Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Rencana Shi


__ADS_3

"Tunggu Reina! aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku lagi, tapi satu hal. Mereka anak anakku, aku berhak membuat mereka bahagia. Aku tahu posisimu saat itu, merasa pedih karena ulah keluargaku! tolong. Jangan pisahkan aku dari Bima dan Kanya, karena aku tidak akan berhenti mengakui dan membuat mereka nyaman."


Deg.


Reina terdiam, bahkan kali ini adanya Azam yang berkata puisi, membuat Reina tetep masuk ke dalam taksi. Ia tidak peduli dengan rasa sayangnya yang dahulu, andai Azam tahu dirinya masih sama mencintainya hingga saat ini. Mungkin Azam akan tinggi hati. Bahkan Reina sampai saat ini, masih tidak ingin masa lalunya terulang, tanpa restu.


'Aku sudah cukup sulit sudah dibuang, tapi jika kita bersama itu akan membuat luka mendalam bagi anak anak kita. Bahkan keluargamu sangat berkuasa Azam. Jika kita memaksa bersama, akan banyak hal derita lagi. Bahkan aku menikah denganmu, rasanya ingin sekali aku mendapat senyuman mereka, pernikahan kita tidak sah tanpa restu.' deru Reina bergumam.


Reina yang sudah sampai rumah, kali ini ia dihadapkan dengan kenyataan perih. Reina memberikan beberapa lembar uang, kepada supir taksi. Tak lama seseorang membuat Reina senyum, ke arahnya dengan tangan melambai.


"Sudah pulang! Gimana, anak anak aman. Pulang jam berapa, biar aku jemput Rein, kalau boleh?"


"Mereka setiap pulang ada bus khusus dari sekolah yang antarnya. Diva. Kita jadi ga usah khawatir, kita tunggu saja nanti di depan gerbang, pukul satu siang." jelas Reina.


"Ah! rindu aku sama mereka, jadi ga sabar." senyum Diva, membuat Reina ikut melirik mata gemas.


Reina meletakkan bahan bahan kue, dimana Diva ikut membantu dan menatap Reina tanpa sedetik terlewat. Anggun dan sosok mandiri Reina, tak pernah berubah di mata Diva.


Sementara kala itu, Reina telah mencuci tangan dan memakai celemek. Hal itu membuat Reina tampil kece, ketika Diva ikut memakai celemek, dan memakai sarung tangan plastik.

__ADS_1


"Wah, kalau pakai celemek seperti ini. Kamu ingat ga sih Ren, kita satu jurusan tata boga. Membuat pancake gosong?" senyum Diva, dengan lirikan Reina yang tersenyum.


"Iya, kalau aku ingat itu. Aku malu seumur hidup, tapi kamu tahu Diva. Bahkan aku bisa buat pancake durian terenak, kamu mau coba buatan aku?"


"Realy. Aku ga percaya, sebelum kamu buktikan." Diva menggoda.


Senyuman Reina terdengar renyah, di kala dapur mereka membuat bahan kue untuk dijual di toko, garasi rumahnya, ada hal yang membuat Diva kagum saat itu, yakni senyuman Reina bisa setegar ini di masa apa yang ia lewati. Diva sendiri merasa ingin memiliki dan melindungi Reina dan kedua anak anaknya, selain rasa sayangnya yang tak pernah pudar. Rasa cinta Diva, pada anak anak Reina juga sama seperti ia menyayangi Reina dari dulu, meski ia tidak tahu apakah ia akan dipersatukan oleh takdir atau hanya sebatas menjaga layaknya saudara.


Beberapa jam mereka berkutat di dapur, Reina mulai menata kue dengan banyaknya mika penutup kue agar rapat, bahkan toko kue Reina kali ini, meski di depan rumah terbilang enak, dan murah. Hal itu tak banyak Reina kelelahan yang bahagia, karena setiap harinya selalu habis.


"Non, ada titipan dari bu Rt. Katanya pesan kue seribu pcs untuk minggu depan. Gimana, di ambil enggak ya?"


"Maaf aku potong Ren! Aku bisa bantu, kebetulan aku ada dua temanku yang mahir dalam buat kue, mau pekerjakan dia freelance."


"Serius, Diva. Kamu lagi lagi membuat aku berhutang budi. Oke! tq ya Div. Oh ya bi, kita terima aja. Nanti setelah ini selesai, Reina hubungi bu Mimwar. ( Ibu Rt )."


"Iya Non." senyum bibi Ros, membuat Reina mengangguk, masih mengaduk adonan dibantu Diva.


***

__ADS_1


Sementara Azam, kali ini ia tak bisa ke tempat Reina. Belum lagi penerbangan pekerjaannya membuat ia tidak punya waktu. Bahkan sebentar lagi ia akan resign, dimana posisinya itu karena keluarga Shi.


Tlith!


[ Gimana, sudah dapat alamat ibu Milen, kau harus lebih cepat cari sampai dapat seminggu ini! ] lewat ponsel, Azam memerintah.


Azam rasanya tak sabar, menemui ibu Milen. Ia benar benar ingin berjuang melawan keadaan, menebus kehidupan Reina yang terbuang karena dirinya yang tidak bertanggung jawab. Sekaligus memberikan sebuah check, kerugian ruko usaha catering ayah Reina yang kebakaran, karena ulah Jing sang ibu.


"Reina, tunggu aku. Aku akan berjuang membuat kita bersama, sekeras batu pun aku tidak akan berubah, apalagi menyerah mendapatkan mu." lirih Azam, lalu memakai topi pilotnya.


Layaknya seorang pilot, membuat Azam berjalan lurus tanpa tatapan lirikan pada wanita yang kagum, melihatnya di sebrang sana.


"Azam." teriak seorang wanita membuat Azam, melirik dan malas kala dia datang lagi lagi ke tempat ia kerja.


"Azam, kamu masih punya waktu kan. Aku mohon! kasih aku waktu kesempatan, ada yang ingin aku katakan padamu. Ini penting!"


"Shi, sepenting apa. Kamu bisa bicara di rumah, penerbangan sebentar lagi. Tidak ada pilot yang datang terlambat, sementara penumpang sudah berada di tempatnya." cetusnya, datar membuat Shi terdiam kesal, lagi lagi Azam terus mengabaikannya.


'Sekeras kamu abai padaku Azam! aku pasti akan membuat Reina, wanita yang kamu sayangi menyesal. Dia tidak boleh memiliki kamu, sampai kapanpun.' lirih Shi, yang mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2