
Melin yang di hampiri Jeha, seorang pria yang menduga Melin adalah orang yang akan ikut campur, di hampiri Miracle kakak dari arwah Bunga. Segera menggebrak meja Milen dan Brian.
"Lo kan, yang kasih tau semuanya?" unjuk Jeha.
"Eh, apa maksudnya unjuk unjuk sama cewe. Ga sopan loh, sini satu lawan satu." sentag Brian kala Milen di kecam pria bringas.
"Brian, udah! ini kantin,"
"Jangan banyak baaacoooueet! Plaak!" Jeha menampar Milen.
Tamparan itu, kilat membuat Brian membogem mentah mentah berkali kali pada pria bernama Jeha. Seluruh kantin ricuh, hingga akhirnya pak Diva datang dan meringkus seluruhnya. Termasuk pria bernama Jeha dan Miracle, hingga akhirnya seorang polisi satu lagi datang, membawa ibu Mina yang berada di kursi roda menatap Melin dengan hembusan angin senyuman.
Melin ikut senyum, ia tahu jika sosok ibu paruh baya itu mengungkapkan rasa terimakasih, Melin pun mengikuti arahan pak Diva. Selama beberapa saat motif pun diungkap, dan ini adalah hal kasus terpanjang Melin bersama Brian, sampai ia lambat mengunjungi kota S.
Waktu berjalan, dua arwah wanita tersebut berterima kasih pada Milen. Milen pun pamit untuk pulang, karena sudah sore.
Yakni motif arwah sarah adalah mantan Jeha, kakak kelas Bunga, dan Bunga sebelum kecelakaan ia tertabrak truk, dan Jeha takut motif kekasihnya ketahuan, sehingga ia mengubur hidup hidup jasad Bunga kedalam selokan dengan gundukan dua karung pasir, saat Bunga berdarah masih bernyawa. Sementara Miracle membersihkan jalan membantu Jeha, motifnya adalah ia menyukai Jeha dan membenci Bunga adik tirinya itu.
"Gila ya, parah banget kasus ini. Lihat deh, belum satu jam udah trending." ujar Brian, memegang tangan Melin.
Melin melepas erat tangan Brian, lalu Brian meminta Melin diam sebentar saja.
"Sebentar, begini terlihat baik. Setidaknya gue udah balas pria yang udah berkali kali nampar lo Melin." senyum Brian, memberikan kapas dengan obat merah, ke pipi Melin yang perih.
"Ya, lain kali jangan pukul kepancing emosi. Bagus tadi pa Diva bela, kalau enggak kena pasal juga kan."
"Siap bos." senyum Brian, membuat moody Melin kembali naik.
"Brian, besok kita ke kota S ya! gue rindu nenek. Semoga aja ga ada arwah datang lagi, makin lama yang ada."
__ADS_1
"Ok, bener juga. Kadang lelah juga ya, udah kaya detektif hantu kita ini, liat aja komentar netizen. Sebagian ada yang percaya, sebagian lagi bilang kita konyol. Eh ada lagi nih yang bilang kita dukun." gelak tawa Brian, memperlihatkan ponselnya.
Melin terdiam sejenak, lalu menanyakan sesuatu yang ia pikirkan.
“Lo pernah punya konflik dengan seseorang ga?”
Brian mengingat kembali seluruh ingatannya yang terjadi saat ia masih hidup. Cukup lama, Brian pun menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah, tapi gue pernah ngomong ke Mirah. Kalau gue harus pergi dari sekolah ini karena sains 2-1 tidak ada yang bersahabat. Gue pernah pukul satu anak, yang salah sasaran karena gue pikir dia lecehin Mirah."
Hal itu membuat raut wajah Melin, tidak bersahabat karena tipekal Brian, memang melindungi seorang wanita bukan hanya padanya saja.
Oh. Melin mengangguk mengerti. “Pasti kamu tidak dengerin omongan dia kan?” tanya Melin. Brian pun, mengangguk menanggapi.
“Udah sampe rumah, lo pulang aja.” Melin mengingatkan.
"Ok, hati hati. Besok pagi gue ke rumah lo lagi, sekalian bawain sarapan! trus, kalau ada sesuatu yang lo perluin. Kabarin ya!" senyum Brian, dan pamit.
Melin yang ingin masuk ke rumah, ia segera menautkan pandangannya. Kala arwah Mirah berdiri di balik pohon samping rumahnya.
Mirah mengangguk. “Aku ini arwah, Arwah. Sayangnya Brian tidak bisa melihat aku.”
Milen baru tersadar, ia lupa bahwa Mirah sudah mati bersama pak Kola, sosok Brian sendiri hanya sedikit peka tapi tidak indigo sepertinya
Milen dan Brian berpisah. Milen berjalan menuju rumahnya. Di perjalanan menuju kerumahnya, netranya dia menangkap seorang lelaki seumuran dengannya. Lehernya di gelantungi oleh wanita yang memakai baju kantoran.
Setengah wajahnya rusak seperti habis bergesekan dengan aspal. Darah segar mengalir begitu saja dari sebelah wajah wanita tersebut. Aura merah mengitari wanita tersebut. Mungkin ia di bunuh oleh lelaki tersebut.
Menyeramkan….. manusia. Hati terdalam Melin berbisik kala menutup mata seolah konsen. Memang sejak dulu, Milen tidak hanya melihat arwah yang sudah mati karena sakit atau yang lainnya. Tetapi juga karena dibunuh oleh manusia lain.
Mungkin arwah wanita tadi, belum di kuburkan dengan benar dan hanya lelaki tadi yang tau letaknya. Ada pula yang tidak dapat pergi karena pesan yang ingin disampaikan belum terealisasikan, atau waktu meninggal yang belum genap empat puluh hari. Dan kali ini sampai di rumah, ia melihat arwah Mirah datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Bantu aku Milen, aku hanya ingin bilang maaf pada Brian! aku telah menyakitinya, dan sepertinya dia menyukai wanita lain. Aku ingin menemuinya terakhir kali, untuk berpamitan." ujar arwah Mirah.
Hanna tak jadi masuk, ia mengayuh sepeda dan arwah Mirah itu terbang mengikuti Milen. Dalam lima belas menit, ia sampai. Membiarkan arwah Mirah masuk ke dalam rumah Brian. Sementara Milen menangkap seorang pria yang ia lihat beberapa jam lalu, sebelum Brian mengantarnya pulang.
Milen mengikuti lelaki yang sedang di gelantungi oleh wanita tersebut. Tujuannya hanya lah membantu arwah yang mengikuti lelaki itu. Hingga tiba-tiba di sebuah rumah yang cukup besar, lalu masuk ke dalam rumah tersebut.
Tidak terasa malam sudah datang, Milen melewati jam sore dan beruntung ia tidak menemukan roh-roh agresif yang mendekatinya. Milen berdiri dan melompat-lompat di depan pagar rumah lelaki tersebut.
“Milen, kenapa kamu disini?”
Suara seseorang yang cukup familiar terdengar. Milen menengok ke asal suara, ia melihat pak Pak Jo yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada dengan raut penuh dengan tanda tanya.
“Hmmm,” gumam Milen, ia sedang mencari alasan. Karena jika ia memberitahukan yang sebenarnya pada Pak Jo. Pemuda itu akan mengadukannya pada sang Rt.
“Kamu mengikuti arwah gentayangan lagi ya?” tanya Pak Jo curiga.
"Enggak, kayaknya benda terjatuh. Soalnya tadi lewat sini, aku sama Brian lempar lempar gelang, terpental ke arah pekarangan rumah ini." alasan Milen.
“Kamu ini emang tidak ada kapoknya ya? Udah sakit, masih mau bantu mereka.”
“Mereka lebih baik dari manusia,” sergah Milen.
Pak Jo terperangah mendengar perkataan Milen dan berlalu pergi ke arah rumah Brian.
Mungkin karena kemampuan psikometrinya, dia jadi begini. Apa dia tidak sadar, dia itu udah kayak dukun? Pak Jo menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang menatap gadis bernama Milen. Jujur ia tidak mempercayai arwah penasaran.
Sementara Milen, sampai di rumah Brian. Ia mengangkat sepedanya berusaha pulang. Tapi ia melihat suara berisik dari dalam rumah Brian.
Praaang!!
__ADS_1
Suara aneh, pada rumah Brian. Membuat Milen segera masuk dan mencari tahu.
Tbc.