Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Menuju Rumah Korban


__ADS_3

Arwah tak kasat itu pun akhirnya hilang, Melin dan Brian pun kembali pada misi masing masing. Sehingga tidak ada satupun membuat Brian ke sekolah untuk melapor atas kasus siswi dua tahu lalu, ia berada di selokan dan ditanam oleh orang dengan semen sehingga tak terlacak kematiannya.


Sementara Melin sampai di rumah tua, ia benar melihat seorang ibu tua sedang meratapi sebuah foto. Melin juga mengetuk bel, terlihat seorang perempuan menyoroti matanya agak tajam.


"Kamu siapa?"


"Siang bu. Aku Melin! mau bertemu ibu Mina."


"Mau apa, ada keperluan apa?" ujar Miracle.


Melin tahu, dia adalah Miracle karena arwah Bunga memberitahunya. Melin senyum berbaik hati, lalu dengan meminta Miracle tenang, ia telah memberitahu polisi Diva untuk mengecek di area sekolah tersebut. Saat Melin menceritakan, Miracle jatuh ketakutan. Kenapa bisa ada orang yang tahu, disaat kejadian itu.


"Kamu tahu darimana?"


"Tuhan memberikan tahu, seburuk buruknya kamu menyimpan bangkai! pasti ketahuan. Lebih baik kamu akui saja, kasian ibu Mina." ujar Melin yang meminta gadis itu jujur tak mau memanggil ibu Mina. Tapi Miracle menutup gerbang, mengusir Melin dari rumahnya.

__ADS_1


“Bunga, sebenarnya siapa yang coba masuk ke raga kamu?” tanya Melin khawatir.


Hantu Bunga terdiam, ia menatap Melin tanpa mengucapkan apapun. Melin belum tau fakta kematian. Mungkin jika ia mengetahui fakta tersebut, ia akan lebih mudah menerka.


"Aku melihat dia di bangku taman, persis dekat kelas kosong di belakang sekolah. Awalnya aku membaca buku. Tapi makin aneh, dia datang bilang dia juga suka membaca di sekolah yang sama. Awalnya aku kira dia murid, tapi ternyata dia bukan murid yang nyata." ujar arwah Bunga.


Menarik sekali sih, genius, pemilik kemampuan, bisa melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat juga. Melin tertegun membayangkan kehidupan Bunga yang hidupnya juga indigo diganggu hantu sekolah sejenis lelembut. Gimana cara dia pertahanin sikap cerianya? Padahal dia sendiri pasti sering melihat sesuatu yang jahat. Melin tanpa sadar tersenyum seorang diri membayangkan sosok Bunga. Walaupun Bunga seharusnya masih berada di kelas satu SMA.


Kali ini Melin di ajak ke kamarnya, hanya dengan menutup mata dan berpegang tangan pada arwah Bunga. Benar jika jiwa Melin berada di kantin, sementara Brian menjaga disampingnya dengan membuka kotak blody marry. Tapi aslinya raga Melin, berada di kamar Bunga seolah mencari petunjuk.


Miracle membaringkan tubuhnya tepat di sisi Bunga. Ia menepuk-nepuk kasur yang dinilainya sangat empuk. “Aku pernah ngerasain kasur seempuk ini selama berbulan bulan.”


Walaupun mengatakan hal tersebut, sebenarnya Miracle hanya menerka-nerka keempukan kasur Bunga. Miracle iri dengan milik kepunyaan Bunga, saat itulah Melin diperlihatkan hari terakhir arwah Bunga sebelum kecelakaan di sekolah.


"Wah, kamu terlahir hidup enak Bunga." ujar raga Melin.

__ADS_1


Bunga menggelengkan kepalanya. “Tidak juga, memang kelihatannya mudah, tapi sebenarnya ada susahnya. Tuhan itu adil, tergantung kita gimana mau hadapin ujian darinya.”


Melin terkekeh, Bunga melirik lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Melin, karena suara arwah itu terdengar mengerikan.


“Emang kamu selalu dewasa ya?” tanya Melin.


Bunga menoleh menatap Melin, ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Melin.


“Kamu tidak ada niat, takut sama aku?"


“Untuk apa? kita sama sama mahluk ciptaan juga kan." senyum Melin.


"Menurutmu aku kenapa bisa mati, apa itu takdir akhir aku, Melin?" tanya arwah Bunga.


“Kelalaian? Kamu tuh memaksain kehendak tau enggak? Aku kan udah bilang, kamu harus sabar. Aku pasti bakalan menemukan siapa yang membunuh kamu,” Melin spontan menjelaskan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2