
Reina saat ini memeluk si kembar, dimana Bima dan Kanya menghapus air matanya ketika memeluk.
"Bunda kok nangis?" tanya Bima.
"Iya nih, bunda dari rumah sakit ya. Bunda sakit apa?" tambah Kanya.
Reina menatap bibi Ros yang baru saja menutup telepon rumah, dimana tidak seharusnya mengajarkan anak anaknya berbohong. Atau mungkin hanya itu saja, yang ada di pikiran sang bibi. Reina berjanji, tidak akan sekali lagi berbohong pada kedua anak anaknya itu, hanya saja ia bingung mengatakan kebenarannya hari ini ia hilang, karena seusia kedua anak anaknya, belum sampai dan akan sedih jika mereka tahu, bundanya ke kantor polisi dan sempat jadi tontonan tetangga.
"Bunda hanya jenguk temen sayang, bunda Rindu sama kalian. Kita bobo bareng ya malam ini!" elus pipi kedua anaknya itu.
"Bi, makasih ya. Reina ke atas dulu!"
Dalam kamar, setelah beberapa saat kedua anak anak ada di kamar bundanya, Reina bertanya apakah anak anak akan memakai kamar mandi, tapi jawaban mereka diam. Ia meminta anak anak menonton kartun di kamar, bahkan AC dinyalakan dan membuat kedua anak anak mereka senyaman mungkin.
"Bunda, ayah Azam kapan pulang?"
Deg.
Pertanyaan Kanya, membuat Reina lupa dirinya sudah bersuami. Ah! Rasanya, Reina memang harus berinteraksi lebih dekat, melupakan dendam meski pahit.
"Ayah Azam, bekerja sayang. Lain kali kita ke tempat Ayah bekerja mau, kita menginap?"
"Bener ya bun. Mau ... Mau banget Kanya."
"Iya bunda. Bima juga." memeluk.
"Ya udah, kalian diam disini. Bunda bersih bersih dulu ya."
Kedua anak anak mengangguk, dimana Reina meletakkan ponsel dan tas sekecil dompet di meja rias. Bahkan mencopot anting, cincin pernikahan kilatnya dengan Azam.
"Bunda kenapa di lepas?" telisik Kanya, yang kepo, membuat Reina di meja rias diam mematung.
"Iya, bukannya cincin pernikahan itu sakral, pamali kalau di copot gitu. Bunda lagi enggak marahan kan sama Ayah Azam?" tambah Bima, mendekat seolah Reina sedang diceramahi.
"Bunda suka lepas, karena kalau mandi, tangan bunda, jadi licin sayang takut mental. Bunda bakal pakai ini di kalung, mirip liontin. Boleh kan,?" senyum Reina, yang mana kedua anak anaknya benar benar pintar, atau mungkin Reina tidak sadar tontonan sang anak tidak di sortir olehnya, atau kecolongan efek menonton drakor tempo lalu, saat ia tidak bisa tidur, dan kedua anak anaknya bangun ikut menemani.
"Heumph." di anggukan si kembar, membantu sang Bunda mengangkat rambut Reina, saat ini ia memasang kalungnya kembali.
"Sudah bunda. Cantik." kecup Kanya.
__ADS_1
Hingga beberapa saat, dimana tanpa sepengetahuan Reina. Kanya dan Bima mengambil gadget sang bunda.
Setelah memastikan, cincin berada di lehernya. Reina bergegas ke kamar kecil, meninggalkan kedua anak anaknya.
'Dik, kamu awasin bunda di kamar mandi ya! Pastiin bunda lama di sana. Biar kakak cek, kayaknya ada yang sakiti bunda deh.' bisik Bima.
'Iya kak Bima.' senyum Kanya.
Kedua bocah itu satu mengecek ponsel sang bunda, dan mencatatnya. Sementara tugas Kanya, benar benar memastikan sang Bunda tidak melihat aksi mereka yang seperti detektif.
'Ih, kayaknya tante ini suka bikin bunda sedih deh. Masa bilang bunda rebut suaminya. Kan bunda nikah sama Ayah Azam.' intrik Bima, seolah berfikir keras, dimana Kanya mengintip meminta sang kakak cepat menyudahi.
Beberapa puluh menit, mereka pun kembali menonton, Reina membuatkan makanan kecil dan bercerita. Hingga menjelang malam kedua anak anak seperti biasa ia ceria, bahkan dimana kedua anak anaknya kini sudah terlelap tidur, pukul sembilan malam.
"Kali ini kalian tidur di kamar bunda ya?" kecup Reina, bergantian pada kening Bima dan Kanya, lalu menyelimuti dengan pembatas masing masing bantal guling.
Reina yang sedikit lapar, ia turun ke bawah membuat mie instan, dimana saat itu bibi Ros dan pak Sup pergi izin, ke suatu tempat.
"Ehm, baunya enak ini." memotong bagian cabe, dimana ia masukan ke dalam mangkuk.
Namun sesaat Reina memindahkan wajan berisi mie yang sudah matang, ke dalam mangkok. Tiba saja suara langkah, dan koper begitu saja terdengar.
"Azam, ka- kamu. Jangan seperti ini!"
"Jangan menolak Reina! Aku tahu kamu rapuh, jangan menghindar dariku! Jangan sembunyikan apapun, jika Dira tidak menelpon dan bibi angkat telepon, aku bahkan merasa bersalah. Bagaimana apa kamu ada yang terluka?"
"Azam, kamu meninggalkan tugasmu. Jika kamu kebanyakan absen, bagaimana jika atasan memecatmu tidak hormat, karena kamu terlihat malas, melupakan tugasmu?"
Reina menoleh, dimana menatap Azam dengan mata yang dalam. Reina amat bersalah, dimana dirinya di cemburui wanita manapun. Bahkan rasa sakit Reina dahulu, memudar karena kedua anak anaknya, yang tak ingin ia sampai merasakan dirinya di bully tidak punya sosok ayah.
"Apa aku harus bergantung padamu?"
"Aku suamimu Ren, aku berhak tahu dan melindungi mu. Apakah kamu ingin aku balas sesuatu pada Shi?"
"Untuk apa, dendam tidak akan menjadi baik kan?"
"Kalau begitu, kita pindah. Ke rumah dekat danau Jenawa, atau sekitarnya kalau perlu. Agar aku bisa menetap di sana, dan membuat kalian bahagia. Kita temui ibumu, meminta restu untuk resepsi dan ijab ulang. Gimana?"
"Azam, itu terlalu berlebihan." mencoba melepas eratan.
__ADS_1
"Tidak ada yang berlebihan, sekalipun Ibuku melarang. Hidupku adalah kebahagianku, aku pastikan ibuku dan ibumu merestui hubungan pernikahan kita. Aku berjanji, sampai seabad pun, aku berjuang untuk memintamu dari keluargamu. Maafkan sikap ibuku padamu Reina, aku akan meminta maaf pada keluargamu, atas perlakukan ibuku di masa lalu."
Deg.
Reina merasa banyak bermimpi, apakah keputusan ini benar benar terbaik. Dimana tatapan Azam adalah janjinya dahulu.
Ehm.
Terlihat Reina mengambil mangkuk mie, mengambil sendok dan garpu.
"Mau makan bersama?"
Di Anggukan Azam, mereka pun makan mie instan berdua. Dimana setelah itu, ia berusaha mencoba memberi kesempatan pada pria yang ia cintai.
Azam begitu takjub, ketika Reina sudah dipeluk dari belakang, saat menutup pintu kamar. Azam bagai pria yang ingin mengeluarkan sebuah dari sangkarnya, menyentuh jenjang leher Reina yang seputih susu dengan erat dan lembut.
"Kamu mau apa?"
"Aku ingin ..."
Ehm.
"Ayah .. Bunda." teriak Bima, saat Azam menoleh sang anak sedang berdiri mengucek ngucek matanya yang amat kantuk.
Hahaha ... Tawa renyah Reina, menertawakan Azam tapi ditutup oleh tangannya sendiri. Ia tahu karena saat ini, Mood Azam yang tadi naik, pasti sudah meredup.
"Anak anak..?" lirik Azam, menatap Reina.
"Heuump. Mereka di kamar karena lelah, kita tidur bersama." ucap Reina, mendorong koper Azam, berniat merapihkan.
"Ayah ... " tambah teriakan Kanya, yang ikut terbangun.
"Oh, sayang peri dan raja Ayah. Kemari kita peluk!"
Dimana Azam merentangkan kedua tangannya, di saat bersamaan Bima dan Kanya meraih tubuh sosok ayah yang tampan.
"Yeay. Ayah kita pulang." sorak kedua anak anak saat itu, terlihat gembira membuat wajah Reina ikut bahagia melihatnya.
"Masih pukul 03 pagi, kalian ke bangun, pasti karena ayah berisik ya? Maaf ya nak!" lirih Azam kala itu di ekor Reina.
__ADS_1
TBC.