunting menembus jantungnya. Milen yang melihat hari terakhir wanita itu, sedikit berteriak.


Begitu sadis pria itu membawa wanita itu kebelakang gudang rumahnya! tepatnya, pintu mirip jendela itu terbuka dengan sebuah tombol. Disanalah wanita itu di masukan ke dalam peti, dan di kubur hidup hidup.


Milen kembali ke jiwanya, ia menghubungi Brian saat itu. Tapi karena tak ada balasan, Milen bergegas mencari bukti dan mampir ke kantor polisi untuk membawa laporan.


Tapi saat di perjalanan ia berpapasan dengan pria itu, yakni pelaku yang membunuh wanita bernama Sina. Terlihat wajah Sina menatapnya di leher pria itu, seolah tak ingin lepas.


"Hey! jaga matamu, apa yang kau lihat?" ujar pria sangar.


"Maaf, tapi saya melihat wanita di pundak abang! apa setiap hari anda jalan sakit?" tanya Milen spontan.


"Omong kosong! kau pergi dari sini! Jika tidak, aku bunuh kau!" ancam pria itu, membuat Milen kembali pergi dengan cepat. Sebab rasanya tak aman, jika ia mencari bukti seorang diri, maka Milen putuskan untuk pulang.

__ADS_1


Di pagi hari, seperti biasanya Milen datang ke rumah pelaku lebih pagi. Gadis itu masih setia menunggu arwah Sina, yang tidak kunjung menampakkan dirinya. Sekarang Milen berdiri di depan garis polisi bersama dengan Brian yang juga menyorot layu, tempat dimana wanita hilang itu terbaring dan berlumuran darah.


Tidak begitu lama, seorang lelaki berdiri tepat di sisi Milen. Ia juga menyorot tempat korban terbaring berlumuran darah. Milen menoleh pada sosok yang berada di sisinya, yakni pak Diva yang sedang mengitari area rumah itu dengan anjing pelacak.


“Ternyata rumor itu benar. Tersangka pembunuhan bakalan datang ke tkp.” menyorot sinis lelaki yang berada di sisinya. Pemuda itu adalah Roy.


Roy tersenyum miring melihat tingkah Milen, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Milen berjalan untuk menjauhi Roy, perasaannya masih bercampur aduk jika melihatnya. Masalah yang Milen alami selalu sama ketika ia menyelesaikan masalah arwah yang ia bantu. Milen juga sering kali menerima fakta sebenarnya terlebih dahulu lalu memikirkan cara memberitahukannya pada yang berwenang.


Cara Milen memberitahukan kemampuannya pada polisi, adalah cara terburuk yang Milen lakukan. Karena selama ini Milen tidak pernah memakai cara itu. Tadi malam Milen sangat putus asa karena yang menjadi korban adalah orang terdekatnya, yakni Sina pegawai bank yang baik hati sebelah rumah meski beda Rt.


“Mil, kenapa kamu yakin banget kalau aku pelakunya?” tanya Roy. Suara Roy menggema di lorong lantai satu yang masih kosong.


Roy mengedipkan matanya beberapa kali. Pemuda itu agak terkejut mendengar pertanyaan Milen. “Kenapa kamu bisa bilang gitu? Jangan-jangan kamu beneran teman dekat Sina.”


“Bukan, aku tidak kenal Sina.” Milen menyanggah. Memang benar Milen tidak mengenal Sina sebelumnya.


Ia bertanya, “Terus kenapa kamu bisa nanya gitu?” ujar Riy, yang telah terbogol.

__ADS_1


“Sina datang, kamu lupa aku selalu bilang lihat seorang wanita di pundak lehermu! yang kamu lalui sakit, itu karena arwah Sina tidak pernah pergi. Ia tidak tenang, karena kamu menguburnya di balik gudang belakang rumah!"


Milen mengutarakan pendapatnya dengan raut wajah tidak berekspresinya. Milen sangat yakin bahwa Roy, yang membunuh Sina. Semua bukti mengarah pada Roy.


Roy, tercenung sejenak, lalu terkekeh mendengar pernyataan Milen. “Wah! Kamu udah kaya detektif aja.”


Roy menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia kagum dengan kepekaan Milen.


“Bisa aja omongan kamu benar, tapi hati-hati dengan opini kamu itu Milen.”


Roy tersenyum seraya berjalan mendekati Milen, ia mengelus pucuk kepala Milen. “Pola pikir dan sikap kamu itu mirip banget dengan Sina, tapi jika salah aku tuntut kau." ancam Roy pada Milen.


Dont touch Me!!


Milen bergeming, tetapi netranya mengikuti arah Roy, berjalan menaiki anak tangga. Milen sekarang sangat bingung dengan sikap pria pembunuh berdarah dingin itu. Sekilas Roy, terlihat seperti anak yang tidak mungkin tega membunuh orang lain.


Milen mencoba fokus, entah kenapa di saat kasus ini. Arwah Sina tidak menampaki, Brian memegang tangan Milen. Jika apa yang ia lihat benar, dan tidak menjadi boomerang.


"Brian! gimana kalau seluruh polisi gak dapat temuan yang aku lihat di rumah ini?"

__ADS_1


"Yakin polisi akan menemukannya, jika tidak pun aku akan ada di sisimu, memastikan kamu tidak masuk penjara karena tuduhan Roy." ujar Brian menenangkan.


TBC.


__ADS_2