Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Dendam Azam


__ADS_3

Saat ini, makan malam dimulai. Dimana Reina terasa aneh, dulu ia amat ingin sekali bertemu siapa ayah kandungnya, tapi kali ini ia yang sedang membuat kopi dari mesin kopi, menatap kedua anak anak bermain dengan Tuan Alva, yakni ayahnya. Membuat Reina enggan dan sedikit bingung.


"Kamu mikirin apa sayang?"


"A-aku. Jujur aku bingung, aneh gak sih. Kalau kamu tidak pernah ngapa ngapain Shi, secara akan mengejutkannya. Jika aku adalah anak papanya juga."


"Astaga! aku sudah pernah bilang, pernikahan aku dan Shi tidak pernah ke kontak fisik."


"Yakin, secara kamu dulu players. Bahkan saat kita backstreet. Kamu ..?"


"Ren, ayolah. Hari bahagia jangan di tuntut curiga terus." bisik Alva, yang membantu Reina saat ini.


Sampai malam pun, Reina merasa lengkap dan bahagia, apalagi esok Azam akan menemani dirinya bertemu sang ibu, dimana Azam juga akan bertemu bu Milen, ibu mertuanya itu. Dan mungkin Reina akan mendapat jawaban, ketika kedua orangtuanya bertemu, apa yang terjadi.


Pagi harinya, ketika Reina tengah sibuk berkutat di dapur, Azam muncul dengan wajah masam. Pasti gara-gara kejadian semalam, tebaknya. Kabarnya, Reina semalam lelah dan tertidur pulas. Mungkin Azam benar-benar sangat menyakitkan. Laki-laki bisa senewen seharian jika hasratnya tidak tersalurkan, terlebih kedua anak anak tidur di kamar semalaman.


Tapi salah Azam sendiri karena sudah memulai semua ini. Jika pria itu bisa sedikit lebih baik dan tidak selalu sinis menatapnya, mungkin Reina juga tidak akan bersikap seperti itu padanya, kesibukan semalam dan kecurigaan telepon manja pada ponsel suaminya, membuat Reina benar benar terbakar dan usil.


“Selamat pagi, suami. Tidur yang nyenyak?”


Wajah tampan Azam memberengut seraya meraih gelas. Ia menuang air dingin dan meminumnya.


Aku menikah denganmu karena ingin mempertahankan keutuhan keluarga, dan saling melengkapi kebahagiaan. Seharusnya begitu pula denganmu. Kita berdua adalah fondasi paling kokoh.


Tak lama kedua anak anak sudah terbangun, dimana Reina menatap intens dan gemas melihat Kanya dan Bima, yang bangun tidur masih mengucek mata.


“Kopi susu spesial untuk suamiku,” ujar Reina dengan senyum manis.


"Terimakasih sayang, oh boy and little girls. Kalian juga sudah bangun?" di anggukan kedua anak itu, yang menatap ayahnya sudah bangun juga, masih menarik selimut.


"Tunggu disini ya, bunda akan ambilkan sesuatu."


"Oke bunda." serentak mereka.


Reina hanya tersenyum, lalu menuang dua gelas jus jeruk. Ia kemudian berbalik untuk mengambil sarapannya sendiri. Piring sarapannya berisi potongan buah kiwi, naga, dan apel. Reina kembali melangkah mendekati kamar dan Azam saat itu duduk di sebelah kedua anak anak, bermain gunting batu kertas.


"Asik sekali rupanya ya, main apa itu?"


"Batu gunting kertas bunda. Kalau yang kalah, nanti sandwich nya buat kita. Ayah biarkan makan kacang kacangan saja, sebab Ayah sudah bulat." ujar Kanya, membuat renyah tawa.

__ADS_1


"Eits, ayah masih keren ini. Siapa yang bilang ayah bulat?"


"Kami. Lihat saja, bulat perut ayah sudah maju. Pipi ayah seperti bakpau, apa ayah terkena angin udara. Di pesawat, apakah ayah selalu terkena angin?" oceh Kanya, membuat Reina terus saja tertawa kecil.


Villa yang mereka tempati ini adalah milik perusahaan Azam, tapi setengah aset milik Tuan Alva, yang Reina pikirkan adalah ... Dan seperti kepribadiannya yang tak ramah, tidak ada asisten rumah tangga yang menetap di sini. Hanya akan ada petugas yang membersihkan tempat ini tiga kali seminggu dan mengisi beberapa bahan makanan di lemari es.


Keputusan untuk tinggal bersama Azam di sini membuat Reina bagai menyerahkan diri ke istana sang pilot, apalagi terlihat kedua anak anak amat sangat senang tinggal disini, dibanding di ibu kota.


"Ya udah, bunda potongin buah buahan untuk kalian ya, sambil tunggu kakek datang siang nanti, jadi kita bermain dulu sebelum mandi, anak anak. Setelah sarapan, lekas mandi ya."


"Iyes."


Kedua anak anak menghabiskan buah dan susu, lalu menatap peluk pada Reina.


"Bunda makasih, kalau gitu Kanya dan Bima mandi dulu ya."


"So sweet, siap sayang. Bunda sebentar menyusul ke kamar kalian ya."


"Oke bunda."


Kedua anak anak Reina berlari ke kamarnya, dimana Kanya mungkin akan bergantian dengan Bima. Atau mungkin salah satunya akan menonton kartun sambil menunggu.


"Iya bunda, Kanya akan siapin baju nya dulu. Sambil lihat Moly."


Moly sendiri adalah peliharaan kucing Kanya, yang dibawa Heru kemarin.


“Bagaimana tidurmu semalam?” bisik Reina, seraya menusuk potongan buah yang menjadi sarapannya dengan garpu, menyuapi Azam juga.


Azam seketika menoleh dan menatapnya tajam. “Kamu sengaja ingin memancing ya, kamu ketiduran melupakan kita yang tertunda saat itu?”


“Ouch .. Ada apa denganmu?” tanya Reina, dengan wajah tanpa dosa.


“Aku kan hanya bertanya. Jangan bertingkah seperti hewan buas yang terluka seperti ini, dong." bisik nakal Reina, kala anak anak tak terlihat dengan pintu setengah terbuka.


Azam berdiri, lalu mengurung Reina dengan kedua lengannya yang menumpu pada tepian meja. Perempuan itu kini tidak bisa menghindar darinya.


“Asal kamu tahu sayang, aku bisa saja mengejar kamu semalam, tapi anak anak! tidak etis rasanya jika terbangun melihat kita ..." desis Azam sambil menatap Reina.


“Aku tahu,” ujar Reina dengan dagu terangkat.

__ADS_1


Azam kagum karena istrinya ini tampak sangat berani. Tak terlihat takut sedikit pun padanya, bahkan semakin hari semakin nakal dan menggoda terus, serasa pengantin baru.


“Tapi aku juga tahu bahwa kamu adalah pria terhormat yang tidak akan melakukan hal serendah itu,” sambung Reina.


“Oh ya?” Azam merunduk hingga wajah mereka sangat dekat. Tangannya menelusuri paha Reina dari balik jubah tidur wanita itu.


“Lihat sekarang, siapa yang memulai lebih dulu,” ujar Reina dengan tubuh menegang waspada.


Sementara di sisi lainnya, tangan Azam terus bergerak ke atas untuk mengusap pahanya. Membuat Reina mati-matian berusaha tetap tenang. Pria ini benar-benar sudah sangat mahir menggoda wanita, karena itu Reina harus bisa melawannya.


Azam pun tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Reina.


“Jangan memancingku lagi. Aku tidak akan menjamin keselamatanmu untuk kali berikutnya, sayang." bisik Azam yang kala itu berdiri, dan mengunci pintu kamar.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?"


"Anak anak pasti sedang mandi, mungkin aku akan membuat perhitungan padamu saat ini."


"Maksudmu?" telisik Reina, seolah Azam penuh dendam karena semalam ia ketiduran.


Azam mendekat, membuat Reina duduk menjambak rambut Azam, dimana Azam sudah menelusuri dan mengikat kedua tangan Reina dengan tangannya, sementara Reina nampak sedikit ter engah engah setengah duduk, di saat Azam sudah menelusuri bagian intinya.


"Bagaimana, rasanya ingin keluar tapi tertahan. Jadi bersiaplah, hampiri anak anak. Aku akan mandi dulu sayang." Azam berdiri tertawa renyah, dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dimana Reina kesal, melempar bantal guling dan pergi ke kamar anak anak.


"Dasar pilot jahat." desis Reina.


"Dan kamu istri nakal yang selalu aku rindu Ren." oceh nya, lalu menutup pintu, dan mengeraskan air keran.


Sial! jadi seperti ini dia membalas karena tertahan tidak bocor.


"Tertahan tidak bocor soal apa nak?" tanya Alva, dan Heru dari belakangnya.


Deg.


Membuat Reina menelan saliva.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2