Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Suamiku Delay


__ADS_3

Memikirkan orangtua Reina dan Azam, ada satu hal yang membuat mereka mungkin akan berdebar dan terjadi konflik kecil atau besar, yakni.


Tampak gagahnya pria setelan putih dengan celana hitam dop, dengan garis pangkat berwarna emas di bahunya, tampak berjalan gagah tanpa senyum sedikitpun, padahal beberapa pramugari terlihat menyapa.


"Sore Captain." beberapa pramugari, tapi hanya anggukan saja oleh Azam kala itu, bahkan tanpa berkedip seolah datar tidak menanggapi.


"Captain, kamar Mirna kayaknya butuh sedikit Ac di besarkan loh, 080." senyum nya tanpa rasa malu, tapi Azam masih fokus cuek saja jalan tanpa menoleh.


Hingga rekannya Ari seorang FO, yang selalu di samping Azam tertawa, bahkan berkedip melirik pada wajah Mirna, tapi perhatiannya salah sasaran, karena pramugari inginkan sang captain.


FO sendiri singkatan dari First Officer, yang bertugas memberi aba aba, membantu sang pilot di sampingnya.


"Hahaha, apa kau tidak tertarik wajah nya cantik loh Zam?" goda Ari.


"Tidak, hah. Wanita cantik lebih banyak jual murah, tidak secantik hatinya." cercah Azam.


"Astaga, Azam. Uups, captain. Bahkan besok pagi kita kembali terbang, tidakkah malam ini kita bersenang senang ke BAR. Sebagai teman aku khawatir, jika kamu akan beku cairan milik perjaka bolongmu itu."


"Haish, tutup ocehanmu Ari. Ambil saja pramugari yang kamu suka, aku tidak berniat. Sebentar lagi aku mengadakan resepsi, kalian akan termehek mehek, jika aku juga sudah punya anak."


"Astaga, begitu patah hati semua rekanmu. Di mana lagi, Captain yang tampan, idaman para kaum hawa di usia terbilang tidak muda, dan tidak juga tua pada umumnya. Sudah sold out. Kenapa kau diam diam pada sahabatmu ini Azam, jika kamu sudah menikah dan punya anak?"


Azam tidak menjawab, ia say hello pada Ari, karena lantai mereka menginap berbeda. Sehingga Ari hanya menatap sendu, seolah di tinggalkan dirinya saja yang wajah pas pas an, tanpa ada wanita yang mau padanya.


"Malam nanti aku mampir ke kamar ya Captain." ujar Ari berteriak.


"No!" balas Azam, dengan kode tangan melambai tidak.


Begitu pelitnya si captain, jadi penasaran siapa istrinya. Ah! Kesal Ari yang belok ke arah kamarnya.


Azam yang sudah di kamarnya, ia masuk mengunci dengan id cardnya. Masuk ke kamar mandi, di mana rasa gerah dan keringat bercampur, dimana ia menggunakan shower mengucur dari ujung rambut, hingga ke bagian bawah kaki yang membuat Azam nampak gagah, bagaimana tidak bugar atletis Azam, ia sangat perfect bahkan sakin putihnya, warna kulitnya sedikit merah.


Sementara Di tempat lain, Reina terlihat menyuapi kedua anak anaknya, mengajaknya makan bersama, sehingga setelahnya ia meminta kedua anak anak masuk ke kamar lebih dulu.


"Sayang, kalian naik ke kamar bunda duluan ya. Jangan lupa cuci kaki dan gosok gigi!"


"Iya bunda. Kanya boleh nyalakan televisinya kan?"

__ADS_1


"Boleh sayang. Bima, jaga adikmu ya! Ingat jangan main di balkon, berbahaya."


"Siap bunda." senyum Bima, sangat mirip bagai duplikat Azam, hanya saja ia ada lesung pipi seperti dirinya.


Bahkan Reina yang merapihkan piring, berusaha mencucinya sangat takut, ketika anak anaknya tumbuh dewasa amat cepat, dan Reina akan cepat tua kelak.


Dreth.


Ponsel berdering di meja vas, Reina mengelap tangannya dan menatap siapa yang menelponnya.


"Azam .. kamu ..?"


"Sedang apa, aku rindu." ujar Azam, dari video call.


"Setidaknya kamu selesaikan dulu mandinya. Kamu benar benar porn-o."


"Porn-o untuk menggoda istriku, aku lelah. Jadi setelah pulang, mengunci kamar, dan mandi melihat kamu dan anak baik baik saja. Jadi lihat aku sampai selesai mandi ya sayang!"


"Ah, suami nakal Ku. Baiklah aku akan memperhatikan kamu sedang mandi, tapi selesai pakai baju, aku ajak kedua anak anak yang selalu tanya kamu kapan datang."


"Kenapa melamun, jangan berfikir aneh aneh. Aku tahu apa yang ada di pikiran istriku ini, jadi cepatlah tonton suami mu yang sedang mandi ini, tanpa wajah semeraut."


Ha ..


Reina di buat tertawa, sehingga jengkelnya Azam yang mandi mencoba membuat Reina mengigit bibir bawahnya.


"Coba ke bawah lagi?"


"Realy, kamu sedang mengintip ya. Dasar istri nakal."


"Kamu yang ajarkan aku nakal, jadi perintah istri captain, untuk turun 60° aku ingin melihatnya."


Hahaha, tawa Azam yang kilat memperhatikan, lalu dibalut handuk, hingga kameranya ia sejajarkan pada wajahnya kini.


"Puas istriku?"


"Puas sangat."

__ADS_1


"Suamiku sayang, ayo pakai bajumu. Aku akan ke kamar, biar aku tunjukan anak anak sedang apa."


"Ok. Wait, jangan di matikan!"


Azam segera meletakkan ponselnya, dimana Reina mungkin menatap suaminya memakai baju secara terang terangan, dari bulat hingga rapih memakai piyama tidur. Sehingga menyisir dan memakai Cream rambut terlihat amat syahdu, dan nampak sangat gagah.


"Apa kamu sudah makan, sayang?"


"Sudah. Baru saja dengan anak anak. Kamu sendiri bagaimana, ingat jangan makan setengah matang. Jika belum makan, ayo segeralah pesan makan!" ujar Reina, membuat Azam mengangguk senyum.


Anak anak, ayo lihat! Ayah ingin berbicara.


Kanya dan Bima segera berhamburan, dari atas kasur. Lalu Reina memasangkan sebuah ponselnya menyambung ke televisi khusus, sehingga nampak sekali Wajah Azam terlihat jelas. Solusi agar kedua anak anaknya tidak berebut video call.


Dalam beberapa saat mereka nampak saling rindu, dan hal itu membuat Reina dan kedua anak anaknya bahagia sekali, ketika masih satu negara, berbeda jarak yang lumayan, untuk mereka saling rindu, karena sebuah pekerjaan yang membuat Reina harus menahan rindu beberapa hari, mungkin beberapa pekan saja.


Dredth.


Ponsel Azam satunya, sehingga ia membaca nampak diam, dan senyum pada Reina.


"Azam, apa ada masalah?"


"FE alias, Flight Engineer yang memonitor dan mengoperasikan pesawat terlihat nampak di group, mereka bilang. B778 seri 600 sedang operasi ulang, system sedikit terhambat dan terkendala. Itu artinya aku akan delay pulang. A- ku harus berada di istanbul selama satu sampai dua hari, atau mungkin tidak tahu."


Reina terdiam, artinya ia akan berkumpul dengan suami tampannya, sedikit delay.


"Tidak apa, aku menunggumu. Iyakan anak anak?" sedikit kecewa tapi di tampakan senyuman.


"Iya ayah, Bima dan Kanya akan jaga bunda. Ayah hati hati ya!" senyum kedua bocah itu, membuat semangat Azam dan Reina ikut bertambah.


Azam tahu, jika istrinya pasti kecewa. Sungguh berada jarak seperti ibu kota dan malang, membuatnya ingin pulang ke villa bertemu istri dan anak anaknya itu.


'Maafkan aku sayang.' batin Azam, menatap wajah Reina.


Pasalnya ingin sekali ia bertanya soal ayah kandung Reina, tapi ia urungkan nanti saja setelah bertemu lebih baik.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2